Selasa, 13 September 2011

Keberagamaan Seseorang yang Selalu Dipertanyakan


Artikel
Oleh : MItasari
(Reporter LPM Lima Washilah UIN Alauddin Makassar)




Ketika kita menyebut kata “ Agama”  dan mempertanyakan agama yang diyakini seseorang, maka akan selalu sensitive sifatnya. Persoalan keagamaan dan keyakinan seseorang dianggap  sangat individual. Ada banyak agama dan keyakinan di dunia, namun hanya agama mayoritas saja yang banyak diketahui. Definisi agama yang banyak orang ketahui adalah sistem atau prinsip kepercayaan terhadap Tuhan. Merupakan sumber moral, petunjuk kebenaran, informasi tentang masalah metafisik dan bimbingan rohani untuk dunia dan akhirat. Banyak persepsi mengenai agama, sifatnya relatif saat orang menjawab pertanyaan mengenai hakikat agama.
Beragam pandangan yang muncul mengenai agama sehingga banyak bermunculan keyakinan baru, namun masalah banyaknya bermunculan agama ataupun keyakinan baru itu adalah hak tiap orang dan kelompok. Akibat yang lain adalah ketika seseorang telah mendapat predikat beragama, namun masih sulit memahami ajaran agamanya. Di dunia dulu maupun sekarang banyak orang mendapat status keagamaannya lewat orang tua sehingga nilai-nilai agama tidak sepenuhnya sampai karena soal keyakinan harus dalam hati sepenuhnya. Alangkah baiknya ketika lingkungan dan orang tua mampu mengenalkan agama secara baik, akan tetapi tak sedikit pula ketika kehidupan seseorang diliputi nuansa rohani kuat dalam kehidupannya tak mampu menjawab alasan ia meyakini agama ataupun keyakinan yang dianutnya secara konkret, akibatnya ia dengan mudah tergoyah imannya pada saat dihadapkan kondisi yang berbeda.
Walau tak terlihat jelas di kehidupan kita, tak sedikit orang yang masih terus mempertanyakan status keberagamaan dalam dirinya. Tipe orang seperti ini banyak mempertanyakan persoalan ada tidaknya tuhan di muka bumi ini, hingga aturan agama serta makna beragama menjadi tanda Tanya besar. Keberagamaan orang-orang sekarang diliputi oleh hal-hal yang mempersoalkan hitam atau putih dalam beragama, adapula yang saling tuduh menuduh kafir dan yang lain dilanda kebigungan karena melihat pandangan agama masih abu-abiu dan buram. Saat surga dan neraka tak pasti adanya, Tuhan dirasakan sebagai hal yang berwujud tahayul menjadikan seseorang memiliki paham atheisme. Atheis diartikan tak percaya kepada Tuhan, banyak terjadi di Negara barat, namun sekarang paham ini tak memandang tempat, siapa, suku, ras, agam, bahasa dan agama.
Khususnya di Indonesia yang mayoritas beragama Islam yang meyakini ada satu Tuhan yaitu Allah, Nabi sebagai tauladan dan Alquran sebagai kitab suci pedoman hidup dunia akhirat diragukan sbagian kecil penganutnya. Dalam Islam, menduakan dan meraguka keberadaan Allah adalah hal yang paling dibenci, namun ketika sebagian umatnya yang memandang agama Islam dari segi logika saja, ragu dengan keberadaan Allah yang tak berwujud dan segala mukjisatnya. Pemahaman yang kurang akibat aqidah yang rusak merupakan salah satu alasan utama persoalan ketidak percayaan umat muslim kepada Allah. Banyak aspek yang dilibatkan oleh persoalan ini, dari segi pendidikan yang sangat urgen terlihat kualitas dan kuantitas ilmu agama tentang ilmu tauhid sangatlah kurang.
Ketika generasi muda sangatlah gampang terinterpensi oleh hal-hal yang membuat keyakinan tergoyah, apalagi untuk persoalan agama saat ini orang-orang terus menanyakan persoalan keagamaan dengan melibatkan logika sebagai alasan dan jawaban atas pertanyaan mereka yang sebanarnya menuju pada kesesatan. Agama manapun tak bisa hanya melibatkan logika saja karena logika tidak bisa menjawab pertanyaan tentang hakikat kebenaran, letak dan hakikat kebahagiaan hidup dan asal muasal manusia. Bagi sebagian orang yang percaya logikalah yang paling  benar membuat dan melatar belakangi munculnya paham atheis dalam diri seseorang dan tak sedikit mempengaruhi keberagamaan orang lain.

1 komentar:

Terima Kasih