Kamis, 03 November 2011

PENTADWIN DAN PENTAKHRIJ HADIS

Assalamualaiku Warahmatullahi Wabarakatu

Sebagai pelengkap postingan sebelumnya, saya berharap postingan ini dapat menambah khasana ilmu kita tentang periwayat-periwayat hadis yang telah banyak berjasa atas segalah kecintaannya terhadap Islam sehingga tiap kata, perbuatan dan ketetapan Nabi besar Muhammad SWA bisa sampai kepada kita.
InsyaAllah kita juga bisa mengamalkan tiap ajaran yang Rasul sampaikan. Aminnn

Ulama hadis yang telah berhasil mentadwin hadis ( yaitu mengumpulakan, menulis, membukukan dan mengumpulkan serta menerbitkan buku hadis dan ilmu hadis). Mereka adalah Umar ibn Abd Al-Aziz, Muhammad ibn Abu Bakr ibn Hazm, Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri, Al-Rammhurmuzi, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Nasa’I, Imam Abu Daud, Imam Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.Mereka semua adalah para ulama hadis yang sangat berperan dalam upaya penulisan Hadis dan ilmu Hadis sejak generasi Ta-bi’in sampai pada abad kelima hijriah.

  PENTADWIN DAN PENTAKHRIJ HADIS
1.    Umar bin Abdul Aziz (61H-101H)

Ia adalah seorang khalifah (yang kedelapan) dari Daulat Bani Umayah, yang oleh banyak ulama karena kearifan, keadilan, kewaraan, dan keluhurannya terutama setelah menjadi khalifah dimasukkan kedalam jajaran Khulafa’ al-Rasyidin.
Dalam sejarah perkembangan hadis Ia sangat berjasa karena gagasannya untuk mengumpulkan hadis dalam satu kitab tadwin.

2.    Abu Bakar bin Muhammad bin Hamzah (w. 117H)
Nama kecilnya ialah Abu Bakar atau Abu Muhammad. Dalam sejarah perkembangan hadis, Ia yang pada saat itu sebagai gubernur Madina berdasarkan instruksi khalifah Umar bin Abdul Aziz, berhasil mengumpulkan hadis yang tersebar dari para penghafalnya.

3.    Ibnu Syihab Al-Zuhri (50H-125H)
Dalam sejarah perkembangan hadis, sebagaimana Abu Bakar bin Hamzah, Ia mendapat kepercayaan dari khalifah Umar bin Abd Al-Aziz untuk mengumpulkan hadis-hadis. Hasil karyanya menurut para ulama dinilai lebih lengkap dibanding Abu Bakar bin Hamzah. Namun, sebagaimana telah dikatakan, sayang sekali hasil karya kedua ulama ini hilang, sehingga tidak sampai ketangan generasi selanjutnya.

4.    Al-Ramahurmuzi (265H-360H)
Peranannya dalam perkembangan hadis dan ilmu hadis, Ia adalah orang yang pertama menyusun satu ilmu hadis secara lengkap sebagai disiplin ilmu. Adapun hasil karyanya, terdapat sekitar 15 buah karya tulis, diantaranya ialah Al-Muhaddits Al-Fashil baina Al-Rawi wa Al-Wa’I, Al-Falak fi Mukhtar Al-Akhbar wa Al-Ashghar Al-‘ilal fi Mukhtar Al-Akhbar dan Amtsal an Nabi.
5.    Imam Malik bin Anas (93H-179H=712M-798M)
Semenjak kecil Ia selalu dididik dalam ketelitian dan kehati-hatian orang tuanya. Setiap kesalahan selalu direvisinya. Pernah suatu ketika, Ia salah menjawap pertanyaan ayahnya. Orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu pasti disebabkan Ia terlalu banyak bermain dengan burung merpatinya. Sejak saat itu Iamemusatkan seluruh perhatiannya kepada pengkajian hadis.
Imam Syafi’I juga memujinya, “apabila dibicarakan tentang hadis, maka Imam Maliklah bintangnya dan apabila dibicarakan soal keulamaan maka Imam Maliklah bintangnya.Tidak ada seorang yang lebih terpercaya dalam ilmu Allah daripada Imam Malik.Imam Malik dan Ibnu Uyainah adalah dua orang yang sekawan, yang andaikata kedua orang tersebut tidak ada niscaya hilangpula ilmu orang-orang Hijaz”.
Belia dikenal juga sebagai ulama yang keras dan mempertahankan pendapatnya bila dianggap benar.Bahkan Imam Malik pernah mengalami penyiksaan secara fisik atas perintah gubernur Madina. Ja’far bin Sulayman, karena salah satu fatwa beliau dianggap menentang pemerintah.

6.    Imam Al-Syafi’i (150H-204H=767M-820M)

Meskipun Imam Syafi’i menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun beliau lebih dikenal sebagai ahli hadis dan hukum karena inti pemikirannya terfokus pada dua cabang ilmu tersebut, pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau digelari Nasuru Sunnah (Pembela Sunnah Nabi). Dalam pandangannya, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, malah beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al Quran dalam kaitannya sebagai sumber hukum islam, karena itu, menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah pada hakekatnya merupakan hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al Quran. Selain kedua sumber tersebut (Al Quran dan Hadis), dalam mengambil suatu ketetapan hukum, Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas dan istidlal (penalaran) sebagai dasar hukum islam.

7.    Imam Ahmad Ibn Hanbal (164 H-241 H = 780 M – 855 M)
Dari Kota Baghdad itulah imam Ahmad bin Hanbal memulai mencurahkan perhatiannya untyuk belajar dan mencari hadish dengan sungguh-sungguh. Beliau menghafal lebih satu juta hadis sepanjang hidupnya. Beliau juga salah seorang pelopor dalam sejarah islam yang mengkombinasikan antara ilmu hadis dan fiqih.namun kiranya belum cukup ilmu-ilmu yang ia dapatkan di Baghdad, sehingga ia harus berkirim surat kepada ulama-ulama hadis di beberapa negeri untuk kepentingan yang sama yang kemudian diikuti dengan perantauannya ke kota Mekkah.  Salah satu keistimewaan Ahmad bin Hanbal sebagaimana dikatakan Abu Zur’ah, adalah beliau mempunyai tulisan sebanyak 12 macam yang semuanya sudah dikuasai diluar kepala. Imam Al-Syafi’I disaat meninggalkan kota baghdad menuju mesir, memberikan pujian kepada beliau dengan kata-kata  yang realis,”Kutinggalkan kota Baghdad dengan tidak meninggalkan apa-apa  selain meninggalkan orang lebih taqwa dan lebih alim dalam ilmu fiqih yang tiada taranya, yaitu ibnu Hanbal.” Sebagaimana halnya orang itu tidak lepas dari pada bencana, beliau pun demikian halnya. Beliau dituduh menjadi sumber pendapat bahwa al-Quran itu adalah Makhluk, sehingga mengakibatkan pernyiksaan  dan harus meringkuk di penjara atas tindakan pemerintahan di waktu itu.

8.    Imam Bukhari (194-256H = 810 M -870 M)

Pada umur kurang lebih 10 tahun sudah mempunyai perhatian dalam ilmu-ilmu hadist, bahkan sesudah mempunyai hafalan hadist yang tidak sedikit jumlahnya. Pada usia 16 tahun Imam Bukhari telah berhasil menghafalkan beberapa buah buku tokoh ulama pertama yang prominen, seperti Ibnu Mubarak, waki’, dan lain-lain. Beliau merantau ke negeri syam, Mesir Jazirah sampai dua kali, ke Barzah empat kali ke Hijaz bermukim enam tahun dan pergi ke Baghdad bersama-sama para ahli hadis yang lain sampai delapan kali. Menurut pengakuannya kitab hadis yang ditulisnya membutuhkan jumlah guru yang tidak kurang dari 1.080 orang guru hadis. Beliau mempunyai karya yakni kumpulan-kumpulan hadist sahih yang beliau persiapkan selkama 16 tahun, beliau sangat berhati-hati dalam menuliskan tiap hadist dalam kitab ini , ternyata dalam setiap hendak mencantumkan dalam kitabnya beliau terlebih dahulu mandi dan shalat sunnah serta meminta petunjuk kepada Tuhan tentang hadist yang diturunkannya

9.    Imam Muslim (204H – 261H = 820 M – 875 M)
Imam muslim salah seorang muhaddisin , hafidh lagi terpercaya terkenal sebagai ulama yang gemar bepergian mencari hadis. Ia mulai mencari hadis pada tahun 218 H saat berusia kurang lebih lima belas tahun. Beliau kunjungi kota Khurasan untuk berguru hadis kepada Yahya dan Ishaq ibn Rahawih didatangi kota Rey  untuk belajar hadist pada Muhammad ibn Mahran, abu Hasan dan lainnya di Irak ditemuinya Ibnu Hnbal, Abdullah ibn Maslamah dan selainnya ; di Hijaz ditemuinya Yasid ibn Mansyur dan Abu Mas’ad. Ulama-ulama besar atau  ulama-ulama yang sederajat dengan beliau dan para hafid banyak yang berguru hadis pada beliau, seperti Abu Hatim, Musa Ibn Haran, Abu Isa Al-Tirmidzi, Yahya Ibn Sa’id, Ibnu Khuzaimah, dan Awwanah, Ahmad ibn Al-Mubarak dan lain sebagainya. Dari sekian baanyak karangan Imam Muslim, Shahih Muslimlah yang paling terkenal. Ada sejumlah kitab syarah yang mengomentari kitab hadis tersebut. Diantara sekian banyak kitab yang member syarah, yang paling popular adalah  Kitab Imam Nawawi yang di beri judul Al-Manhaj fi Syarh Syahih Muslim ibn Al-Hajjaj.

10.    Imam Abu Daud (202 H – 275 H = 817 M -889M)
Sunan abu Daud ini merupakan karyanya yang besar. Beliau mengaku telah mendengar hadist Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. Dalam jumlah itu beliau seleksi dan tulis dalam Kitab sunannya sebanyak 4.800 buah. Ia cukup puas dalam satu  atau dua hadis dalam setiap bab. hadist Kitab sunan abu daud ini sudah banyak beredar pada masa hidup pengarangnya. Bahkan Ali ibn Hasan berkomentar bahwa beliau telah memperlajari kitab tersebut sebanyak enam kali dari Abu Daud. Kitab sunan tyersebut adalah salah satu kitab terbaik dan terlengkap daalam bidang hadist-hadist hukum. Para ulama telah sepakat menetapkan beliau sebagai hafist yang sempurna, pemilik ilmu yang melimpah, muhaddist yang terpercaya, wira’iy dan mempunyai pemahaman yang tajam baik dalam bidang ilmu hadist dan lainnya

11.    Imam Al-Tirmidzi (200H – 279 M = 824 M – 892M )
Imam Tirmidzi mengambil hadis dari ulama hadis yang kenamaan, seperti Qutaibiah ibn Sa’id, Ishaq ibn Musa, Al-Bukhari dan lain-lainnya. Orang-orang banyak yang belajar hadist pada beliau dan diantara sekian banyak muridnya antara lain Muhammad ibn Ahmad ibn Mahbub. Imam Tirmidsi menyusun satu kitab Sunan dan Kitab Ilal  Al-hadist. Setelah selesai menulis kitab ini menurut pengakuannya, Hijaz, Iraq dan Kurasan meridhainya serta menerimanya dengan baik . “Barang siapa yang menyimpan kitab ini dirumahnya “ kata beliau “seolah olah dirumahnya ada seorang nabi yang selalu bicara”. Pada akhirnya kitab beliau menerangkan, bahwa semua hadis yang terdapat dalam kitab ini adalah ma’mul (dapat diamalkan).

12.    Imam Al-Nasa’I (215 H – 303 H = 893 M – 915 M)

Ada beberapa karya-karya Al-Nasa’I, dari sekian banyak karyanya tersebut yang utama ialah  kitab ini dimaksudkan sebagai hadiah buat gubernur  Ramlah. Kitab sunan ini adalah Kitab sunan yang muncul setelah Shahihain yang paling sedikit hadist dhaifnya tapi yang paling banyak perulangannya. Bahkan hadisdt tentang niatnya diulang sampai 16 kali. Setelah beliau selesai menyusun Sunan Kubra, beliau lalu menyerahkannya kepada Amir Al-Ramlah. Setelah beberapa decade Sunan Al-Nasa’i ini mendapat komentar pendek dari Al-Suyuti yang tertuang dalam kitab Zahrur Raba’ ala Al-Mujtaba.

13.    Imam Ibnu Majah (207 H -273 H = 824 M – 887 M)
Ibnu Sunan Majah adfalah nama nenek moyang yang berasal dari kota Qazwin, salah satu kota di iran. Sebagaimana halnya para muhaddisin dalam mencari hadis-hadis memerlukan perantauan ilmiah beliaupun juga berkeliling di beberapa negeri untuk menemui dan berguru hadis kepada para ulama hadis. Kitab sunan ini kemudian terkenal dengan Sunan Ibnu Majah. Sunan ini merupakan salah satu sunan yang empat. Dalam sunan ini banyak terdapat hadist dhaif, bahkan tidak sedikit hadist yang munkar. Kitab Ibnu Majah ini berrisikan 4.314 hadis, dan sebanyak 3.002 telah dibukukan oleh pengarang Kitab Al-Ushul Al Sittah lainnya, baik seluruhnya ataupun sebagiannya. Jadi 1.339 hadis diriwayatkan Ibnu Majah sendiri. Bila Al-Tirmidzi dan Abu Daud meriwa yatkan hadish lemah selalu di beri kerterangan dalam kitab mereka, lain halnya dengan Ibnu Majah. Beliau tidak memberikan komentar apapun. Bahkan untuk hadist yang dusta pun beliau hanya mengambil sikap diam. Al-HJfidz Al-Muzy juga berpendapat bahwa hadis-hadis gharib yang terdapat dalam sunan ini kebanayakan adalah dha’if. Sunan Ibnu Majah ini mempunyai  sisi kelebihan yaitu tidak banyak mengalami perulangan dan ia adalah terbaik dari sisi penyusunan judul perjudul dan sub-judul. Hal ini banyak diakui oleh para ulama. Hanya sedikit Kitab yang memberikan syarah sunan Ibnu Majah ini. Salah satu yang paling baik adalah karya Mughlata’I yang berjudul Al-I’lam bi sunanihi ‘Alaihi Al-Salam. Selain itu Al-Suyuthi juga mensyarahinya dalam Mishbah Al-Zujajah ‘Ala Sunan Ibnu Majah.

Bacaan sebelumnya :
Tanya Jawab Soal Hadis
Para Periwayat Hadis Predikat Al-Mukatsirun fi Al-Riwayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih