Selasa, 09 Agustus 2011

Contoh Laporan Filum Platyhelminthes

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filum Platyhelminthes termasuk seksi Acoelomata, yaitu kelompok hewan yang pertama memperlihatkan pembentukan lapisan dasar ketiga yaitu mesodermis. Adanya mesodermis pada embrio inilah yang memungkinkan terbentuknya sebagian besar sstem organ pada kelompok hewan ini dan pada kelompok-kelompok hewan berikutnya.
Platyhelminthes merupakan cacing yang mempunyai tubuh simetris bilateral, dan tubuhnya pipih secara dorsoventral. Bentuk tubuhnya bervariasi dari yang membentuk pipih memanjang, pita, hingga yang menyerupai daun. Ukuran tubuh bervariasi mulai dari yang tampak mikroskopis beberapa millimeter hingga berukuran panjang belasan meter.
Melalui percobaan ini kita dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai filum platyhelminthes. Mulai dari morfologi, anatomi, habitat hingga klasifikasi hewan yang termasuk filum platyhelminthes yang akan diamati.

B.    Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah:
1.    Mengamati larva-larva trematoda pada stadium cercaria dan redia.
2.    Melaporkan gerakan-gerakan ataupun morfologinya


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Filum Platyhelminthes termasuk seksi Acoelomata, yaitu kelompok hewan yang pertama memperlihatkan pembentukan lapisan dasar ketiga yaitu mesodermis. Adanya mesodermis pada embrio inilah yang memungkinkan terbentuknya sebagian besar sistem organ pada kelompok hewan ini dan pada kelompok-kelompok hewan berikutnya.
Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih maka sering disebut cacing pipih dan merupakan cacing yang mempunyai simetri bilateral. Platyhelminthesmemiliki tubuh lunak dan epidermis bersilia. Cacing pipih merupakan hewan tripoblastik yang tidak mempunyai rongga tubuh (acoelomata).
  Hidup biasanya di air tawar, air laut, dan tanah lembab. Ada pula yang hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Cacing parasit ini mempunyai lapisan kutikula dan silia yang hilang setelah dewasa. Hewan ini mempunyai alat pengisap yang mungkin disertai dengan kait untuk menempel. Cacing pipih belum mempunyai sistem peredaran darah dan sistem pernafasan. Sedangkan sistem pencernaannya tidak sempurna, tanpa anus. Platyhelminthes terbagi dalam 4 kelasberdasarkan struktur tubuhnya, yaitu Kelas Turbellaria (cacing berambut getar), KelasTrematoda (cacing isap), kelas Cestoda (cacing pita) dan kelas Monogenea.
Contoh hewan yang termasuk Turbellaria adalah Planaria, Bipalium, Geoplana. Planaria hidup di air tawar, Bipalium  dan Geoplana hidup di tanah. Kelas Trematoda merupakan hewan yang parasit, tidak mempunyai mata kecuali pada larvanya, tidak bercilia kecuali pada larvanya, mempunyai kutikula mulut di sebelah anterior, farinks tidak berotot, tidak ada anus, usus berbentu garpu, mempunyai pengisap, hermaprodit, mempunyai kelenjar kuning. 
Contoh Fasciola hepatica hewan ini merupakan endoparasit pada hati hewan ternak atau biri-biri. Larva hiduppada kaki siput, mempunyai pengisap anterior dan ventral. Kelas cestoda merupakan hewan hermaprodit, tidak mempunyai alat pencernaan makanan, merupakan hewan endoparasit pada hewan vertebrata, larva pada jaringan otot atau pada ruang tubuh hewan Artropoda, Molusca atau vertebrata, kulit tubuh tidak ada silia tetapi mengandung kutikula dan tubuh terdiri dari kepala (scolex), leher dan strobila yang berbuku-buku, dimana pada bagian posterior  bilah sudah masak  penuh berisi telur.
Platihelminthes merupakan salah satu  phylum  dari  vermes  yang umunya mempunyai gastrovasikuler yang berfungsi sebagai alat pencernaan  dan  juga sebagai transportasi, kecuali pada cestoda tidak punya usus. Bernapas dengan menggunakan kulit.
Patologi dan Gejala klinis  Terjadi sejak larva masuk kesaluran empedu sampai menjadi dewasa. Parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu, dapat terjadi perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi.
Gejala dari penyakit fasioliasis biasanya pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, perut terasa penuh, diare dan pembesaran hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari perbesaran hati, ikterus, asites, dan serosis hepatis.
Beberapa jenis cacing hati yang dapat menginfeksi manusia antara lain sebaga iberikut:
a) Opisthorchis sinensis ( Cacing hati cina ) cacing dewasa hidup pada organ hati    manusia. Inang perantaranya adalah siput air dan ikan.
b) Schistosoma japonicum. Cacing ini hidup di dalam pembuluh darah pad saluran pencernaan manusia. Manusia merupakan inang utamanya, namun hewan juga dapat terinfeksi seperti tikus, anjing, babi, dan sapi. Inang perantaranya adalah siput amphibi
c) Oncomelania hupensis. Cacing ini menyebabkan penyakit skistosomiasis dengan ciri demam, anemia, disentri, berat badan turun, dan pembengkakan hati.
d) Paragonimus westermani. Cacing ini hidup dalam paru-paru manusia. Inang perantaranya adalah udang air tawar.



BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
   Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini  adalah sebagai berikut:
Hari/Tanggal     :  Jumat, 20 Juni 2011
Waktu         :  13.00 – 15.00 WITA
Tempat                 : Laboratorium Biologi Dasar Lantai I
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata-Gowa.     


                                                                                 
B.    Alat dan Bahan
1.    Alat
Adapun alat yang digunakan dalam  praktikum ini adalah cawan petri, larutan formalin 4 %, mikroskop, pinset dan pipet.
2.    Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air suling dan siput (Limnea sp).
C.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja untuk pengamatan larva trematoda dan Fasciola hepatica adalah :
1.    Meletakkan siput pada cawan petri yang berisi air suling sebanyak sepertiga.
2.    Memecahkan cangkang siput dengan pinset, kemudian menggunakan cawan untuk melepaskan larva.
3.    Mengamati larva redia ataupun cercaria. Kedua larva ini kita dapat membedakannya dari pergerakan serta anatominya.
4.    Mengamati Fasciola hepatica yang banyak terdapat pada kaki siput.
5.    Menggambar hasil pengamatan.


BABIV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Morfologi dan Anatomi Planaria

Morfologi dan Anatomi Fasiola hepatica





B.    Pembahasan
1.    Cacing hati (Fasciola hepatica)
a.    Morfologi
Fasciola hepatica ini berukuran sekitar 0,2 mm sampai 6 cm, yang mempunyai tubuh simetris bilateral, dan tubuhnya pipih secara dorsoventral. Ukuran tubuh bervariasi mulai yang tampak mikroskopis beberapa millimeter hingga berukuran panjang belasan meter. Cacing hati memiliki alat penghisap oral  disekitar mulut dan biasa terdapat alat penghisap ventral di tengah atau posterior. Alat penghisap berfungsi sebagai alat penempel pada tubuh inang, bukan untuk menghisap makanan. Tubuh tidak tertutup epidermis melainkan dilindungi tegumen yaitu lapisan sinsitium sitoplasma. Reproduksi dan daur hidup sangat kompleks karena adanya dua macam inang atau lebih. Satu sebagai inang utama tempat hidup parasit dan yang satu sebagai inang perantara tempat hidup larva parasit.
b.    Anatomi
Secara anatomi, Fasciola hepatica  terdiri dari faring yang letaknya terdapat di bawah oral, cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api, adapun pharing tidak berotot.
Tegumen atau lapisan kutikula member perlindungan terhadap pengaruh enzim pencernaan. Tegument padat endoparasit membantu menyerap glukosa dan asam amino. Selain itu terdapat arterium yang letaknya di bawah penis dan esofangus. Selain itu, terdapat uterus, vasikula seminalis, ovary serta oviduk pada hewan ini.
c.    Habitat
Fasciola hepatica hewan ini merupakan endoparasit pada hati hewan ternak sapi atau biri-biri, larva banyak terdapat pada kaki siput.
d.    Klasifikasi
Kingdom     : Animalia
Filum    : Platihelminthes
Kelas    : Trematoda
Ordo    : Echinostomiformes
Family     : Fasioldae
Genus    : Fasciola
Spesies    : Fasciola hepatica (Wikipedia.com)

2.    Planaria
a.    Morfologi
Seperti halnya mahluk hidup lain nya, Planaria memiliki bagian morfologi. Bentuk lonjong dan panjang, pipih dorsoventral dan tidak mempunyai ruas sejati. Bagian kepala terdapat tonjolan, bentuk tentakel atau pelebaran sisi kepala, disebut aurikel. Warna tubuh biasanya hitam, coklat, atau kelabu, dan merah. Berukuran 0,5 mm sampai 60 cm, tetapi umumnya 10 mm.
Adapun sistem pencernaan terdiri atas mulut, faring dan rongga gastrovaskular, disebut enteron atau usus, tidak memiliki anus. Dinding usus hanya terdiri dari atas sel phagosit dan kelenjar. Mulut terletak di permukaan tubuh bagian ventral pada salah satu tepat di garis anterior posterior. Planaria termasuk karnivora dan memakan berbagai macam avertebrata kecil dan banyak.
b.    Anatomi
Secara anatomi tubuh tertutup epidermis dan di bagian ventral mengandung cilia berfungsi untuk merayap. Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel kelenjar dan batang-batang kecil yang disebut rhabdoid. Sel kelenjar menghasilkan lendir untuk melekat, membungkus mangsa dan sebagai jejak lendir pada waktu merayap. Sel kelenjar juga terdapat di mesakel (parenkim), dan mempunyai saluran kecil menembus epidermis. Dibawah epidermis terdapat serabut-serabut otot melingkar, longitudinal, diagonal dan dorsoventral. Rhabdite berfungsi sebagai alat pertahanan atau hancur membentuk selaput lendir membungkus dirinya sendiri.
c.    Habitat
Planaria merupakan hewan yang hidup bebas dengan habitat yang berbeda-beda, beragam dari perairan yang berarus lambat sampai pada perairan danau dan tertutupi oleh dedaunan atau bebatuan.

d.    Klasifikasi
Kingdom    : Animalia
Filum    : Playhelminthes
Kelas    : Turbellaria
Ordo    : Tridadida
Family    : Palmudikola
Genus    : Euplanaria
Spesies    : Euplanaria sp (Wikipedia.com).


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah :
1.    Larva-larva kelas trematoda yang dapat diamati pada stadium cercaria dan redia adalah cacing hati (Fasciola hepatica) dan Planaria.
2.    Adapun gerakan hewan ini adalah sangat cepat. Adapun morfologinya yaitu cacing ini berukuran 0,2 mm sampai 6 cm, gerakannya sangat cepat dan struktur tubuh lonjong, memiliki mulut dan memiliki alat penghisap disekitar mulut.

B.    Saran
Adapun saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya bahan yang akan digunakan dipersiapkan lebih awal, agar di dapatka bahan yang baik dan mengandung banyak larva yang akan diamati.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Playhelminthes. http://wikipedia.com (23 Juni 2011)
Anonim, 2011. Fasciola hepatica. http://wikipedia.com (23 juni 2011)
Anonim, 2011. Planaria. http://wikipedia.com (23 Juni 2011)
Hala, Yusminah, dkk, 1984. Biologi Umum 2. UIN Press: Makassar.
Haruna, Faisal, dkk, 1987. Biologi Umum. 45 press: Makassar.
Suwignyo, Sugiarti, dkk, 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya: Jakarta.
Tim Dosen, 2011. Penuntun Praktikum Zoologi Invertebrata. UIN Press: Makassar.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih