Selasa, 14 Juni 2011

Cahaya Para Sastrawan dan Seniman Makassar


Saat pertama kali mendengar acara ini saya membayangkan sebuah pagelaran seni yang ramai bak pagelaran konser modern. Pukul 8 malam tepatnya aku beranjak dari ruang redaksi washilah ke tempat pagelaran. Tidak jauh dari rung redaksi aku mencari suara riuh ramai seperti kebanyak pagelaran. Namun ternyata yang saya dapatkan hanya beberapa obor menerangi tiap sisi di tempat pagelaran. Kaget ketika datang ke kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan menemukan kapal pinisi di tengah lautan Sabtu, (12/06/2011) malam. Banyak lilin di sepanjang pinggir gedung-gedung dan beberapa lampu petronaks yang tak menggunakan listrik.

Dikelilingi oleh obor-obor tersebut di tengah-tengah ada kapal pinisi yang besar dalam lautan. Salah, itu bukan lautan dan bukan juga kapal pinisi sebenarnya, tapi itu adalah desain panggung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA.

UKM eSA mengadakan pementasan seni yang bertema Meniti Cahaya. Hadir seniman, budayawan, dan sastrawan Kota Makassar,  seperti Aslan Abidin, Asdar Muis, Aan Mansur, Aco Dance, Komposer Makassar (Maskur Al-Alim), Jamal di Laga (Gedung Kesenian), Sabri AR. Juga Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) dan Pekerja Seni Kampus sekota Makassar (PSK).

Ditemani lilin, konsep pinisi di tengah kolam, di bawah gemerlap gemintang, dan serasa berada di pinggir pantai, penonton disuguhi berbagai macam pementasan.

Mulai dari tilawah, pembacaan puisi, monolog, gesekan piano dan denting senar gitar, penonton diarak ke sebuah kehidupan masa lalu yang belum mengenal listrik, bahwa seperti inilah kehidupan tersebut.

Terutama ketika Luna Vidia salah seorang seniman besar Makassar memukau penonton dengan monolognya yang berjudul Jalan Kecil Menuju Rumah dan diiringi biola. Komposer Makassar, Maskur. Sampai penonton menitikkan air mata, hening, dan hanya suara Luna yang menyayat.

Menurut Ketua Umum SB eSA, Muhammad Albar menyatakan bahwa konsep dalam kegiatan ini sama sekali tidak menggunakan cahaya listrik. Ini sebagai bentuk gerakan hemat listrik Indonesia dan Makassar.

"Selain itu juga ingin mengingatkan kembali masa-masa lalu bahwa dulu ketika belum ada listrik anak-anak masih mampu membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, namun seiring dengan perkembangan dan ada listrik, anak-anak sekarang berteriak karena tak mampu main play station," kata Albar. (*)





Sumber :Uin Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih