Rabu, 29 Juni 2011

Media televisi? betulan atau bohongan

Semakin banyak stasiun tv bermunculan, tiap bulan program baru tayang. Mulai dari sinetron, talkshow, kuis, program liburan, program memasak, berita dan realitishow.
Sinetron (sinema elektronik) Adalah istilah untuk serial drama sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi. Ada kebanyakan orang tau hanya fiksi belakang ceritanya, namun banyak dari sekian cerita dari sinetron yang membuat alurnya senyata mungkin. mereka banyak. Mengangkat kehidupan yang kebanyakan orang mengalaminya, namun banyak hal dari sinetron yang begitu dibuat-buat dan dipaksakan dari segi  kehidupan masyarakat, sehingga yang niat awal cerita dalam kehidupan nyata diangkat dalam cerita sinetron menjadi terbalik, cerita sinetron buatan sutradara menjadi dibawah-bawah ke kehidupan nyata masyarakat umumnya.
Ketika melodrama di layar televisi mengepung pemirsa, kehidupan nyata kita sebenarnya sedang kehilangan pijakan. Lalu, kita mau apa? Dulu, melodrama muncul dalam sinetron dan telenovela. Biasanya, kisahnya berkutat pada pertentangan antara kebajikan dan kezaliman, ketidakberdayaan dan kesemena-menaan. Hampir selalu ada tokoh teraniaya, dan kita digoda untuk berempati pada kisah hidupnya yang menguras air mata.
Selanjutnya, pendekatan melodrama juga digunakan dalam reality show dan infotainment—yang memenuhi layar kaca sekarang ini. Melalui reality show, pemirsa antara lain disuguhi kisah dramatik perempuan cantik yang dihamili sang pacar, kemudian diusir keluarganya. Di infotainment, kita bisa menonton kisah keretakan rumah tangga, perselingkuhan, hingga perebutan anak yang mengharu biru.
Pendekatan macam ini ternyata menarik perhatian pemirsa dan mendongkrak peringkat (rating) reality show dan infotainment, bahkan mengalahkan sinetron. Acara-acara seperti ini pun terus diproduksi dan direproduksi.
Selanjutnya, demi menemukan kisah-kisah paling dramatik, pembuatnya semakin berani menerobos batas antara ruang privat dan publik

Bahaya Televisi pada program melodrama
Itu sebabnya, dosen Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, ST Sunardi, menilai, pendekatan melodrama sesungguhnya mengandung bahaya besar. Pasalnya, imajinasi yang ditampilkan begitu-begitu saja dan miskin retorika. Padahal, pendekatan dengan imajinasi dan retorika dangkal itu digunakan untuk memotret kehidupan masyarakat nyata.
Apa akibatnya? Orang akan berpikir bahwa masyarakat yang nyata adalah yang ada di dunia melodrama. Hal ini pada akhirnya akan memiskinkan orang untuk melahirkan imajinasi sosial yang sehat. Orang menjadi tidak realistis dan kehilangan pijakan sebab dunia yang ditonton sesungguhnya dunia drama.
Sunardi meminta media massa memberikan pilihan-pilihan pendekatan. ”Jangan hanya menonjolkan yang banal, tetapi juga yang substansial.”.(Jurnal Sunardian)
Salah satu artikel yang saya baca mengemukakan pula mengenai bahaya Media Televisi sekarang ini :
Matikan TV-mu! (Matikan TV anda!) Sunardian WirodonoResist Book, Yogyakarta, Desember, hlm 2005178Televisi adalah medium dengan akses terluas dan termudah untuk masyarakat Indonesia. Ini telah menjadi kebutuhan keluarga, hampir bahkan kebutuhan primer. Hampir semua keluarga dari kota ke desa-desa terpencil memiliki TV.Dengan televisi publik bisa mencapai informasi, mendapatkan pengetahuan ilmiah dan menikmati program yang diinginkan dengan mudah, hanya dengan menekan tombol untuk memilih stasiun TV yang disukai.Matikan TV-mu! (Matikan TV anda!) Oleh Sunardian Wirodono, pada transaksi setidaknya dengan dan mengungkapkan beberapa fakta tentang siaran televisi yang dikemas dengan ilusi, realitas hiper-dan cenderung untuk mengeksploitasi pemirsa TV. Beberapa contoh adalah drama religius, zona permainan, infotainment, reality show dan program kejutan uang.Lebih ironis lagi, berita kriminal di TV sering diskriminatif dan hanya menyoroti dugaan penjahat dengan penampilan mengerikan. Tampaknya seolah-olah pelaku adalah untuk menyalahkan, kemudian polisi tampil sebagai hakim atau pahlawan yang membantu warga. Ini adalah manipulasi set yang membutuhkan tinjauan.Di sisi lain, audisi program seperti AFI, KDI, API dan Indonesian Idol, yang mengandalkan SMS untuk memilih pemenang nya, cenderung materialistis. Menang pada acara seperti berbaring tidak penting pada kualitas, melainkan nilai kuantitatif pesan yang dikirim. Nilai kecerdasan, keterampilan kemampuan, dan profesionalisme tidak lagi diakui.Tak pelak, menyimpulkan Matikan TV-mu!, Paradigma diadopsi dalam bisnis televisi adalah pragmatis, populis dan kapitalis di alam.Paradigma ini menimbulkan penyimpangan dalam industri televisi dari larangan pada program siaran yang mengekspos seksualitas, kekerasan dan fenomena supranatural, sebagaimana diatur dalam Keputusan No 009/SK/KPI/8/2004 dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Acara TV akhirnya memiliki efek buruk pada anak-anak sebagai korban utama mereka, karena ketidakmampuan anak untuk menyaring dan membedakan program bermakna dari yang berarti. Remaja implisit dapat mengembangkan kepribadian pasif karena kurangnya pengetahuan empiris asosiasi.Sementara itu, ibu rumah tangga yang kehilangan identitas mereka karena mereka membiarkan diri mereka kepercayaan diri untuk menjadi terombang-ambing oleh hiburan membingungkan beragam ditawarkan di TV.Sebagai Sunardian menulis, televisi tidak hanya menyediakan ruang bagi kebebasan virtual dan diplomasi, tetapi juga menciptakan kesadaran baru. Bahkan, media massa harus memungkinkan proses belajar lebih intensif norma-norma sosial.Dampaknya, bagaimanapun, bisa negatif, tergantung pada sikap pemirsa terhadap beberapa substansi tertentu yang disajikan. Jadi penonton TV yang harus setidaknya memiliki kapasitas yang memadai penalaran, abstraksi persepsi, dan tawar - tetapi analisis kritis belum ditanamkan dalam masyarakat sejauh ini.Ketika pemirsa diteror oleh televisi, menurut Matikan TV-mu!, Mereka secara tidak langsung sedang diberikan dangkal dan membosankan. Realitas virtual yang dibuat oleh televisi melalui kejahatan, kekerasan dan seksualitas bersama dengan iklan menyebabkan kebanyakan orang untuk mengembangkan statis, pemikiran stagnan dan sempit.Sunardian, dengan kompetensi dan pengalaman dalam industri televisi Indonesia, bermaksud untuk mengkritik melalui stasiun buku tertentu-nya seperti Indosiar, ANTV, RCTI, SCTV, TPI, Metro TV, Global TV, Lativi, Trans TV dan TV-7 untuk kekurangan pendidikan nilai dari beberapa acara mereka, dengan kecenderungan mereka terhadap penipuan dan manipulasi program.Akibatnya, orang menjadi kusam, tidak kritis, apatis, eskapis, terpesona, tidak realistis, pelupa, cenderung berarti mistis dan skeptisisme, sementara meniru gaya hidup hedonistik dan konsumtif.Jika publik yang seharusnya untuk latihan menahan diri, harus berani berhenti menonton dengan mematikan TV sesegera program berharga muncul. Semua acara ditayangkan di TV merupakan realitas simbolik, dan realitas tersebut tidak apa yang terjadi dalam kehidupan aktual kita sehari-hari.Mengandung sistematis, penjelasan analitis dan objektif, Matikan TV-mu! mengundang pembaca dan masyarakat umum untuk merefleksikan signifikansi dan keberadaan televisi di tengah perjuangan rakyat Indonesia untuk bertahan hidup. Ini menunjukkan bahwa penonton TV tidak harus mengambil semua disajikan untuk diberikan, melainkan harus mampu melakukan evaluasi kritis dan objektif sehingga dapat mencegah pertumbuhan teror TV ditimbulkan oleh produsen.Kehadiran televisi telah menjadi teror kehidupan manusia. Teror ini menjadi akut, dengan risiko tinggi menghasilkan efek psikologis negatif yang dapat mengubah karakter dan mentalitas generasi mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih