Sabtu, 23 April 2011

Bubur Bassang Makanan tradisional Makassar

             Bubur bassang tak asing lagi di telinga kuliner Makassar. Bubur yang berbahan utama jagung dengan kuah santan yang gurih sangat lesat apalagi di sajikan panas. Makanan tradisional ini hampir jarang kita lihat, penjual bassang keliling yang biasa lewat dan mangkal tinggal sedikit. Bubur bassang yang terbuat dari jagung memiliki nilai gizi tinggi.
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.[2].
Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:[3]
  • Kalori : 355 Kalori
  • Protein : 9,2 gr
  • Lemak : 3,9 gr
  • Karbohidrat : 73,7 gr
  • Kalsium : 10 mg
  • Fosfor : 256 mg
  • Ferrum : 2,4 mg
  • Vitamin A : 510 SI
  • Vitamin B1 : 0,38 mg
  • Air : 12 gr
Dan bagian yang dapat dimakan 90 %.
Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak.
Kuah santan juga mempunyai nilai gizi
Minyak dalam santan terdapat dalam bentuk emulsi minyak air dengan protein sebagai stabilisator emulsi. Air sebagai pendispersi dan minyak sebagai fase terdispersi. Di dalam sistim emulsi minyak air, protein membungkus butir-butir minyak dengan suatu lapisan tipis sehingga butir-butir tersebut tidak dapat bergabung menjadi satu fase kontinyu.

Butir-butir minyak dapat bergabung menjadi satu fase kontinyu jika sistem emulsi di pecah dengan jalan merusak protein sebagai pembungkkus butir-butir minyak. Dalam industri makanan, peran santan sangat penting baik sebagai sumber gizi, penambahan aroma, cita rasa , flavour dan perbaikan tekstur bahan pangan hasil olahan.
so...jagan sampai kita lupa dengan makanan yang satu nie lohh

Sabtu, 16 April 2011

Gambar Hewan Porifera

Adocia cinerea
Adreus fascicularis
Axinella damicornis
Axinella subdola
Ciocalypta penicillus
Clathrina coriacea
Cliona celata  
Desmacidon fruticosum
 Dysidea fragilis
Esperiopsis fucorum
Halichondria panicea
Haliclona cinerea
Haliclona oculata


Minggu, 03 April 2011

Catatan Harian Jurnalis Muda : Bertemu JK


          Sabtu,  (02/04) senang sekali karena mendapat kesempatan ikut diskusi terbatas bersama  Jusuf kalla. Diskusi yang di adakan di Ruang Redaksi harian Fajar dihadiri oleh sejumlah tokoh besar dari Sulawesi Selatan (SulSel) . Para rektor Universitas yang ada di  SulSel pun ikut meramaikan acara tersebut. Saya merasa sangat senang karena  Jusuf Kalla adalah salah satu tokoh idola saya. 
         Jusuf Kalla lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara[1] dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis yang memiliki bendera usaha Kalla Group. Bisnis keluarga Kalla tersebut meliputi beberapa kelompok perusahaan di berbagai bidang industri. Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.
             Pengalaman organisasi kemahasiswaan Jusuf Kalla antara lain adalah Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969. Sebelum terjun ke politik, Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini, ia pun masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006.
Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan kemenangan yang diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI yang ke-6, secara otomatis Jusuf Kalla juga berhasil meraih jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang ke-10. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.
              Ia menjabat sebagai ketua umum Partai Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan pengamat politik yang kebanyakan bergelar master, doktor, dan profesor.
Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Jusuf, dan dikaruniai seorang putra dan empat putri, serta sembilan orang cucu.
              Saat ini, melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Pengalaman pertama ini sangat berkesan bagi saya. Walau harus menunggu lama, namun saat-saat menunggu tak terasa dengan memperhatikan para tokoh yang terus berdiskusi kecil dengan pembahasan berat. Syukur banget kanda Agus ketua umum Washilah mengajak ikut diskusi ini. Saya optimis bakalan bertemu lagi dengan Pak JK dan berjabat tangan serta bertatap muka langsung dengan saya. Akan ada banyak lagi tokoh hebat yang akan saya temui. saya juga berharap bisa jadi seperti tokoh-tokoh besar seperti pak JK yang banyak memeberikan sumbangsi bagi banyak orang...amin

Sabtu, 02 April 2011

Mahasiswa dilarang Sakit


              Cuaca  tidak menentu, terkadang  panas terik dan kadang hujan deras.  Semua terjadi tidak diduga-duga sehingga sulit mempersiapkan diri saat hujan turun agar terhindar dari air hujan. Tubuh manusia yang tiap saat beradaptasi dengan lingkungan sulit untuk cepat beradaptasi dengan perubahan cuaca. Daya tahan tubuh tiap orang yang berbeda-beda mengakibatkan penyakit mudah menyerang seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
             Saat seseorang  dalam keadaan tidak sehat, sangat sulit untuk hadir dalam perkuliahan sehingga mahasiswa meminta kepada temannya untuk izin hingga sembuh.  Namun, meminta izin tak semudah seperti di sekolah dulu. Sebagian besar dosen khususnya yang ada di Universitas Islam Negeri (UIN)  Alauddin Makassar tidak menerima alasan sakit dari mahasiswa. “sakit, izin sama saja dengan alfa bagi saya” ujar salah satu dosen. Dosen-dosen tipe seperti ini menganggap mahasiswa sudah semestinya bisa menjaga kesehatannya agar terhindar dari penyakit. “saya belum paham maksud dari dosen yang menganggap sakit itu sama dengan alfa” ujar  salah satu mahasiswa Sains yang tidak setuju dengan keputusan dosen. Mahasiswa menganggap bahwa keputusan dosen seperti ini tidak memiliki alasan yang masuk akal, pasalnya menjaga kesehatan memang tanggung jawab masing-masing mahasiswa tapi tidak bisa  dipungkiri penyakit datang tanpa disegajah.
              Kata-kata mahasiswa dilarang sakit menjadi seruan mahasiswa yang tidak setuju dengan kebijakan dosen yang menganggap mahasiswa mesti tetap hadir tanpa alasan sakit sekali pun. Mahasiswa berharap dosen bias lebih bijaksana dalam mengambil keputusan .Karena sebagian besar kontrak perkuliahan maksimal  tiga kali tidak hadir akan terancam tidak lulus dalam mata kuliah tersebut.



baca juga : Mahasiswa titip Absen
                 Senioritas sensasi Sarat kekerasan

Terima Kasih