Jumat, 16 Desember 2011

Telapak Kaki Ibu

Perlahan Raihan masuk kamar yang beraroma sangat buruk itu, aroma zat pengawet mayat....

namun sedihnya membuat indra penciumanya seakan hilang saat petugas rumah sakit menunjukkan sesosok mayat yang tertutupi kain putih. Ia haya bisa melihat kaki, sontak ia sedih saat melihat label dikaki itu bertuliskan Rani Rahayu,,,

Ia tak percaya, tak mampu dirinya membuka kain putih itu dan melihatnya.
"Apa bapak mengenali nama itu?" petugas itu bertanya pada Raihan.
"saya tidak ingin melihat wajahnya pak" dengan wajah menunduk Raihan tak sanggup menyembunyikan harunya.
"Ia sebaiknya bapak tak usah melihat mayat itu karena mayatnya hangus dan tidak dapat pula dikenali wajahnya"
"Pak adakan bukti lain kalau betul mayat ini adalah mayat Rani Rahayu"
"ada!, kami mendapati surat ini tak jauh dari TKP dan bertuliskan nama Raihan Ramadhan"

"Betul, surat itu persis tulisanya" dalam batin Raihan membaca....

Untuk Raihan Ramadhan anakku…
Assalamualaikum raihan,,
 
Raihan, Raihan anakku sayang, bunda sangat mencintaimu nak, hanya raihan yang bunda miliki, tak ada harta yang melebihi bernilainnya hidup mu nak. Bunda sangat bahagia melihat engkau hadir di dunia ini menemani bunda yang merasakan dunia ini hanya ruang kosong, namun diri mu ada karena kebaikan Allah yang selalu mengampuni dosa hambanya seperti bunda yang selalu berdosa pada-Nya. Bunda sedih nak, engkau mutiara bunda yang harus ternodai karena bunda. Kilau mu redup karena bunda. Orang-orang tak tau betapa indahnya kilau mu nak. hanya mata batin bunda yang dapat melihatnya. Walau semua orang mencelah diri mu yang lahir tanpa sosok ayah dalam hidup mu dan  harus lahir dari rahim bunda yang penuh dusta tapi kau tetap mutiara bunda yang akan selalu berkilau. Batin bunda tenang saat melihat mu nak. Maafkan bunda kerena kau harus tertatih-tatih letih karena bunda. 

Maafkan bunda yang memberi mu sudut gelap di dunia ini, tak secerah dunia mereka namun kau tetap berkilau di relung hati bunda. Terimalah tiap maaf ini raihan, entah pengorbanan apa yang dapat menghilangkan rasa bersalah bunda pada mu. Hingga akhir-akhir usaha, bunda tetap menorehkan kelam dalam hidup mu. Penyakit HIV/AIDS ini akan membunuh bunda yang sebenarnya juga membunuh kebahagiaan mu. Walau apapun yang bunda lakukan untuk jauh dari kehidupan mw kau tetap ingin menyinari bunda. Begitu keras jiwa mu nak. Kilau mu betul-betul meluluhkan hati bunda yang keras untuk lenyap dalam hidup mu.
Kini hidup mu sudah tak sendiri, ada belahan jiwa dan mutiara mu yang sama sinarnya dengan mu. Bunda tak ingin torehkan kelam pada mereka. Biarkan akhir hidup bunda merasakan hukuman setimpa dengan kesalahan bunda selama ini pada mu. Biar bunda hanguskan segala kelam yang bunda goreskan dalam hidup mw.
Jangan menangis Raihan, bunda sudah cukup sedih melihat diri mu  menyembunyikan air mata itu. Bunda harap kau menemukan jasad bunda dan coba kau lihat telapak kaki bunda. Apakah surga yang selama ini dijanjikan Allah yang ia letakkan di telapak kaki setiap ibu juga ada untuk mu nak?. Bunda ragu tak bisa memberi mu surga itu. telapak kaki bunda tak sesuci telapak kaki ibu lainnya. Namun bunda yakin Allah akan adil untuk  mu nak. Kalau surga itu tak ada di kaki bunda, ku harap ibu dari anak-anak mu dan ibu dari belahan jiwa mu bisa memberikan surga itu.
Maafkan Bunda Raihan….


dengan isakan air mata, raihan mengengam surat itu dan memeluk kaki Bundanya yang masih lembut dan tak hangus termakan api. 

Dikaki bundanya Raihan berdoa dan menitipkan balasan surat bunda...


"Maafkan Raihan Bunda, Raihan tidak pernah menganggap bunda adalah beban dan raihan tidak perna merasa bunda adalah kelam dalam hidup Raihan. Raihan yakin Bunda adalah salah satu Ibu terbaik yang Allah ciptakan di muka bumi ini dan Raihan bersyukur memiliki ibu seperti bunda".

Cerita Fiksi Mitanhamy untuk Hari Ibu yang penuh kasih sayang...

1 komentar:

Terima Kasih