Minggu, 16 Januari 2011

Good bye Washilah

Belum lama menjadi anggota Washilah, ternyata begitu singkat perjalanan di tempat itu. Sekret Washilah yang sederhana dan hebat sekarang tinggal sejarah.      Pertama kali menginjakkan kaki di Washilah terkesan berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Aku kira sekret Washilah punya ruangan yang besar untuk penerbitan dan penyiaran. Saat mencari info letak sekret untuk kumpul anggota baru, aku mengira gedung bercat putih yang tidak jauh dari Masjid adalah sekret Washilah. Ternyata gedung besar itu tidak semuanya sekret Washilah. Sekret washilah hanya sebagian kecil gedung tersebut.
      Gedung itu tidak terlihat terawat, saat masuk suasananya seperti berada di rumah hantu. Aku mencoba menaiki anak tangga sampai ke atas,  melihat kesekitar lantai dua, aku mengambil kesimpulan kalo lantai dua inilah sekretnya Washilah. Ternyata dugaan aku salah, lantai dua ini ternyata terbagi lagi menjadi beberapa ruangan. Salah satu ruangannya barulah sekret Washilah. Pembatas berbahan tripleks dengan pintu masuk yang berbingkai kayu, mulai rapuh termakan rayap. Ruangan berukuran 5x4 m2 terlihat tidak terurus. saat melewati pintu masuk, sangat terasa atmosfer jurnalistik, tempelan koran dimana-mana, papan tulis putih, lukisan karikatur, struktur kepengurusan, dan bingkai foto mantan ketua Washilah terpajang rapi di dinding. Rungan kecil itu terbagi lagi menjadi dua rungan. Lantai yang terlapisi spanduk bekas, Tv kecil, serta dua meja tempat meletakkan komputer dan satunya lagi di letakkan dekat pintu untuk meletakkan Dispenser dan Ricecooker. Satu-satunya lemari arsip tua tempat penyimpanan barang-barang dan koran Washilah yang sudah kadeluarsa, diletakkan di dekat pintu sempit penghubung ke ruang penyiaran.
         Begitulah kondisi Sekret Washilah sebelum di bongkar dan sekarang di pindahkan ke kampus Samata. Tempat sederhana itu sekarang tinggal kenangan. Tempat para jurnalis Washilah bekerja keras membuat berita sekarang tinggal dikenang. Banyak peristiwa suka dan duka tertorehkan di tempat kecil nan sempit itu. namun dari segalah kekuranganya, Sekret Washilah adalah rumah kedua bagi kami. Walaupun belum lama menjadi penghuni Sekret, tapi sedih rasanya saat melihat kondisi Sekret sekarang ini. Semoga tempat yang baru bisa tetap seperti dulu, kami akan mulai mendekor Sekret Washilah baru dengan baik agar semangat jurnalis tetap terasa seperti Sekret yang lama.

2 komentar:

  1. "Semoga tempat yang baru bisa tetap seperti dulu"
    harusnya kau biLang semoga tmpt yg baru jauh lbih baik dibanding yg duLu.

    BalasHapus
  2. Seperti tulisan diatas merupakan tugas sewaktu magang yachh. Asyik, teruslah menulis.

    BalasHapus

Terima Kasih