Sabtu, 08 Januari 2011

On The Way part2

          Tekan tombol kuning di sebelah kanan, naik gas kemudian turunkan perlahan, injak tuas perseneling lalu kembali naikkan gas  perlahan-lahan Si merah melaju pelan. Baru  sebentar melaju terlihat belokan tajam kearah kiri.                                               Pic. Pelabuhan Paotere
Seperti biasa rutinitas ibu-ibu di pinggir lorong sangat seru dan hangat membicarakan obrolan serius seputar masalahnya maupun masalah orang lain. Bibir mereka dibuat basah dengan pembicaraan saling sahut menyahut membagi informasi tiap pagi. Entah apa yang membuat mereka begitu asik sampai-sampai  mereka tidak menghiraukan anak mereka berkeliaran bermain  di tengah jalan yang biasa dilalui kendaraan. Hal ini pula yang membuat aku ragu tiap lewat lorong tersebut.Takut moncong Si merah mencium keras tubuh mungil anak-anak yang sibuk main kejar-kejaran dengan sesamanya. Perlahan bocah-bocah itu lari ke pinggir lorong member jalan karena kaget mendengarkan suara klakson yang sengajah ku keraskan bunyinya. Heran walau sudah kencang-kencang tapi ibu-ibu itu seakan tak mendengarkan suara klaksonku. Belum lama legah telah melewati lorong  tadi masih ada lorong lain yang tidak kalah sulitnya karena jalan yang tak rata. Ada beberapa lorong yang harus aku lalui sebelum  ke jalan yang lebih mulus. Belum lagi keramaian anak SD Cambayya,  satu-satunya SD yang ada di kelurahan Cambayya tempat tinggalku. Siswa-siswa seperti membentuk pagar betis tebal karena berkerumunan jajan jalanan di sekitar pekarangan luar kompleks SD. Sekali lagi aku terbantu dengan adanya klakson, pagar betis tadi seakan terbelah menjadi dua memberi jalan buat aku melaluinya. Akhirnya jalan lurus tanpa belokan, mulus bebas kerikil membuat ban berputar sedikit lebih kencang.  Setiap pagi jalan mulus tadi ramai di penuhi pengendara yang menuju ke Pelabuhan Paotere.
                Pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal tradisional bersandar.  Seperti Sunda kelapa di Jakarta, kegiatan di pelabuhan Paotere juga diramaikan  oleh angkutan barang semen, kelapa dan kegiatan lain di pagi hari. Ini juga pelabuhan yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal kecil membawa orang-orang dari pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan. Yaah jalan tadi  banyak di ramaikan para penjual ikan keliling yang menuju pelabuhan. Mereka mesti cepat ke Pelabuhan Paotere agar dapat ikan segar untuk di jual ke rumah-rumah bisa tahan lama. Melewati batas jalan Sabutung, menyeberangi lalu lintas yang cepat. Para pengemudi yang menuju jalan toll, menuju kawasan KIMA dan berakhir di Mandai menuju Bandara udara Hasanuddin sering sekali ramai di lalui. Tapi setelah melaui itu semua, sensasi kelegahan  sangat membludak aku rasakan. Kelegahan itu juga di barengi dengan indahnya panorama pemandangan di jembatan tinggi melintasi jalan toll yang ada di bawah. Rumah-rumah berjejer rapi  terlihat kecil dengan atap seng karatan, jauh di pandangan terlihat gunung yang samar-samar terlihat karena tertutupi awan. Indahnya pantulan cahaya matahari di awan yang biasanya terlihat putih berubah warna  karena terpantul cahaya matahari menjadi orange. Matahari terlihat gagah  saat perlahan-lahan mulai menjauh di tempat terbitnya.

Cerita sebelumnya  OTW Part 1

2 komentar:

  1. yang belum perna baca part I. klik link paling bawah dari entri

    thanks..

    salam be a writer n saintis

    BalasHapus
  2. jenis tuLisan apa ini, gappa Fiksi iLmiah ji..

    BalasHapus

Terima Kasih