Jumat, 28 Januari 2011

Senioritas sensasi sarat kekerasan


     Silih berganti waktu berjalan, tiap tahun  semua Universitas melaksanakan penerimaan mahasiswa baru. Tiap tahun pula muncul yang namanya stratifikasi yang disebut senioritas. Tapi tiap tahun pula para masyarakat baru kampus memunculkan statement ketakutan terhadap senioritas tersebut. Mengapa statemant demikian bisa muncul? Lantas bagaimana sebenarnya senioritas itu sendiri?.
    Senioritas merupakan bentuk stratifikasin(perbedaan tingkatan) tidak resmi dan tidak memiliki aturan baku disebuah komunitas masyarakat. Jenjang ini terbentuk secara tidak langsung dan penuh kesadaran, demi menghargai keharmonisan sosial itu sendiri ( bagian kontrol sosial ).
    Pada tingkatan perkuliahan stratifikasi ini terbagi dua kelas, pertama senior (suatu tingkatan menempati kelas atas) dan kedua junior (suatu tingkatan menempati kelas bawah). Kedua kelas ini merupakan jenjang jabatan yang pasti ada disetiap mahasiswa, saat proses sandang status sebagai mahasiswa. Namun pertanyaan selanjutnya apakah pentingnya senioritas itu?.
    Jawabannya ia, senioritas itu penting karena inilah agent pembantu junior ketika bertanya tentang wawasan ke kampus. Peran penting ketika sang junior memerlukan bantuan disaat perkuliahan berlangsung, membantu dari segi pengetahuan akademik (peran pembantu selain Dosen), maupun non-akademik (soft skill), dan akhirnya pandangan mengenai senior sebagai hero muncul di mata mahasiswa baru.
    Idealnya sang senior itu adalah contoh panutan bagi junior. Nmun kita lihat, banyak yang terjadi di kampus UIN tercinta ini. Contoh yang dialami para mahasiswa baru tidak mencerminkan “kewibawaan” senioritas yang sejati. Bahkan yang terjadi, para-para senior hanya memperlihatkan tebar sensasi dan suka mempermalukan adik juniornya di depan orang ramai. Baru-baru ini saya mendapati suatu kejadian dimana 15 orang senior memukuli mahasiswa baru dari jurusan lain. Hanya karena persoalan cemburu kepada pacarnya yang bertegur sapa dengan mahasiswa baru tersebut.
    Solidaritas kelompok yang dianut oleh kelompok senior yang menganggap disaat anggotanya merasa tersakiti maka semua ikut merasa, tercampur aduk dengan persepsi salah kapra tentang solidaritas itu sendiri. Tidak mengerti baik mengenai arti solidaritas sebenarnya.  Secara etimologi arti solidaritas adalah kesetiakawanan atau kekompakkan. Dalam bahasa Arab berarti tadhamun (ketetapan dalam hubungan) atau takaful (saling menyempurnakan/melindungi). Pendapat lain mengemukakan bahwa Solidaritas adalah kombinasi atau persetujuan dari seluruh elemen atau individu sebagai sebuah kelompok. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa solidaritas diambil dari kata Solider yang berarti mempunyai atau memperliatkan perasaan bersatu.
Dengan demikian, bila dikaitkan dengan kelompok sosial dapat disimpulkan bahwa Solidaritas adalah: rasa kebersamaan dalam suatu kelompok tertentu yang menyangkut tentang kesetiakawanan dalam mencapai tujuan dan keinginan yang sama.
Wacana solidaritas bersifat kemanusiaan dan mengandung nilai adiluhung (mulia/tinggi), tidaklah aneh kalau solidaritas ini merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Memang mudah mengucapkan kata solidaritas tetapi kenyataannya dalam kehidupan manusia sangat jauh sekali. Dalam ajaran islam solidaritas sangat ditekankan karena Solidaritas salah satu bagian dari nilai Islam yang mengandung nilai kemanusiaan (humanistic). Solidaritas dalam Kelompok Sosial dikemukakan oleh tokoh yang bernama Durkheim.
    Banyak diantara kelompok senior ini ketika tersinggung sedikit saja dengan perilaku junior, maka mereka akan menggerakkan massanya untuk bertindak kepada junior walau apa yang dilakukan junior belum jelas kebenarannya. Main hakim sendiri tanpa mencari akar persoalan sering terjadi dan lagi-lagi junior jadi korban katidak adilan senior. Alasan yang sama selalu terlontar, kalau apa yang mereka perbuat sebagai pelajaran sosial kesenioritasan kepada Mahasiswa baru (MABA). Tapi hasilnya pelajaran kekerasanlah yang tertanam buruk, dendam kepada senior dan kebanyakan ujung-ujungnya dilampiaskan kepada regenerasi selanjutnya ketika menjadi senior pula. Sangat ironis pencitraan ini tidak disadari senior, padahal inilah bomerang bagi senior untuk siap-siap tidak di hargai junior. Untuk hasil yang lebih jauh, yakinlah akan lahir jiwa-jiwa pemberontak baru dari pendidikan penyakit seperti ini. Perbuatan yang tidak berideologi keikhlasan hati junior saat ini, membuat dampak buruk bagi iklim senior dan junior kedepan.
    Menurut Andi Eka Saputra Mahasiswa fakultas ekonomi Riau, ada beberapa hal tujuan lanjutan pendidikan senioritas itu sendiri. Pertama, political Equability ; mengangkat partisipasi masyarakat mahasiswa dalam politik kampus ( demokratisasi ) atas kebijakan kampus, nantinya untuk mahasiswa itu sendiri. Kedua, Local accountability ; meningkatkan tanggung jawab peran senior terhadap hak junior ( panggila nurani ) tentunya dengan pencitraan teladan dan Local Responsibility ; meningkatkan rasa tanggung jawab junior terhadap kepemilikan, kepedulian disetiap apa-apa yang terjadi di kampus.
    Bukannya memojokkan senior, untuk para junior khusus di point ketiga diatas, anda hendaknya menumbuhkan rasa tanggung jawab. Ini sebuah kepedulian anda sebagai mahasiswa baru, saat anda menjadi senior nantinya dan sistem terapan sekarang yang tidak bagus ini perlu dirubah (agent of change). Roda regenerasi terus berputar, kemudian menggantikan para senior yang semakin “punah”. Tunjukkan eksistensi ide andfa nantinya lebih efisien, tepat guna sesuai masa, waktu, trend pengajaran efektif. Makanya jangan apatis, gairahkan pergerakan mahasiswa. Aksi itu lebih baik dari pasif dan cuma komentar saja.

1 komentar:

  1. ahahaa...stuju mbaakkk...saia suka eneg liat seorg senior yg banyak tingkah sama adek tingkat...hehe...follback yah mbak...^^

    BalasHapus

Terima Kasih