Sabtu, 09 Juli 2011

Isap Asap Sentral

Kemarin, saya dan adik  pergi untuk membeli perlengkapan persiapan masuk sekolahnya. Kami yang biasanya membeli perlengkapan di Pasar Sentral, sekarang beralih ke tempat lain. Setelah tragedi kebakaran sentral yang terjadi pada tanggal 28 juni yang menghanguskan sejumlah kios  dalam gedung. Kini mereka harus merasakan pedih, setelah harapan bulan ramadhan yang  ramai pembeli. Walau kami telah merencanakan  pindah ke tempat lain untuk membeli kebutuhan sekolah, saya tetap ingin melihat keadaan Pasar Sentral pasca tragedi kebakaran dan alhasil, setelah melihatnya hati saya merasa meringis melihat keadaannya. Terlihat wajah pedagang setelah mengalami musibah, mereka tetap tegar dan mencoba memulainya kembali dengan kios-kios dadakan. Tidak plong rasanya bila saya tidak menanyakan sesuatu pada salah satu korban. Saya berisiatif  membeli jilbab, ternyata penjualnya lebih dahulu curhat sebelum ku tanyai. "sebentar lagi gedung sbelah ini akan ikut terbakar, hingga semuanya rata terbakar" curhat pedagang jilbab dengan tersenyum meringis. Isu itu sudah menakuti semua pemilik kios. Sontak dalam hati saya begitu kecewa pada penguasa negeri ini. Mereka lebih mementingkan kepentingannya dengan saling merangkul bersama pengusaha. Setelah melihat keadaan sentral, saya harap mereka tegar dan ini puisi untuk semua orang
untuk sentral...

Isap Asap Sentral

Kelam sedih
Hanya warna mendung terlihat
Asap debu sisa puingnya bakar hati penghuninya
Terpintas kebahagiaan
Menyambut bulan mulia
Namun...
Asap terlebih dahulu datang dbanding cahayanya
Mereka mengais puing-puing benih ramadhan
Semua terelakkan..
Dengan kolusi, korupsi bagai polusi
Sesakkan nafas mereka
Kini sentral kembali kenang masa lalu
Melapak dan setapak menguatkan niat
Harapan menghawatirkan
Harapan yang tak lama
Tersanding dengan harapan para pengusaha dan penguasa
Dengan harapan megahnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih