Senin, 30 Januari 2012

Galeri Benda Prasejarah Kerajaan Gowa Sul-Sel

Assalamualaikum..

Senang sekali kali ini bisa share ke semua penghuni dunia maya tentang daerah kebangganku yaitu Sulawesi Selatan (Sulsel) yang tak kalah dengan daerah lain yang punya cerita sejarah kerajaan zaman dahulu. Kali ini sedikit bagi cerita perjalanku Study Tour and Fun ke beberapa tempat bersejarah yang ada di Gowa dan Makassar. Salah satu Kerjaan yang terkenal yang ada di Sulsel adalah Kerajaan Gowa dan tempat yang paling tepat untuk mencari tau tentang sejara kerajaan Gowa adalah Balla'Lompoa. Sedikit penjelasan Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan

Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya pada abad ke-17.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan pada saat masuk di Balla'Lompo. 
Museum Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng  Matutu, pada tahun 1936. Dalam bahasa Makassar, Balla Lompoa berarti rumah besar atau rumah kebesaran. Arsitektur bangunan museum ini berbentuk rumah khas orang Bugis, yaitu rumah panggung, dengan sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter untuk masuk ke ruang teras. Seluruh bangunan terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Bangunan ini berada dalam sebuah komplek seluas satu hektar yang dibatasi oleh pagar tembok yang  tinggi.

Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang utama seluas  60 x 40 meter dan ruang teras (ruang penerima tamu) seluas 40 x 4,5 meter. Di  dalam ruang utama terdapat tiga bilik, yaitu: bilik sebagai kamar pribadi raja,  bilik tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, dan bilik kerajaan. Ketiga  bilik tersebut masing-masing berukuran 6 x 5 meter. Bangunan museum ini juga  dilengkapi dengan banyak jendela (yang merupakan ciri khas rumah Bugis) yang  masing-masing berukuran 0,5 x 0,5 meter.




Senjata Perang Tradisional Kerajaan Gowa


Museum ini berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa. Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di bagian depan ruang utama  bangunan, sebuah peta Indonesia  terpajang di sisi kanan dinding. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga  Kerajaan Gowa  mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng  Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang di letakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini.





Senjata Perang Modern Kerajaan Gowa

Museum ini pernah direstorasi pada tahun 1978-1980. Hingga saat ini, pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan dana sebesar 25 juta rupiah per  tahun untuk biaya pemeliharaan secara keseluruhan.




Tombak Perang Prajurit



Perabotan Kerajaan


Saat masuk ke dalam Balla Lompoa, kita akan disuguhi pemandangan bersejarah yang membawa kita ke zaman kerjaan Gowa. Banyak benda-benda prasejara yang disimpan di tempat tersebut dan masih dijaga dengan baik.



Perhiasan para Raja, Keluarga kerajaan dan Bangsawan




Perabotan Kerajaan yang terbuat dari logam





Kitab dan Buku-buku bertuliskan huruf lontara dan Arab




Tekoh dan kotak perhiasan kerajaan















Alat Musik khas Kerajaan Gowa





Alat tenun kain Kerjaan Gowa

Selasa, 24 Januari 2012

Novel Negeri 5 Menara Penuh Motivasi

Novel Negeri 5 Menara, novel ini pertama saya lihat pas nonton Kick Andy. Penasaran baca novelnya saat mendengar kata "man jadda wa jada" yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat, kata motivasi yang luar biasa. Di kampus UIN Alauddin Makassar pada saat mata kuliah bahasa Arab, dosen kami juga sering menyebut kata motivasi ini untuk menyemangati kami untuk menuntut ilmu. sebenarnya masih banyak lagi kata-kata motivasi seperti man jadda wa jada cuma kebetulan saja kata-kata inilebih  populer di bahas semua orang karena novel 5 menara. Untuk lebih jelasnya tentang arti man jadda wa jada, sedikit sinopsis dari novel  yang menjelaskan betapa hebatnya kata penuh motivasi ini.

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. 

Novel ini banyak mengajarkan nilai-nilai keislaman, novel ini juga menggambarkan nasib para perantau pencari ilmu yang ikhlas di jalan Allah walau penuh kebimbangan di tengah globalisasi yang mulai menghilangkan nilai luhur ilmu keislaman. Salah satu yang buat novel ini menarik menurut saya pribadi adalah banyaknya kutipan-kutipan bahasa arab, saya seperti belajar banyak kosa kata arab lewat novel. Saat selesai membaca novel ini saya termenung cukup lama. Saya termenung membayangkan seperti apa  takdir yang Allah berikan suatu hari nanti. Apakah aku akan sukses mencapai apa yang saya impikan atau tak sesuai yang saya bayangkan. Bisa jadi tak sesuai namun lebih dari yang aku bayangkan. Novel ini menjawab pertanyaan saya, bahwa takdir tak semata-mata Allah berikan pada hambanya, tapi Allah juga melihat seberapa besar usaha yang kita berikan untuk impian yang kita inginkan. Oleh karena itu takdir menurut saya bisa kita ubah bila kita punya keinginan untuk lebih baik dari yang apa ditakdirkan.

Jumat, 20 Januari 2012

Surat Kecil Untuk Rosulullah


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

Salam dan salawat selalu kujunjungkan padamu ya Rosulullah kekasih Allah yang selalu setia.

Entah ingin memulai dari mana surat ini akan kutujuh ya Raoulullah, karena engkau adalah idola terhebatku sepanjang masa. Aku lahir didunia ini dengan bimbingan dari orang tua yang juga umat setiamu. Saudara yang selalu menceritakan sosok dan perilakumu.  Tak pernahku lihat wajahmu dalam wujud apapun. Ingin sekali hamba bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi. Engkau yang sering disebut membawa cahaya dalam kegelapan dunia membuatku terbuka akan peranmu. 
Salam dan salawat bagimu ya Rosulullah sebagai wujud cinta umatmu. Apa yang membuat diri ini rindu kepadamu ya Rosulullah? Mungkin sosok mulah yang umat sekarang ini dambakan di tengah carut-marut dunia. Hanya As-sunnah sebagai obat rindu kami padamu. Al-qur’an yang engkau cintai akan selalu kami jaga ya Rosulullah. 
Tak ingin kami menodai perjuanganmu di jalan Allah. Bendera khilafahmu akan selalu berkibar di semangat kami memperjuangkan agamamu, agama kami  dan kebanggaan kami. Semangat dakwamu akan jadi pendorong dakwa kami agar tetap bertahan walau ujian keimanan semakin keras. Tiap wahyu yang kau terima sangat berarti bagi kami, anak, cucu, keturunan kami. Bahagia bisa menjadi umat yang selalu kau cintai ya Rosulullah.

Minggu, 01 Januari 2012

Dialog Lucu Tahun Baru 2012




Kemarin malam tahun baru 2012, ada beberapa dialog yang menarik menjelang peringatannya

Dialog tman-teman…
teman1 : ehh lamanya selesai praktikum, saya sudah tidak sabar pulang kampung.
teman2 : kau enak, kalau saya tidak bisa pulang kampung karena kampungku jauh.
saya : Mmmmm…kalau saya sie tiap hari pulang kampong wkwkwk. Sayakan Orang asli sini!
teman1 dan 2 : edeeddee…

Dialog di kelas
kelas ilmu hadis setelah diskusi selesai
Pak dosen: sekarang saatnya pertanyaan lepas
Teman1 : Pak saya mau bertanya, gimana hukumnya dalam islam merayakan malam tahun baru?
Pak dosen : Dalam islam hanya 1 kalenderisasi kita akui yaitu kalender hijria jadi tahun baru nanti itu tahun barunya orang kafir.
Saya : *dalam batin “Mmmm artinya Indonesia Negara kafir”
Teman 2 : Artinya pak kita ada di Negara Kafir pak, kan Indonesia pakai kalender masehi bukan hijria?
Sejenak Bapak dosen keningnya berkerut.

Dialog di rumah Tante
tante : Mau kemana?
saya: Mau pulang kerumah Ummi
tante : ada acara apa memang sbentar?
saya : yahh inikan hari sabtu, biasanya memangkan saya pulang kerumah ummi.
tante : lupa yha sebentar malam tahun baru.
saya : tau ko' tapi bukan karena tahun baru saya pulang, tahun barukan untuk orang kafir kata pak dosen.
tante kesal karena pembicaraan tambah ribet.

Dialog dengan nenek
nenek: mita jangan lupa kasih tau bapak mu belikan nenek bohlam lampu, kar sudah 3 hari gelap kamarku.
saya : nanti yah nek, bentarkan malam tahun baru.
nenek : walaupun malam tahun baru nenek juga tidak bakalan bisa lihat kembang api dikamar
saya : *dalam batin “Ngek, nenek nga nyambung”

Dialog dengan ummi
Ummi : bentar, sebelum jam 12 kamu jangan lupa panaskan sup yang ummi buat
saya: Ocee
jam 11
saya :Mmmm dah lapar Ummi, saya panaskan sajalah sekarang
Ummi: ia panaskan saja
jam 12
saya: wahh kembang apinya indah
adek: yah dah abis!!1
kakak: waktunya tidur
ummi: kenapa tidak makan, kan sudah dipanaskan
saya: udah abis ummi, supnya dah dari tadi kami makan.

Dialog dengan saudara
Setelah jam 12, selesai melihat kembang api
saya: ahh belum ngantuk
saudara 1 : ia, kalau gitu kita nonton film
saudara2 : iya dilaptop ada film sadis tapi lucu
saudara3: sadis tapi lucu?penasaran
setelah nonton
saya: wkwkwk cari film yang kayak gitu lagi
saudara 2: nanti dehh saya suru sutradaranya, buat yang kayak gitu lagi
saya: dalam batin “Ngek”

Sedikit Cerita
Saya tinggal dirumah tante bersama nenek dan kedua saudara selama kuliah karena lebih dekat dari kampus. Tiap Week and pulang kerumah Ummi (Mama). Hobi nonton, makan, jalan-jalan. Kuliah di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Perayaannya tak berarti apa-apa, yang pasti saya jadikan awal tahun ini 
kaki melangka pasti menjelajahi arti dan makna
karena tiap senti waktu adalah ruang untuk mencari jati diri. 
Memperbaiki yang lalu, 
mempertahankan yang baik 
meninggalkan yang buruk 
dan memulai yang baru

Terima Kasih