Kamis, 15 Desember 2011

Pelangi di Genggaman Hujan


Rani, si hujan. begitula mereka memanggilku.
Ibu selalu bilang hujan adalah inspirasinya.
Ayah seorang tukang reparasi payung keliling.

ayah dan ibu bertemu disaat hujan dan karena sebuah payung pinjaman ibu jatuh cinta pada ayah, cerita ini selalu menjadi kisah romantis dikeluagaku melebihi roman Romeo dan Juliet serta roman Laiyla majnun.

ibu memberiku nama Rani. Awalnya ibu ingin aku memiliki nama Rain bila aku lahir sebagai laki-laki, namun aku hadir dengan sosok seorang gadis maka ibu memberiku nama Rani.

Kalau ibu selalu bilang hujan adalah inspirasi hidupnya maka aku menganggap hujan itu adalah bagian dari hidupku. Saat musim hujan ayah selalu membelikanku sesuatu yag sangat aku inginkan. Aku selalu menunggu datangnya musim hujan karena ayahku selalu dapat uang lebih pada saat itu. Namun beberapa orang bilang hidup kami suram karena hanya mengharapkan kedatangan hujan untuk suatu kebahagian. Kami dianggap menggantungkan nasib pada hujan. ahh aku tak peduli kata mereka.

Mereka tak tau selalu ada pelangi di keluarga kami walau kami kadang tak secerah mentari kehidupan kami tetap hangat. Ibu selalu bilang ayah memilih bekerja sebagai tukang reparasi payung karena tak ingin keluarga kami hidup dalam relung mendung karena dosa haram. Ayah berhenti bekerja sebagai meneger perusahaan karena hampir frustasi oleh tekanan rekannya yang mengajaknya memakan uang suap anggota DPR saat menangani proyek besar pembangunan kota. Aku bangga dengan Ayahku, ia dengan sangat bahagia dengan profesinya sekarang. Ayah selalu bilang pekerjaannya membuatnya bahagia karena ada kemuliaan yang ia rasakan saat memperbaiki tiap payung pelanggannya. Payung akan selalu membantu seseorang agar tidak menyalahkan hujan. "Hujan bukan musibah tapi ia anugrah" ujar ibu.

Aku ingin hujan...karena setelah hujan aku baru bisa melihat pelangi. takkan ada pelangi kalau hujan tak ada. Saat kecil aku senang bermain hujan, hingga menunggu pelangi. Sekarang aku telah dewasa, tak ada ibu yang selalu mengingatkanku berhenti bermain hujan agar tak sakit. Tak ada ayah yang memperbaiki payungku yang rusak karena seringku pakai. Namun hujan selalu jadi tempatku berkeluh kesah dan saat berhenti, pelangi muncul dengan semangatku yang tumbuh kembali. Seperti ayah dan ibu, Hujan selalu ada bersama pelangi.

Cerita fiksi, Karya Mitanhamy

2 komentar:

  1. I suggests you to read BUMI CINTA by habiburrahman, to make your sense of writing more powerful.

    BalasHapus

Terima Kasih