Jumat, 02 Desember 2011

Birokrasi UIN Alauddin Vs Kantin



Nasib tak tentu Kantin di UIN


Ironis memang, di zaman sekarang banyak orang bilang tidak ada lagi keberpihakan pada rakyat kecil. Hal ini pula yang menjadi momok menyedihkan di kalangan pemilik kantin yang ada di uin sekarang. Tidak kurang dari 80 kanti yang sekarang ini menggantungkan nasib di kampus hijau Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan sebentar lagi mereka harus mencari cara untuk tetap bisa ada seperti biasa melayani mahasiswa yang selalu mencari makan dan minum sesuai kantong yang juga minim. 


Kafetaria yang disebut-sebut akan mewadahi kantin-kanti yang ada di UIN tak cukup untuk menampung seluruh kantin yang sekarang ini masih membuka lapaknya di kampus hijau. Banyak syarat di berikan untuk pengelolah kantin yang masih tetap ingin berjualan di UIN. Mulai dari perizinan sampai pungutan biaya pertahun yang ditetapkan pihak rektorat.

Tak banyak untung yang mereka dapatkan, kesyukuran tersendiri bagi pedagang untuk tetap ada melayani mahasiswa. Keputusan pihak Birokrasi kampus yang akan menertibkan kanti-kanti yang dianggap membuat kampus terlihat kumuh melatar belakangi pembangunan kafetaria yang nantinya akan disewakan. Tak mudah dan murah untuk dapat mengisi gedung yang rancang eksklusif dan mewah. Menjadi pertanyaan besar sampai sekarang ini, "apakah dengan adanya kafetaria yang akan memperindah kampus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa sendiri?", yang notabenenya masyarakat kampus yang paling tinggi populasinya. Masyarakat yang belum bisa menerima kenaikan harga makanan dan minuman sebagai kebutuhan primernya.


Para pedagang yang telah mendapatkan izin untuk berjualan di kafetariapun akan mulai memutar otak, mensiasati, dan mencari cara agar pelanggan tetap ada. Entah bagaimana caranya, akankah dengan mengurangi porsi, mutu ataukah dengan menaikkan harga agar mutu dan porsi tetap seperti biasa. Masalah kebutuhan pangan, kita mencoba mendapatkan dua aspek mutu dan porsi, namun ketika keadaan ekonomi yang relatife di kalangan mahasiswa membuat harga kadang menjadi aspek utama. Akankah kemewahan menjadi kebutuhan yang urugen bagi mahasiswa saat ini, dan melupakan kebutuhan yang sesungguhnya patut di penuhi yaitu kebutuhan primer yang akan mendukung segala kebutuhan di luar kemewahan yang sekunder sifatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih