Kamis, 03 November 2011

Mengenal Para Periwayat Hadis Predikat Al-Mukatsirun fi Al-Riwayah


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu...

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk saudara sekalian yang telah mengunjungi blog sederhana ini. Bagaikan gubuk ilmu yang saya bangun dan rintis mulai dari bawah. Bertujuan untuk share ilmu yang saya  dapatkan di kampus tercinta saya UIN Alauddin Makassar. Saya merasa bersyukur mendapatkan mata kuliah yang luar biasa pentingnya kita ketahui sebagai hamba Allah SWT. Saya mengambil referensi dari beberapa sumber. Baik buku maupun situs di internet, jadi apabila ada kesalahan mohon di maafkan karena kesalahan milik saya pribadi dan kesempurnaan milik Allah SWT. Saya harap tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua para pencari ilmu dan ridhonya Allah. So' selamat ^___^/.

Para ulama hadits, adalah tokoh-tokoh agama yang menempati posisi khusus dalam umat ini. Kedudukan mereka di mata umat begitu mulia dan agung, mengingat jasa dan peranan mereka yang begitu besar dalam menjaga kemurnian syariat Islam.Inilah keistimewaan ulama hadits dibandingkan ulama dari disiplin ilmu lainnya. Merekalah para pembawa panji sunnah Nabi, yang merupakan sumber ilmu kedua setelah Alquran. Sunnah Rasulullah merupakan muara yang padanya setiap cabang ilmu agama akan kembali. Tidak ada satu ulama pun dari berbagai disiplin ilmu agama, yang tidak membutuhkan penjelasan mereka tentang sunnah Rasulullah.

Dalam gambaran biografi tersebut secara garis besar dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Pertama, para sahabat yang mendapat predikat Al-Mukatsirun fi Al-Riwayah, yakni para tokoh atau ulama yang banyak meriwayatkan hadis.Para ahli hadis telah mengurutkan kelompok ini mulai dari rawi yang paling banyak meriwayatkannya, yaitu AbuHurairah (5.347 buah hadis), Abdullah ibn Umar (2.630 buah hadis), Anas ibn Malik (2.286 buah hadis), Siti ‘Aisyah (2.210 buah hadis), Abdullah ibn Abbas (1.660 buah), Jabir ibn Abdillah (1.540 buah) dan Abu sa’id Al-Khudri (1.170 buah).

 Untuk yang kedua akan di bahas pada postingan berikutnya...

A.    SAHABAT YANG MENDAPATKAN GELAR AL-MUKTSIRUN FI AR-RIWAYAH
1.    Abu Hurairah (21 SH-59 H = 602 M-679 M)
Nama “Abu Hurairah” adalah nama kunyah atau gelar yang diberikan oleh Rasul SAW, karena sikapnya yang sangat menyayangi kucing peliharaannya.Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak punya barang dagangan untuk dijual.walaupun demikian beliau tegar dalam menghadapi hudup dan sanggup menerima SAW seara baik bahkan beliau orang yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits-hadits.
Nabi SAW daripada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Para Perawi hadits banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
Iman Syafi’i pernah berkata: “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menghafal hadits bila dibandingi dengan perawi-perawi di masanya.”
Abu Hurairah adalah seorang ahli ibadah, begitu juga istri dan anaknya.Mereka semua biasa bangun pada malam hari secara bergiliran.Beliau bangun pada sepertiga malam kedua dan kemudian anaknay pada seprtiga malam terakhirnya.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.

2.    Abdullah ibn Umar (10 SH-74 H = 618 M – 694 M)
AbdullH IBN Umar (biasa disebut dengan “ibn Umar”) lahir pada tahun 10 sebelum Hijriyah, setelah peristiwa pengangkatan Rasul SAW dan meninggal pada tahun 74 H.Ibnu Umar adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah, yaitu sebanyak 2.630 hadits, karena ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi. Bahkan Aisyah istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :"Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar". Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Di antara para Tabi'in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi'.

3.    Anas ibn Malik (10 SH-93 H = 612 M-912 M)
Ia dikenal juga dengan sebutan Abu Hamzah. Anas ibn Malik lahir pada tahun 10 SH dan wafat pada tahun 93 H di Bashra.Beliau adalah sahabat yang paling akhir meninggal di Bashra.Ia hidup bersama rasul SAW dalam kedudukannya sebagai pembantu, yang dipersembahkan oleh ibunya (Ummu Sulaim).Anas menemani Nabi saw dengan sempurna. Ia benar-benar sempurna dalam bermulazamah kepada beliau sejak beliau hijrah, sampai meninggal. Dia juga banyak mengikuti peperangan bersama beliau, juga berbaiat di bawah pohon (Bai'at Ridwan).

Anas jika berbicara tentang hadits Rasulullah n , maka setelah selasai ia mengatakan "Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah n " 
Musnad Anas sebanyak 2.286, yang disepakati Bukhari dan Muslim sebanyak 180 hadits, dan yang hanya dalam riwayat Bukhari 80 hadits dan Muslim 90 hadits.

4.    Siti ‘Aisyah Al-Shiddiqiah (9 SH-58 H = 668 M)
Siti a’isyah adalah istri Rasul SAW, putri Abu Bakr Al-Shiddiq. I merupakan satu-satunya istri Rasul SAW yang bayak meriwayatkan hadis, meninggal pada hari senin 17 Ramadhan 58 H.Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah.Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.”Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri.Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya.Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah.Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa.Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, “Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.”Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, “Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut.”Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk menuntut ilmu.Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka.Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari A1-Qur’an dan Sunnah.
Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini:
“Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR. Bukhari)
Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini:
“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat di atas adalah para peminum khamar dan pencuri?”Beliau menjawab, ‘Bukan, putri ash-Shiddiq!Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka tidak diterima).Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.”(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Aisyah berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati. Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Manusia berada di atas shirath.“ (HR. Muslim)
Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sehingga para ahli hadits menernpatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun, yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi rurnah Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah karena kualitas kebenarannya sangat terjamin.Jika berselisih pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta penyelesaian dari Aisyah. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, anak saudara laki-laki Aisyah, mengatakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah rnenjadi penasihat pemerintah hingga wafat.

5.    Abdullah ibn Abbas (3SH-68H = 616 M – 687 M)
Abdullah ibn Abbas adalah anak rasul SAW. Tentang kepribadian dan kelebihan Ibn Abbas di antaranya disebutkan bahwa Rasul SAW pernah mendoakannya, yang dikabulkan oleh Allah SWT.

6.    Jabir Bin Abdillah (16SH-78H = 604M-698M)

Ia dilahirkan pada tahun 16SH, sedangkan meninggalnya di Madina pada tahun 78H. Di Masjid Nabawi Madina Ia memberikan bimbingan pengajian pada masyarakat. Ia menerima hadis-hadisnya disamping dari Rasul S.A.W. sendiri, juga dari para sahabat , seperti Abu Bakar, Umar, Ali dan lain-lain. Dalam jajaran periwayat hadis dikalangan sahabat Ia menduduki rangking keenam, dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya sebanyak 1540 buah. Bukhari dan Muslim menyepakatisejumlah 60 hadis, 16 diantaranya diriwayatkan oleh Bukhari sendiri dan 126 buah diriwayatkan oleh Muslim sendiri. Jabir bin Abdillah adalah took hadis yang meninggal pada usia 94 tahun. Belia adalah orang yang terakhir meninggal di Madina dari maqamat sahabat.

7.    Abu Sa’id Al-Khudri (8SH-74H=607M-693M)

Abu Sa’id Al-Khudri adalah nama gelar yang diberikan kepadanya. Ia dibawa ayahnya mengunjungi Rasulullah S.A.W. untuk ikut berperang pada perang Uhud, yang waktu itu Ia berusia 13 tahun. Ia meninggal pada tahun 74 H.
Tentang kepribadiannya Ia dikenal sebagai seorang zahid dan alim. Dalam perjuangan untuk menegakkan ajaran, Abu Sa’id ikut berperang sebanyak 12 kali. Dalam jajaran periwayatan hadis dikalangan sahabat Ia menduduki peringkat ketujuk, dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya sebanyak 1170 buah. 46 hadis, diantaranya disepakati oleh Bukhari-Muslim dan Bukhari sendiri meriwayatkan sejumlah 16 buah, sedangkan Muslim meriwayatkannya sendiri sebanyak 52 buah.


Baca juga mengenai :
Tanya Jawab Soal Hadis
Pentadwin dan Pentakhrij Hadis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih