Selasa, 24 Januari 2012

Novel Negeri 5 Menara Penuh Motivasi

Novel Negeri 5 Menara, novel ini pertama saya lihat pas nonton Kick Andy. Penasaran baca novelnya saat mendengar kata "man jadda wa jada" yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat, kata motivasi yang luar biasa. Di kampus UIN Alauddin Makassar pada saat mata kuliah bahasa Arab, dosen kami juga sering menyebut kata motivasi ini untuk menyemangati kami untuk menuntut ilmu. sebenarnya masih banyak lagi kata-kata motivasi seperti man jadda wa jada cuma kebetulan saja kata-kata inilebih  populer di bahas semua orang karena novel 5 menara. Untuk lebih jelasnya tentang arti man jadda wa jada, sedikit sinopsis dari novel  yang menjelaskan betapa hebatnya kata penuh motivasi ini.

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. 

Novel ini banyak mengajarkan nilai-nilai keislaman, novel ini juga menggambarkan nasib para perantau pencari ilmu yang ikhlas di jalan Allah walau penuh kebimbangan di tengah globalisasi yang mulai menghilangkan nilai luhur ilmu keislaman. Salah satu yang buat novel ini menarik menurut saya pribadi adalah banyaknya kutipan-kutipan bahasa arab, saya seperti belajar banyak kosa kata arab lewat novel. Saat selesai membaca novel ini saya termenung cukup lama. Saya termenung membayangkan seperti apa  takdir yang Allah berikan suatu hari nanti. Apakah aku akan sukses mencapai apa yang saya impikan atau tak sesuai yang saya bayangkan. Bisa jadi tak sesuai namun lebih dari yang aku bayangkan. Novel ini menjawab pertanyaan saya, bahwa takdir tak semata-mata Allah berikan pada hambanya, tapi Allah juga melihat seberapa besar usaha yang kita berikan untuk impian yang kita inginkan. Oleh karena itu takdir menurut saya bisa kita ubah bila kita punya keinginan untuk lebih baik dari yang apa ditakdirkan.

4 komentar:

  1. iya...ini salah satu buku favoritku, bentar lagi bakal di filmkan tuh Namy...kita nonton ya, Insya Allah
    btw background blognya mirip punya kak Uni^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia kak, InsyaAllah nonton.
      ni Blog Backgroundnya dah nga bsa dganti. dah lama mau ksi templet yg bagus tp nga bsa2 jg MMmm Hikss..

      Hapus
  2. sepakat!
    novel ini memang menginspirasi..nd sabar tunggu tanggal mainnya, 1 Maret katanya.hehe ^^v

    #Man Jadda Wajada ^o^/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga-moga dah Filmny jg keren kayak novelnya.
      Keep spirit
      man jadda wa jada ukhti

      Hapus

Terima Kasih