Sabtu, 08 Oktober 2011

Periwayatan Hadist (tanya jawab soal hadist)

Sepenggal kisah...
Di kampus saya, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, tiap jurusan baik agama atau non agama wajib mengikuti mata kuliah ilmu hadist, naa saya bingung pada saat dapat tugas presentasi hadist  karena saya bukan dari latar belakang pendidikan agama . Tugas telah diberikan dosen untuk masing-masing kelompok yang membahas mulai dari pengertian hadist hingga siapa saja tokoh yang meriwayatkannya. Kelompok saya mendapatkan judul Periwayat Hadist beserta kitab himpunannya. Beberapa minggu mencari di buku dan internet yang saya cari kurang bisa saya cerna di kepalaku. Kebetulan saya mempunyai kakak yang sudah lama menuntut ilmu di Mesir Al-azhar jurusan ilmu hadist dan sekarang sedang berusaha meraih Masternya, pas sekali untuk saya tempati bertanya. Kami saling berinteraksi lewat chat yang disediakan facebook. Sekedar share nie adalah sepenggal percakapan kami pada malam di Makassar-indonesia dan siang hari di Mesir-Kairoh.

5/10/2011
Mitanhamy Ar-rahimy : assalamualaikum
uba' tolong bantu kasi referensi yang bagus untuk tugas hadist dan Ilmu Al-qur'an qw
kalau ilmu hadis judulnya periwayat2 hadist beserta kitab himpunannya
kalau ilmu Al-qur'an tentang bukti otentitas wahyu

balas segera nha..
Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatu...

7/10/2011
Umar Ar-rahimy : Untuk kitab himpunan periwayat2 hadits:
Banyak sekali bentuk penulisan yang ditempuh oleh ulama, diantaranya:
At-ThabaqatBuku ini mengumpulkan biografi seorang rawi (yg meriwayatkan hadts) dan menyusunya sesuai dengan waktu dan tempat rawi itu hidup. Diantara ulama yang menyusun at-thabaqat:
- Untk semua generasi: Ibnu Sa'ad (230 H) dalam bukunya "Ath-thabaqat Al-Kubra", dan Khalifah bin Khayyath (240 H) dalam bukunya "Ath-thabaqath".
- Khusus generasi sahabat Rasul: Abu Nu'aim Al-Ashbahany (430 H) dalam bukunya "Ma'rifa Ash-Shahabah", Ibnu Abdul Bar (463 H) dalam bukunya "Al-Istii'ab", Ibnu Al-Atsir (630 H) dalam bukunya "Usd Al-Gabah", Ibnu Hajar dalam bukunya "Al-Ishabah".

Adh-dhu'afaa'
Buku ini mengumpulkan biografi rawi-rawi yang dianggap lemah dalam periwayatan hadist. Diantara ulama yang menyusun buku adh-dhu'afaa':
- Imam Al-Bukhari dalam bukunya "Adh-dhu'afa Al-Kabiir" dan "Ash-shagiir".
- Imam An-Nasa-I dalam bukunya "Adh-dhu'afaa wa Al-Matrukiin"
- Abu Ja'far Muhammad bin Amr Al-'Uqaily (323 H) dalam bukunya "Adh-dhu'afaaa al-kabiir"

Ats-tsiqaat
Buku ini mengumpulkan biografi rawi-rawi yang kuat dalam periwayatan hadits. Di antara ulama yang menyusu buku ini :
- Abu Al-Hasan Ahmad bin Abdullah Al-'Ijly (261 H) dalam bukunya "Ma'rifah Ats-Tsiqaat".
- Ibnu Hibban Muhammad bin Ahmad dalam bukunya "Ats-tsiqat" dan "Masyaahir Ulama Al-Amshar"
- Umar bin Ahmad bin Syahiin Al-Wa'idz (385 H) dalam bukunya "Taariikh asmaa' Ats-tsiqaat".

Biografi rawi secara umum
Buku ini mengumpulkan biografi semua jenis rawi baik yang tsiqah atau pun yang dha'if dari kalangan mana pun. Diantara ulama yang menyusun buku ini:
- Yahya bin Ma'in dalam bukunya "Ma'rifah Ar-Rijaal"
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam bukunya "Al-'Ilal wa Mah'rifah Ar-Rijal".
- Imam Al-Bukhari dalam bukunya "At-Tarikh Al-Kabiir", "Al-Awsath", dan "Ash-Shagir".

Khusus bografi rawil buku tertentu.
Buku ini mengumpulkan biografi para rawy yang ada dalam satu buku tertentu. Diantara ulama yang menyusun buku ini:
- Al-Hafidz Abdul Gani Al-Maqdisi (600 H) dalam bukunya "Al-Kamaal fi Asma' Ar-Rijal".
- Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zaky Al-Mizzy (742 H) dalam bukunya "Tahdzib Al-Kamal"
- Ala-uddin Muglathay (762 H) dalam bukunya "Ikmal Tahdzib Al-Kamal".
- Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahaby (748 H) dalam bukunya "Tadzhib At-Tahdzib" dan "Al-Kasyif".
- Ibnu Hajar dalam bukunya "Tahdzib At-Tahdzib" dan "Taqriib At-Tahdzib".

Biografi rawi suatu daerah.
Buku ini mengumpulkan biograwi rawi yang berasal atau atau pernah berkunjung di satu daerah tertentu. Diantara ulama yang menyusun buku ini :
- Abu Nu'aim Al-Ashbahany dalam bukunya "Dzikr Akhbar Ashbahan"
- Abu Al-Qasim Hamzah bin Yusuf As-Sahmy (427 H) dalam bukunya "Tarikh Jurjany".
- Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Khatib (463 H) dalam bukunya "Tarikh Bagdad".

Coba baca di blogq:
Umar Mansur Ar-Rahimy: Mengenal Turats Hadist I




Mitanhamy Ar-rahimy : pusing aq bacanya

Umar Ar-rahimy : Kamu siii , judulmu terlalu tinggi ! Ini salah satu pembahasan yg paling rumit dalam ilmu hadits :):)

Tanyakan sj yg mau kau tau !


 Mitanhamy Ar-rahimy : ap prtanyaan paling sulit tentang periwayatan hadist???

Umar Ar-rahimy :
masalahnya nie pakai bahasa arab, jadi mau diterjemahkan dulu
banyak siii, tergantung standar ilmunya
coba saya tes yha
apakah yg dimaksud periwayatan hadits??
 

 Mitanhamy Ar-rahimy : Wahh deg..degan kalau sampai nanti maju presentasi

Umar Ar-rahimy :
jawabmi sj
nanti sy komentari

Mitanhamy Ar-rahimy  :
kan hadist itu perbuatan dan perkataan nabi, jad periwayat itu org yang menuliskan atau yang mengutip perbuatan dan perkataan nabi
heheh


Umar Ar-rahimy :100 :-)

Mitanhamy Ar-rahimy  : lagi..lagi, mulai smangatka kar dapat 100
wkwkwkw

Umar Ar-rahimy : apakah semua yang meriwayatkan hadits bisa diterima periwayatannya ?


 Mitanhamy Ar-rahimy  : oooww tidak bisa' ad syaratnya. salah satunya harus org yang bsa dipercaya

Umar Ar-rahimy : 100
ada syarat yang lain ??


  Mitanhamy Ar-rahimy  :  islam, balig, adil, dhabit

 Umar Ar-rahimy :
Islam, balig, bisa dipercaya, masuk kategori adil.
Bhs arabnya العدالة al-'adalah

 Mitanhamy Ar-rahimy : ada yang lain lagi???

  Umar Ar-rahimy :
sifat al-'adalah ada sifat yg membuat seseorg menjadi jujur, terpercaya, bertaqwa, dan tdk fasik
tanda2 nya harus: Islam, balig, tidk melakukan dosa besar, tdk terang2an melakukan dosa kecil, dan menjauhi hal2 yg dianggap aib.
Itu syarat yg pertama
Syarat yg kedua yaitu dhabit.
Pertanyaan selanjutnya: apa yg dimaksud dhabit ???


  Mitanhamy Ar-rahimy : yhha itu saya belum terlalu paham waktu baca di buku

   Umar Ar-rahimy :
  • Dhabit adalah kekuatan hafalan seorang rawi
  • Ini syarat yg paling utama, krn bisa jadi ia jujur dan bertaqwa (adil) tp hafalannya lemah
Dhabit seorang perawi ada dua:



  Mitanhamy Ar-rahimy : ooowww..bgmn itu ttng shahi tdknya hadist???ad hubungannya tdk???
    Umar Ar-rahimy :
inilah yg kita bahas
hadits kan terdiri dari 2 unsur :
sanad dan matan
sanad adalah rentetan perawi hadits
sanad dikatakan sahih kalau masing2 perawwinya memenuhi syarat
yg pertama tadi al-'adalah
yg kedua dhabit
dhabit terbagi 2 :
dhabit hafalannya (ingatannnya)
dan dhabit tulisannya

artinya: hadits yg ia degar dari kurunya tdk ia lupa sampai ia menyampaikannya kepad muridnya
karena terkadan ada rawi ketika masih belajar ia hafal hdait dari gurunya
akan tetapi setelah ia ingin meriwayatkan hdits tersebut ternyata ia sudah lupa
maka org tersebut dianggap tdk dhabit
dan ada juga rawi yg memang dari awal tdk bisa menghafal akan tetapi ia menulis apa yg ia dengar dari gurunya
jadi dhabit yg pertama adalh kuat hafalannya
dhabit yg kedua: tulisannya terjaga.
Seperti yg yg katakan, bhw beberapa rawi ada yg tdk kuat hafalannya sehingga harus menulis apa yg ia dengar dari gurunya
org2 seperti ini (yg menulis) dikatakan dhabit jika buku yg berisi hadits2 yg ia terima dari gurunya ia jaga dengan baik
jangan sampa ada org jahat yg menambah atau mengurangi isinya
dan jangan sampai buku tsb hilang



  Mitanhamy Ar-rahimy : siapa yg tetapkan syarat-syaratnya ? adaka hadist yang juga menjelaskan itu???

Umar Ar-rahimy : 
para ulamaa' hadits yg menetapkan syarat2 tsb
berlandaskan ayat dan hadits
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6]
ayat di atas memerintahkan kita untuk berhati2 menerima berita (riwayat) dari org fasiq



  Mitanhamy Ar-rahimy : artinya mana???

   Umar Ar-rahimy :  
  • Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti.
tp sebenarnya ayat ini bukan khusus untuk org fasik, tp umum untuk semua yg membawa berita harus diperiksa orgnya sebelum menerima berita (riwayat) yg ia sampaikan
  Mitanhamy Ar-rahimy : surah yg mana itu???

    Umar Ar-rahimy :   surah 49 al hujurat ayat 6
 klau haditsnya:
نضر الله امرأ سمع منا شيئا فبلغه كما سمع

  • Allah memberi kenikmatan kepada org yg mendengarkan suatu hadits dari ku lalu ia sampaikan seperti apa yg ia dengar
(sunan at-tirmidzi: sahih)

dlm hadts diatas: rasulullah menganjukan umatnya untuk mendengarkan hadits kemudian menyampaikannya sesuai yg ia dengat tampa ada tambahan atau kekurangan
surah 49 al hujurat ayat 6

  Mitanhamy Ar-rahimy : siapa sja tokoh2 periwayat yang trkenal shahi hadist.y???


    Umar Ar-rahimy : Wah banyak sekaliii
untuk mengetahuinya hari merujuk ke buku2 biografi rawi diantarnya yg sy kirimkan itu
Belum selesaipi masalah dhabit

   Mitanhamy Ar-rahimy : oke lanjutkan :-)


    Umar Ar-rahimy :
tadi sudah dua syarat seorang dikatakan dhabith
hafalannya kuat, kalo tdk hafal tp pake buku maka bukunya harus terjaga
yg terakhir
jika meriwayatkan hadits dgn makanya (tdk sesuai dgn lafadz yg ia dengar)
dgn makna
maka ia harus paham bahasa arab dgn baik
jgn sampai ia memahami hadits dgn salah kemudian ia riwayatkan denga makna yg salah tsb
ini syarat yg kedua
syarat yg ketiga untuk menerima periwayatan seorang rawi: ittisal sanad (sanadnya bersambung)
artinya: perawi tsb harus mengambil hadits langsung dari gurunya tampa ada perantara

    Mitanhamy Ar-rahimy : sanad itu apa sie?


    Umar Ar-rahimy :
rentetan perawi yg meriwayatkan hadits
seperti imam bukhari meriwayatkan dari gurunya
sapai ke Rasulullah

    Mitanhamy Ar-rahimy : kenapa bukan gurunya yg di tuliskan namanya? artinya imam bukhari tidak secara langsung dari nabi dong?!


    Umar Ar-rahimy :
contoh dari sunan abu daud: imam abu daud mengatakan
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِى عُمَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ - مِنْ وَلَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
ini yg dinamakan sanad
مسدد adalah gurunya abu daud
Musaddad
meriwayatka hadits dari Yahya
Yahya dari Syu'bah
Syu'bah dari Umar bin sulaiman
Umar bin Sulaiman dari Abdurrahman bin Aban
Abdurrahman bin Aban dari Bapaknya (aban)
Aban dari Zaid bin tsabit (sahabat)
Zaid bin sabit dari Rasulullah
 sudah paham ???? :-)

     Mitanhamy Ar-rahimy : oow semacam silsilah yha???

     Umar Ar-rahimy :
iya
nah syarat yg ketiga: setiap rawi harus mendengar hadit yg diriwayatkan langsung dari gurunya
karena terkadang ada rawi yg tdk menyebutkan gurunya dan langsung loncat ke guru dari gurunya
nu pahamji syarat yg ke tiga ??

     Mitanhamy Ar-rahimy : dahh siapa mi itu yang cari tau???


     Umar Ar-rahimy :ada banyak cara!!

     Mitanhamy Ar-rahimy : yha makin seru,,lanjutkan



     Umar Ar-rahimy :
diantaranya lihat lafadz yg ia pakai
contoh sanad yg sy sebutkan di atas
Imam abu daud mengatakan حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ
Lafadz haddatsana hanya dipakai jika seorang rawi mendengar langsung dari gurunya
begitu pula lafadz: sami'tu  سمعت
حدثني haddatsanii
 akhbaranaa أخبرنا
 akhbaraniii أخبرني

jika seorg rawi memakai lafadz ini maka dinyatakan bersambung.

tapi kalau pakai lafaz ('an) عن
maka masih ada kemungkinan hadts tersebut ia dengar dari org lain
tapi tidak mesti
ada juga syrat2nya

     Mitanhamy Ar-rahimy : ko' bsa?

   Umar Ar-rahimy :
begitu memang makna kata عن
boleh dipakai seklipun tdk di dengar langsung
seperti kalau saya mengatakan عن رسول الله
sy tdk dianggap berbohong sekalipun sy tdk dengar langsung dari Rasulullah


     Mitanhamy Ar-rahimy : ooow maksudnya na tullis ji itu kalau dia ragu2?


   Umar Ar-rahimy :
sdah paham 3 syarta yg sy sebutkan ??


     Mitanhamy Ar-rahimy : yha lanjtkan

   Umar Ar-rahimy :
masih ada 2 syarat lagi
Kalau 3 syarat di atas sudah terpenuhi pada setiap rawi yg ada dlm sanad suatu hadits
maka kita sudah bisa menghukumi bahwa sanad hadits tsb sudah sahih atau hasan
 tapi matannya belum tentu

     Mitanhamy Ar-rahimy : lafas atau materinya toh?? ap maksudnya it?

   Umar Ar-rahimy :
  • karn bisa jadi sanad suatu hadits sahih tapi matannya dhaif
  • dan sebalinya bisa jadi matnnya sahih sekalipun sanadnya lemah :):)
  • pusing kan ??

Mitanhmay Ar-rahimy : baahh qw tau ji,, baguski materinya tp blum jelas silsilahnya betul tdk, gmn????
    Umar Ar-rahimy :
jadi klo tiga syarat (al-adalah, dhabit dan ittisal) sudah terpenuhi pada setiap rawi maka sanadnya sudah bisa dikatakan sahih
adapun matannya harus memenuhi 2 syarat lagi
pertama: tidak syadz
atrinya riwayatnya tdk menyalahi riwayat org lain yg lebih kuat
contoh
sanad si A meriwayatkan hadits tersebut dari perkataan Rasulullah
sedangkan si B meriwayatkannya dari perkataan Sahabat dan bukan perkataan Rasulullah
maka kita mengatakan riwayat si A dihukumi syadz
karena menyalahi riwayat si B yang lebih kuat hafalannya
paham ji ??

kalo ditanya: bagaimana cara mengetahui hadits itu syadz atau tidak?
Jawabannya: Hadits tsb harus ditelusuri semua sanadnya yg ada di dunia
kemudian dibandingkan antara satu dgn yg lainnya
untuk mengetahui adakah tdk perselisihan dari sanad2 tsb
kalu tdk ada maka kita hukumi matan hadtsnya sahih
kalo ada perselisihan
maka harus dipilih mana yg lebih kuat
untuk mendeteksi adanya syadz pada suatu hadits memang sulit
harus mencari semua sanad2 hadtis tsb di semua buku hadits yg ada di dunia
 makanya terkadang seorang pemula hanya cukup meneliti sanad hadits sja,

Mitanhamy Ar-rahimy : bagaimn kalau fatwa ulama jaman skrg???

    Umar Ar-rahimy : 
adapun ulama yg sudah banyak membaca buku2 hadits maka ia sudah bisa menghukumi matan hadits sampai ada yg memberitahukan adanya syadz atau tdk
klo ulama' sekarang hanya tgl segelintir yg bisa menghukumi hadits dgn benar
kebanyakan hanya menukil dari pendapat ulama' yg sudah ada
sudah paham dgn syarat yg ke 4 ?
syarat yg ke 5 : tidak ada illah (cacat yg tersembunya)
terkadang suatu hadits sudah memenuhi 4 syarat yg diatas.
akan tetapi seorang ulama yg ahli dlm hadts menghukumi hadts tsb lemah krn ada cacat yg tersembunyi yg biasanya hanya ulama kls tinggi yg bisa mendeteksi

 Mitanhamy Ar-rahimy : cacat bagaimn?

    Umar Ar-rahimy : 
banyak sekali
biasanya hanya dipahami oleh ulama' hadits tinggkat tinggi
ibaratnya ahli emas
hanya dgn melihat dan memegang sebuah emas ia bisa tau mana yg asli dan yg imitasi

  Mitanhamy Ar-rahimy : contoh sederhana saja...

    Umar Ar-rahimy : 
seperti kekeliruan dalam matan hadits atau sanadnya
untuk mendeteksi adanya illah (cacat tersembunyi) pada suatu hadits

   Mitanhamy Ar-rahimy : jd selesai  syaratnya???

     Umar Ar-rahimy : ad syarat tambahan!

jika seorang rawi dinyatakan lemah periwayatannya (tdk dhabit) tp kelemahannya tdk terlalu parah
kemudian ada perawi lain yg kekuatan hafalannya sama atau lebih baik
mendukung periwayatannya
maka riwayat yg pertama bisa terangkat dgn adanya pendukung riwayat yg kedua

baca juga disini Umar Mansur Ar-Rahimy: Bagaimana menghukumi hadits

Mitanhamy Ar-rahimy : yhaa..Alhamdulillah lebih bisa masuk di kepala qw, kalau lewat penjelasan langsung.

Bacaan Selanjutnya :
Mengenal Periwayat Hadis Predikat Al-Mukatsirun fi Al-Riwayah
Pentadwin dan Pentakhrij Hadis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih