Kamis, 23 Februari 2012

Cerita Bersambung "Nyanyian Ayah part II"


Langit mendung dan udara mulai dingin. Sesekali terasa rintikan hujan satu persatu jatuh tak bersamaan. “sepertinya akan turun hujan”batin nhamy melihat langit yang berawan gelap. Dengan cepat Nhamy mengendarai motornya dan menembus kemacetan. “akhirnya sampai juga” tanpa ragu nhamy membuat gaduh lorong tempat tinggal anggi yang ramai oleh warga yang bersantai di pekarangannya.

“anggi..anggi,!!! Pi..Pi...Piii (suara klakson)”
Tiba-tiba sosok wanita paruh baya muncul dari dalam rumah menuju pintu, heran dengan suara gaduh yang ditimbulkan nhamy.

“oma...”
“oh nhamy, masuk nak saya kiranya siapa”
“maaf oma..”
“tidak apa-apa, ayo cepat masuk sbentar lagi hujan” dengan senyum hangat oma, ia menyambut Nhamy dan memanggilnya  masuk.

Didalam rumah, Nhamy melihat seorang lelaki tua yang seluruh rambutnya sudah dipenuhi rambut putih. Siapa lagi kalau bukan Opa. Opa yang selalu kelihatan gagah dan sehat bugar senang menonton berita tv. Saat nhamy masuk opa menoleh pelan dan melihat fokus pada Nhamy, samar-samar ia melihat Nhamy . Umurnya yang tua membuat penglihatannya tak sejerni dulu.

“assalamualaikum, opa apa kabar?
“walaikumsalam, iya alhamdulillah baik nak. Cari Anggi yha? Anggi ada dalam kamarnya, masuk saja langsung!”

Di depan pintu kamar Anggi, Nhamy berhenti sejenak sebelum mengetuk pintu kamarnya. Ia kembali teringat dengan isi sms anggi.

Inbox (1) Anggi-lope
“nhamy minta tolongka, temani saya menginap di rumanhnya bapakku kodong. Minta tolong sekali nhamy, saya tidak berani  bermalam sendiri karena ada masalah dengan saudara tiriku. Saya juga takut dengan sikap istrinya bapakku. Semalam saja nhamy, sebentar malam itu acara 40 hari meninggalnya almarhum bapakku.”
Merenung sebentar, nhamy bimbag sejenak saat membac pesan singkat anggi yang memintanya untuk bermalam bersama di rumah Almarhu Bapaknya. Kisah yang paling mengagetkan nhamy saat mengetahui peristiwa meninggalnya bapak anggi. Belum cukup sebulan ia mengetahui asal-usul bapaknya ia harus merasakan duka mendalam dengan berita tersebut. Pupus sudah kesempatannya memeluk dan merasakan kebersamaan bersama ayah kandungnya. Nhamy merasa sangat bersalah ketika berita itu ia terima langsung dari anggi, nhamy tidak bisa ada disamping anggi untuk memberinya semangat. Saat itu nhamy sedang sakit dan tak mampu keluar rumah. Saat acara taksiyah bapak anggi, nhamypun tak bisa datang karena ada peliputan acara pentas seni malam di kampus.

“tok..tok...tok”
Anggi..Anggi, saya sudah datang nie’”
Terdengar dari dalam kamar langkah pelan menuju pintu. Anggi membuka pintu perlahan dan tiba-tiba.
“dedeee lamamu
“maaf..maaf” Nhamy melihat pipih anggi basah, matanya bengkak. Sepertinya anggi habis menangis.
“ayomi paeng cepat, terlambatmaki. Simpan mi disini motor mu” dengan galak Anggi mengusili Nhamy.

Setelah berpamitan pada opa dan oma, Nhamy dan Anggi menuju ke kediaman bapaknya di jalan Syeh Yusuf-gowa. Selama perjalanan Nhamy terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa Anggi tak menceritakan permasalahannya tentang saudara tiri dan ibu tirinya. Nhamy menunggu Anggi yang memulai pembicaraan. Dengan mesra Nhamy dengan tangannya membentuk lingkaran di pinggang anggi yang tak cukup panjang nhamy lingkari. Nhamy memeluk hangat anggi, cuaca pada petang itu dingin. Mendung diliputi awan gelap menggeser awan putih dan menutupi matahari yang menuju barat.

“ ehh tumben mau mesra-mesraan gini?”anggi menyeletup
“rinduka nie, lama maki tidak jalan bareng”
“sory yha Nhamy tiba-tiba ku suruhko temanika, baru banyak kesibukan mw”
“tidak ji, jd kenapaki orang dirumahnya bapak mu?”

Hingga beberapa menit Anggi memberi jedah pembicaraan Nhamy yang bertanya permasalahnya.

“ceritanya panjang Nhamy, ini masalah saya dengan kedua saudara dari bapakku” Anggi tidak perna mau memanggil kedua saudara dari bapaknya dengan sebutan tiri karena menurutnya saudara seayah adalah kandung.

Yuyun Nhamy, Yuyun kakakku ternyata seorang pelacur. Dia sudah melayani banyak laki-laki. Ia bergerak sendiri tanpa pakai jasa germo apapun. Pertemuannya dilakukan di hotel dan punya dua pelanggan tetap yang sering dia temui. Saya sering di bawa bertemu pelanggannya di hotel”.

“astagfirullah, masa’. Kenapa bisako nah kasi tau? Sampai –sampai nah bawako juga ke hotel?
“ tenang, dia bawaka ke hotel Cuma temani dia, bukan untuk jadi pelacur juga”
“kenapa bisa berani mengakui profesinya sama kau?”
“saya bohong nhamy kalau saya juga sudah tidak perawan supaya dia mau terbuka dengan harapan bisa lebih akrab”
“dasar Bodoh, terlalu beraniko”

Nhamy jengkel dengan keputusan yang menurutnya bodoh dilakukan oleh sahabatnya itu. Walau Nhamy mengerti keinginan kuat Anggi yang berharap bisa diterima sepenuhnya di keluarga almarhum bapaknya. Bukan hanya perhatian dari Opa dan Omanya, ia juga ingin seluruh keluarganya bisa menerima keberadaanya sebagai anak dari bapaknya. 

Anggi kamu tidak mikirnya sebelumnya, kalau kebohongan mu itu bodoh sekali?”
“ahh biar mi dehh Nhamy ta’kalami, nha setelah ku tauki kalau Yuyun itu pelacur dia sering cerita banyak tentang hidupnya. Ia juga sering memberi uang sama saya setelahku temani ketemu pelanggannya” Anggi memang tipikal orang yang acuh.

“ehh kau itu makan uang haram”dengan nada emosi Nhamy mengingatkan Anggi.
“iyha ku tau ji” seakan tak peduli walau Anggi tau perbuatannya itu sangat ia benci.
“lanjut dulu ceitaku baru ceramahko, nah ternyata uni adeknya yuyun cemburu melihat kedekatanku sama kakanya. Dia sms baru na bilang-bilangika Nhamy ” sambil mengendarai motor Anggi menjelaskan kepada sahabatnya yang masih marah persoalan yang terjadi.
“bunyi smsnya apaan?
“ dia itu bilang kalau saya so’cari perhatian sama opa dan oma, terus dia jengkel karena merasa kakaknya sekarang dekat sama saya. Dia juga singgung masalah keperawanan, kyaknya si yuyun sudah cerita sama adeknya. Lalu saya balas, kenapaki dek? Apa yang kau pikirkan itu salah besar. Masalah saya perwan atau tidak bukan urusan mu”.

Nhamy terus berpikir keras mendengar cerita anggi yang sangat kusut. Keningnya berkerut dan sesekali menghela nafas yang berat. Ia merasa sangat jahat sebagai seorang sahabat karena baru mengetahui permasalahn tersebut. Ia sering menceritakan keluh kesahnya pada anggi setiap kali sedang dalam masalah sedangka ia tak perna bertanya apakah yang sedang sahabatnya rasakan.

“sebentar lagi kita sampai, nhamy sebentar bohongko nah kalau ditanya-tanya tentang kejadian tadi yang saya ceritakanko! Pokoknya kau harus ada di pihakku”
“iyo ji, demi kau  tapi tidak perlu bohong ji kayaknya bisa ja’ belako”
“iyo paeng, z tau kau orangnya cerdas” anggi mengerti betul kalau nhamy sangat sulit berbohong. Wajahnya yang lugu tidak mampu berekting. Ia sangat mudah ditebak saat berbohong.
“yang ini mie lorongnya nhamy” dengan antusias anggi menunjukkan lorong yang sedang ia masuki.
“sepinya die’ “
“namanya juga perumahan”

Rumah demi rumah dilalui, semua ukuran dan bentuk dilorong itu sama persis hanya warna yang membedakan. 

“pasti rumahnya ramai” prediksi nhamy yang dari tadi menunngu sampai
“iyha lah, semua keluargaku katanya mau datang”
Beberapa menit mereka saling berdiam diri. Hingga mesin motor Anggi terasa memelakan kecepatan hingga berhenti pada sebuah rumah.
Anggi rumahnya dimana?”
“yang ini Nhamy, tapi ko’tidak ramai di’ ?“

Melihat rumah berwarna hijau sederhana berlantai dua tersebut, Nhamy merasa rumah ini memang betul-betul sepi. Tak terdengar suara apapun, tak banyak orang didalamnya. Tidak mungkin acaranya selesai secepat itu dan tak mungkin secepat itu pula rumah ini sepi setelah acara. Nhamy menoleh melihat ekspresi Anggi yang tak kala bingung namun ia tak ingin berkata apa-apa. Anggi menuju pintu samping disusul oleh Nhamy dari belakang.

“assalamualaikum”bersamaan, Nhamy dan Anggi mengucapkan salam sambil masuk rumah. Dari pintu pertama meraka melewati ruangan yang berisi bendah-bendah yang mirip dengan benda yang ada di rumah sakit. Telescop, tensi darah, lemari obat dan yang mirip baju laboratotium seperti milik nhamy juga ada. Setelah melewati ruangan yang bernuansa rumah sakit tadi, yang  bercat hijau  agak mulai buram, anggi membawa nhamy masuk keruang selanjutnya yang bercat dan bernuansa beda. Tiba-tiba kami masuk dalam dapur dan melihat sosok lelaki tua sedang menikmati hidangannya. Ia menoleh pelan dan memfokuskan pandangannya yang melirik kepada anggi.

“ehh Anggi, kenapa baru datang nak, kemari itu acaranya almarhum bapakmu?”dengan penuh antusias lelaki tadi bertanya
“saya kira acaranya hari ini opa” mendengar kata-kata tadi, ekspresi Anggi berubah, sangat bingung terlihat.

 Nhamy  bingung mendengar keanehan tersebut dan baru tau kalau lelaki tua tadi adalah opanya Anggi. Mereka bercakap sangat akrab, namun percakapannya seperti terjadi sesuatu yang salah. Sepengetahuan Anggi acara peringatan 40 hari meninggal almarhum bapaknya adalah hari ini, namun ternyata malah acaranya sudah dilaksanakan kemarin malam.

“kamu kemarin disms, di telfon tidak aktif”dengan wajah bingung Opa menjelaskan kepada anggi.
“Mmmmm..”Anggi hanya menganggu tak bereksprsi mendengar pernyataan opanya.

Wajahnya terlihat kacau. Anggi sangat bingung dan mulai tak fokus. Ia melirik kemana-mana, tubunhya tak tenang. Ia terus saja mondar-mandir dan mengelilingi meja dan meraih apapun yang ada didepannya.

“oma  ada dimana Opa?”
“ada di dalam kamar sedang berbaring”

Anggi khawatir dengan kondisinya yang merasa mulai tersudutkan. Ia melangka perlahan kedalam kamar Omanya yang tidak jauh dari dapur.

Nhamy yang masih duduk di kursi depan meja makan hanya diam kebingungan. Ia ingin sekali mendengar masuk dan mengikuti Anggi yang sedang bercakap dengan omanya. Tapi ia merasa Anggi butuh waktu berdua dengan Omanya. Tak lama Anggi keluar dari kamar, dengan wajah yang kacau seperti sedang memikirkan sesuatu dan sesaat matanya berbinar seakan mengerti sesuatu. Masalah apakah yang terjadi?batin Nhamy bertanya tentang masalah miss komunikasi yang sepertinya terjadi antara keluarga ini.

Anggi sudah makan?”
“iye belum Opa”
Stelah bertanya, opa melirik kehadapanku, tak sadar anggi belum mememperkenalkan nhamy pada Opa.
“ini temanku opa, Nhamy namanya rencana kami mau bermalm disini karena ada acara.”
“ohh kalau begitu pergi makan dulu, masih ada makanan sisa acara kemarin masih baik” dengan senyum hangatnya bisa terbaca kalau pribadi opa sangat baik.

Anggi masuk ke dapur dengan mempertahankan ekspresinya yang sulit ia kendalikan. Nhamy mengikuti anggi menuju dapur. Anggi tidak sadar Nhamy mengikutinya.

“kenapa, kenapa bisa begini ceritanya” nhamy dengan bingung memaksa anggi menjelaskannya.
“ehh nhamy tidak tau juga, katanya Oma nomorku tidak aktif. Padahal nomorku aktif terus ji”
“ko’bisa” nhamy semakin bingung tapi tetap prcaya kepada sahabatnya.
“sepertinya ini perbuatan mereka”
Yuyun dan Uni maksud mu?”
“iyha Nhamy, mereka pasti yang kasih nomor salah sama Oma dan sepertinya mereka sudah cerita sama Oma kalau saya sudah tidak perawan”
“waduhh gawat”
Anggi hanya bisa diam setelah menjelaskan pada Nhamy apa yang terjadi. Di meja makan mereka terdengar dari luar rumah suara kelakson mobil. Ternyata yang datang adalah saudara almarhum bapak anggi.
“ehh Anggi, kenapa kemarin tidak datang nak?” terlihat sosok wanita karier yang tetap memiliki jiwa keibuan.
“iya tante, saya kira malam ini acaranya”
“ohh ko’ tidak ada hubungiko?”

Anggi hanya bisa menggeleng dan tersenyum, tak biasa Anggi bersikap begitu. Anggi merasa kacau dan tak nyaman berada dirumah itu. Tante Anggi mengajak mereka untuk ikut makan sate yang ia bawa untuk Oma. Akhirnya Oma keluar dari kamarnya menemui kami, dengan ekspresi datar Oma bergabung di meja makan.

“Anggi tolong ambilkan piring di dalam dapur nak” pinta tante nani, sebutan akrab dari anggi.
“iya tante nani” Anggi menuju dapur dengan bergegas Nhamy ikut menyusulnya.
Anggi itu siapanya bapak mu?” Nhamy ingin memastikan kalau tante Nani itu tantenya anggi
“tanteku dodol, saudaranya bapakku” dengan melihat muka sebal anggi Nhamy tersenyum melihat Anggi kembali menjengkelkan.
“kita tidak usah nginap yha!”
Ko’ kenapa lagi?”
“saya sudah tak tahan lagi nhamy kalau begini ceritanya”
“ tapi tadikan kita sudah bilang sama opa mau nginap”
“kamu bohong saja kalau kakak mu sakit tiba-tiba disuru pulang”
“Mmmm iya dehh” dengan pasrah nhamy menerima tawaran tersebut. Demi sahabatny,  ia mengerti ini memang tidak mudah anggi.

Setelah mengambilkan tantenya piring, anggi memeberi kode kepada nhamy untuk tanda beraksinya kebohongan mereka agar terlihat kompak.

“tante, Oma, anggi mau pamit pulang karena tiba-tiba temanku disuru pulang”
“Ohh ko’mau pulang katanya mau nginap”tante seperti kecewa dengan apa yang anggi katakan
“maaf tante dirumah kakakku sedang sakit keras bunda menyuruh untuk pulang” nhamy beraksi lebih baik.
“Ohh kasian kalau begitu hati-hati “ tante memang sangat baik namun Oma tetap saja datanr mendengar percakapan kami sambil asik makan sate.

Setelah memberikan alasan kepulangan Anggi dan Nhamy mencium tangan tante Nani dan Oma. Terlihat Anggi sangat serius saat mencium tangan Oma tapi ekspresi Oma masih tetap saja datar seakan ingin melihatkan kekecewaannya kepada Anggi. Mereka menyusul menemui Opa yang sedang menonton di kamar. Opa kaget melihat Anggi meminta pamit namun setelah dijelaskan Opa sangat mengerti. Mereka dengan cepat meninggalkan rumah dengan diam seribu kata hingga keluar dari lorong anggi menangis, Nhamy merasakan kesedihan sahabatnya yang merasa pupus semua harapannya dan hanya menanggu malu dan kesakitan.

“nhamy ini adalah malam terakhir saya menginjakkan kaki dirumah itu”dengan terisak-isak air matanya bercucuran.
“kenapa anggi, kamu tidak kasian sama Oma,Opa dan tante?”
“saya sudah tidak tahan Nhamy, saya hanya ingin bapak saya. Saya Cuma mau cari bapak” dengan terisak anggi mengeluarkan hasrat kesediannya sambil berkendara.
“sabar anggi Allah pasti akan selalu ada untuk mu, doakan bapak mu diberi keselamatan akhirat’
“ia Nhamy, saya yakin bapak adalah orang yang baik makanya cepat di ambil nyawanya”

***

Malam itu gerimis tampak jelas, menambah suasana sedih keduanya. Nhamy dengan penuh pengertinya memeluk hangat sahabatnya yang sedang sedih batinya. Kekecewaaan yang mendalam dari Anggi seperti dirasakan pula oleh Nhamy. Mereka berdua larut pada malam itu di atas motor yang tetap melaju. Diam seribu kata hening hati mereka walau sekeliling klakso terus berbunyi dan suara kendaraan bisik dimana-mana. 

Nhamy kita jangan langsung pulang yha. Kita ke pantai losari dulu lalu kamu nginap saja dirumahku, gimana?”
“iyaiya aku mau, sipp dah!”

Motor melaju kencang menuju Pantai Losari. Hati keduanya masih diliputi kesedihan. Berharap di Pantai Losari bisa menemukan angin segar dan deruh ombak di keheningan malam di pantai losari. Duduk berdua saja menikmati malam, berharap bisa membuat kesedihan dalam hati keduanya terbawa arus hingga pergi menjauh.

Hari itu Pantai Losari terlihat lengang. Tak seramai keadaan Pantai losari dimalam mingguan. Mereka berdua memilih duduk di depan hamparan laut dengan pemandangan gedung gapura pantai losari yang berbentuk seperti kubah menara mesjid. Terlihat silih berganti perahu bebek melaju di depan pandangan. Walau musiknya gaduh Anggi da Nhamy tak bergeming lamunannya melihat keindahan malam di pantai losari. Lampu kendaraan yang melaju indah kelap-kelipnya menghiasi jalanan. Lampu bagunan yang ada di sekitar jalan penghibur juga meramaikan panorama malam di pantai losari. Udara pantai mengibas-ngibas pakaian mereka hingga kering yang tadinya basah karena gerimis. 

“Alhamdulillah disini tidak hujan maupun gerimis”!
“iyah, Allah memang baik, tau sekali kalau kita lagi sedih butuh suasana seperti ini tanpa hujan” Anggi bersyukur sambil memandang langit setelah hujan.

Terdengar dari jauh alunan lagu dan alat musik akustik, di beberapa bagian pantai losari terlihat para pengamen jalanan menghibur para pengunjung yang duduk santai mendengarkan alunan nyanyian mereka. Tak hanya satu, ada banyak pengamen jalanan yang mencari pundi-pundi kehidupan lewat alunan lagu mereka. Mereques, setelah lagu dinyanyikan pengunjung memberi uang seikhlasnya. Tak sedikit pengunjung yang tidak menghargai kerja keras mereka. Seakana tak peduli, setelah mendengar mereka menyanyi. Pengunjung apatis, tak sedikitpun bergeming untuk merogoh katong untuk menambah pundi mereka.

Malam itu anggi berinisiatif mereques sebuah lagu untuk menemani suasana santai mereka di pantai losari. Setelah menunggu mereka menyanyikan lagu yag sedang dinyanyikan pada pengunjug yang lebih dahulu datang dibanding mereka, anggi memanggil dan meminta requesan lagu.

“Bisa reques lagu?” masih jauh dari posisi duduknya, anggi meminta lagu kepada pengamen jalanan.
“Ooow, iya bsa. Minta lagu apa?” dengan antusias si pengamen beserta teman-temannya mendekat ke arah Anggi dan Nhamy.
“bsa reques lagu judulnya Ayah!”

Nhamy mencoba mengingat sebuah momen setelah mendengar Anggi meminta lagu berjudul ayah. Ia mengingat kalau Anggi perna menyanyikan lagu ayah tersebut saat perpisahan sekolah. Nhamy mengingat jelas ekspresi anggi saat melantunkan teks lagu tersebut. Terlihat matanya berkaca-kaca, seakan ingin pecah dan berserahkan aliran air mata. 

Terlihat pengamen tersebut saling diskusi antara penyanyi dan pengiring alat musik akustiknya. Dimulai dngan pukulan gendang dan petikan gitar lagu mengalun dengan berirama senduh.

Dimana….akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku ingin slalu bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Lihatlah… hari berganti
Namun tiada seindah dahulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..


Lagu lama yang pertama kali dinyanyika oleh Broery Marantika berubah dengan gaya Jazzy namun tetap menyentuh. Lagu ayah membawa anggi kembali membayangkan harapannya hingga pupus terbawa deruh angin menuju harapan yang ia ingin dibawa kesurga hingga terdengar oleh Ayah Almarhum Bapaknya.
Tamatttt!!!!


Cerita sebelumnya:






Rabu, 15 Februari 2012

Cerita Bersambung "Nyanyian Ayah part I"



Pagi itu, setelah kemarin di sesaki banyak kegiatan kampus, nhamy bangun dengan keadaan yang kurang baik. Wajahnya lesu walau semalam tidurnya nyenyak. Dengan mengucek-ngucek mata, wajahnya terlihat masih kelelahan. Kegiatan sebagai seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan juga aktif di pers kampus yang mewarnai kesehariannya. Walau latarbelakang jurusannya Sains Biologi  Nhamy tetap bisa menjalankan keduanya. Menjadi Jurnalis dan Saintis adalah impian yang ingin diraih oleh nhamy.

Minggu-minggu yang berat untuk Nhamy karena dalam waktu bersamaan ia harus menjalani agenda in house trainning di lembaga pers kampusnya dan acara lingkungan di himpunan mahasiswa jurusannya.
 “Huwahhhh...kepalaku sakit, badanku juga. Kayaknya masuk angin deh’” nhamy berteriak sambil merenggangka badannya yang masih berbaring dikasur

Jam menunjukkan pukul 5.00, saatnya salat subuh agenda Nhamy yang tak pernah ia lupakan. Seperti biasa Nhamy setelah salat subuh bergegas ke dapur membuat seduhan jintan putih resep dari neneknya untuk memulihkan kondisi tubuh yang sedang lemas. Seperti pagi-pagi yang lain, terlihat bunda Nhamy sibuk dengan panci dan alat dapur lainnya di depan kompor.

Tiba-tiba, bunda bertanya kepada nhamy yang masih dalam keadaan lemas kaget dengan pertanyaan tak treduga di pagi hari.

“semalam pulang jam berapa nhamy?”  dengan nada menyinggung  bunda bertanya pada nhamy yang baru melangkahkan kakinya selangkah ke dapur.

“eh..ehh kemarin pulangnya cepatji bun, Cuma bunda yang terlalu cepat tidur makanya tidak lihat nhamy pulang semalam” nhamy garuk-garuk kepala saat menjawab pertanyaan bundanya.

“kalau anak cewe tidak boleh pulang jam 8 malam karena tetangga bisa mengira yang tidak-tidak. Ingat semboyan orang makassar? Siri na pacce!!”bunda dengan serius memberi nasehat kepada anak tomboynya
.
“iya bun, nie juga pulangnya telat karena ada kegiatan penting hari sabtu nanti, jadi banyak yang dipersiapkan sebelumnya” sambil menjelaskan kepada bundanya nhamy sibuk  meniup-niup rebusan jinta putih yang baru ia angkat dari kompor.

Nhamy tau betul perbuatannya salah karena terlalu sering pulang larut malam. Ia beberapa kali dipergoki pulang jam 10 malam dan dengan mengendap-endap masuk kerumah hingga naik ke kamarnya.
Setelah meneguk segelas seduhan jintan putih, badan nhamy mulai terasa segar. Tiba-tiba dari belakang .
  “ yhaaa semalam pulang jam 10 toh..dari mana ayo?” dengan muka jahil Mutiah adik Nhamy terdengar menggodainya. 

“yeee di jalan itu macet, motorku juga susah dinyalakan karena stater tangannya rusak jadi lama nyalanya”

“alasan..” Mutiah tetap teguh membantah alas an yang dilontarkan kakaknya.

“yaa udah kalau tidak percaya” dengan was-was nhamy menoleh melihat ekspresi bundanya yang mendengar celutupan adiknya. Walau seakan tidak peduli dengan pertengkaran kedua anaknya yang tiap pagi perang mulut karena keduanya sudah sering bertengkar. Apa saja bisa jadi persoalan kalau keduanya bertemu di dapur. Sewaktu kecil Mutiah sangat cengeng, hampir tiap hari Nhamy membuat adiknya menangis karena diusili olehnya. 

Pertengkaran terus terjadi dengan persoalan yang berbeda dan tak jelas, hingga bunda mereka datang membawa nasi goreng terasi ke meja dan menyusul ikan teri kering tumis khas bunda yang harum aromanya. Keluarga Nhamy tinggal tidak jauh dari Pelabuhan Rakyat Paotere sehingga dengan mudah ia bisa meminta dibuatkan masakan laut dengan bermacam-macam jenis yang ia sukai. 

Pelabuhan yang merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo doeloe ini, menyimpan bukti sejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14, sewaktu memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka untuk membantu Raja Malaka mengusir penjajah Belanda.

Kini, Pelabuhan Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi, Lambo, kapal-kapal motor nelayan dan pedagang antar pulau. Selain itu, Paotere juga menjadi pusat niaga nelayan, dengan adanya fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dibangun pemerintah setempat.

Dini hari, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Paotere dan nelayan yang menjajakan hasil tangkapannya, menjadi pemandangan yang unik. Sementara di ruas-ruas jalan menuju TPI, tampak pula pedagang kaki lima yang menjajakan barangnya mulai dari souvenir, pakaian hingga kebutuhan rumah tangga, bahkan ada juga di antaranya yang menjual pakaian dan sepatu bekas impor. Kegiatan itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 Wita dan kawasan Paotere terlihat ramai kembali pada sore hari sekitar pukul 15.00 Wita hingga menjelang senja.

Walau dekat dari rumahnya, Nhamy baru sekali kesana. Kesan yang ia dapatkan adalah pelabuhan yang tak terurus. Banyak sampah berserakan di dalam area pelabuhan, tempat sampahnya tidak jelas hanya ada tumpukan sampah yang menandakan para warga dan pengunjung membuang sampahnya di tumpukan tersebut. Air lautnya penuh dengan limbah detergen masyarakat sekitar, limbah tumpahan minyak dan oli pun terlihat jelas. Airnya mengkilap karena campuran minyak yang tak bisa larut dengan air sehingga air di ujung pelabuhan hitam dan bau. 

Pelra Paotere yang sarat dengan nilai sejarah, dalam waktu dekat, bakal menjadi pelabuhan kontainer, menyusul pelabuhan kontainer Soekarno-Hatta yang sudah ada. Kendati demikian, pihak pemerintah berjanji tidak akan menghilangkan ciri khas Paotere, sehingga tetap dapat menjadi kawasan wisata.

Ide mengembangkan Pelra Paotere menjadi pelabuhan kontainer itu,
katanya berangkat dari tingginya arus frekuensi lalulintas kontainer yang masuk ke Makassar. Sehingga pihak Pelindo II harus membidik kawasan baru sebagai pelabuhan kontainer. “Dasar pemerintahan kalau masalah bisnis sangat antusias, jagan sampai dehh nilai sejarah dan kegagahan pelabuhan paotere di rusak seperti peninggalan sejarah lain” protes Nhamy yang perihatin melihat nilai sejarah leluhur dirusak oleh penguasa dan pengusaha sekarang.
Dari kesan buruk yang Nhamy dapatkan, ada hal yang membuat nhamy bangga terhadap pelabuhan rakyat yang juga takkala terkenal dengan pantai losari di Makassar. Masih tetap berjajar kapal pinisi gagah yang mengangkut barang bawaan dari antar pulau. 

Melihat kerja keras para buru yang bekerja mengangkut barang dari dalam kapal kemudian di angkut keluar menuju truk, sangat membuat Nhamy kagum dengan kegigihan dan semangat kerja mereka. Mengkut barang dengan meletakkanya di bahu yang terlihat keka sepertinya sudah sering digunakan menahan barang berat. Setelah menaruhnya dipundak mereka  lalu  membawa barang dengan cepat untuk selanjutnya didistribusikan ketempat lain.  Karung demi karung, Nhamy melihat seorang bapak tua menbawah karung yang sepertinya lebih berat dari tubuhnya yang tak kekar lagi . Turun dari kapal kemudian bergantian dengan rekannya mengangkut masuk ke dalam mobil yang bertuliskan truk PT. Sero. Dia juga melihat sebuah kapal kecil membawa segundukan ikan segar untuk kemudian dibawa menuju keluar pelabuhan. Alangka lelahnya mereka para nelayan ikan yang semalaman mencari ikan dilaut karena pada malam harilah momen yang tepat untuk mereka mulai menangkap ikan. Itulah yang Nhamy dapatkan dari pelabuhan, sebuah nilai sejarah kegigihan para leluhur membuat kapal sehebat pinisi dan ketangguhan para nelayan serta pekerja yang tak kenal lelah mencari rezeki halal.
***
Setelah sarapan pagi, nhamy dan adiknya melanjutkan aktivitas masing-masing. Bunda membereskan rumah, ayah masih membersihkan motor dan memanaskan vega. Vega adalah  sebutan bagi motor kesayangan nhamy. Sebelum pergi si vega tak pernah lupa untuk dipanaskan. Si Vega tiap hari  melaju jauh dari rumah Nhamy yang dekat dari Tol maros menuju Samata kab.Gowa. 

Pagi itu Nhamy dibuat pusing mengatur jadwal untuk dua acara yang berbeda. Ia menjabat sebagai koordinator dokumentasi dan publikasi untuk acara lingkungan bersih memperingati sumpah pemuda dan dalam waktu bersamaan menjabat pula sebagai koordinator acara di in house trainning jurnalistik lembaga pers kampusnya. Kebimbangan yang sangat besar dialami Nhamy di saat bersamaan  ia harus hadir untuk pembukaan kedua acara tersebut. Ia sibuk memikirkan dan mencari solusi atas permasalahnnya. Ia harus memilih akan hadir dimana, walau keduanya mengharuskannya hadir. 

“08.00 ke LPM, 09.00 harus hadir di pembukaan lingkunga kampus II” ujarnya sambil menggerutu. “ya Allah bisa tidak yha, butuh 30 menit waktu perjalanan dari kampus I ke kampus II”. Sambil berdoa dalam hati Nhamy mencoret-coret buku catatan yang berisi jadwal sehari-harinya.

Uin Alauddin Makassar memiliki dua kampus yang terletak berjauhan. Kampus I yang sekarang lebih disibukkan oleh mahasiswa Pasca Sarjana tak dipakai lagi untuk mahasiswa yang mengambil program sarjana dan D3. Kampus I ada di jalan Alauddin  sedangkan kampus II bertempat di Samata-Gowa.
 “bisaja’ kayaknya deh..30 menit saja di kampus I selanjutnya ke kampus II yang penting aku hadir walau sebentar saja” berusaha meyakinkan diri nhamy mantap dengan keputusannya karena hanya itu solusi yang ia dapatkan setelah sejam berpikir.
***
Jam di ponsel nhamy menunjukkan pukul 04.00 sore hari. Setelah sempat berada 30 menit lamanya di acara in house trainning dan lanjut ke acara lingkungan bersih sampai pukul 04.00, nhamy harus kembali lagi ke tempat acara in house trainning untuk persiapan hari kedua. Walau harus meninggalkan agenda penutupan bersama panitia lingkungan bersih yang diadakan di tanjung bayam. 

Gggrrrrr..grrrr . getar lembut dari saku rok nhamy membuatnya geli tapi ia mengabaikan panggilan dari ponselnya karena sedang berkendara menuju kampus I. Getar selanjutnya lebih singkat itu artinya hanya sebuah sms yang masuk ke inbox dan nhamy tetap mengabaikannya. Sesampainya di kampus I nhamy langsung menuju ke ruang redaksi karena pastinya ruang acara sudah kosong. Dengan nafas terengah-enggah ia masuk tergesah-gesah kedalam redaksi. Duduk menyandarkan tubuhnya di tembok yang dari tadi beraktivitas tanpa istirahat.

“assalamualaikum, maaf telat” dengan nafas yang masih tersengal

di dalam redaksi Nhamy melihat ruangan tersebut sudah di penuhi alat-alat tulis yang akan dimasukkan kedalam map yang akan dibagikan pada peserta in house trainning. “teman-teman maaf tadi saya pulang” dengan suara kencang nhamy mencari perhatian teman-temannya yang lagi serius bekerja. Tiba-tiba dari balik pintu ruangan lain yang ada di redaksi terdengan suara memanggil nhamy.

“nhamy kenapa tidak qw lihatko tadi!!!” suara yang khas yang selalu Nhamy dengar. Suara yang selalu mengkritik beritanya dan menyuruhnya meliput peristiwa di kampus.
mmmm.. kak Ani?
“siapa lagi kalau bukan saya”membalas dengan suara yang lebih keras.
“ada acaraqw juga kanda di kampus II”dengan nada merayu Nhamy menjelaskan kepada Ani yang merupakan ketua redaksinya.
“kau liputji?”
“sip kanda, sudah z kirim ke Online”
Setelah bersandar selama dua menit, nhamy mengingat di jalan tadi ponselnya bergetar. Segera nhamy mengambil ponsel disaku roknya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama dan 2 pesan singkat  dari Anggi sahabatnya. Suasana hatinya berubah menjadi khawatir, ada apa yang terjadi pada Anggi.
 
 Ada apa dengan anggi?”, batin nhamy bertanya. Nhamy bersahabat dengan anggi sejak SMA sampai sekarang. Anggi selalu jadi tempat nhamy bertukar kisah baik sedih maupun senang. Selalu ada keceriaan  tiap pertemuan mereka. Anggi merupakan sahabat yang paling nhamy sayang. Anggi mampu membuat nhamy melupakan segalah masalah yang sedang nhamy alami. Seberat apapun itu, saat bersama anggi semua bisa menjadi mudah setelah membicarakan padanya. 

Saat bersamaa Anggi nhamy tak pernah khawatir untuk melakukan hal gila dikeramaian orang, saat bersama anggi mereka sering tanpa sadar membuat perhatian orang disekitartertuju pada mereka . Anggi tak perna merasa malu, nhamy yang awalnya selalju menjaga image menjadi ikut-ikutan senang bertingkah aneh. Semboyan mereka “tak perlu malu untuk bahagia tak perlu dengar apa kata orang karena mereka tidak sungguh mengenal kita”. 

“teman-teman, kanda saya pamit pulang yah” setelah membaca sms dari Anggi, Nhamy langsung bergegas pamit untuk kembali ke rumah. Walau teman-teman dan seniornya heran Nhamy  pergi tanpa alasan setelah pamit. Tak ada yang mengerti dengan tingkah aneh Nhamy saat itu. Nhamy merasa berat meninggalkan redaksi dan teman-temannya yang sedang bekerja keras mempersiapkan perlengkapan, namun batinnyapun kuat untuk segera bertemu Anggi. Ia terburu-buru mengendarai motornya sebelum petang datang yang biasanya penat dengan kemacetan di jalan petterani.

Assalamualaikum, Nhamy pulang”  ia berteriak, sengaja agar didengar oleh seisi rumah.
“walaikumsalam tumben pulang cepat”ujar bunda yang kebingungan melihat Nhamy pulang lebih awal dari hari biasanya.
Dengan terburu-buru Nhamy menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia mengotak-atik seisi lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian dan celana. Tak lupa sikat gigi dan sabun wajah miliknya di bawa dan dimasukkan kedalam tas ransel yang sebelumnya dipakai kekampus. Isi tas yang awalnya binder dan buku kulianya berubah menjadi pakaian dan alat-alat pribadinya. Bunda yang dari tadi memperhatikan tingkah aneh Nhamy, sepertinya akan bermalam diluar hari ini.
“mau kemana lagi Nhamy” tiba-tiba suara bunda membelah kesepihan dan kesibukan nhamy.
“eh bun, bikin kaget saja” Nhamy tersentak melihat bundanya yang sudah dari tadi ada di luar pintu kamarnya.
“mau kemana, terburu-buru?” bunda kembali bertanya.
“ini bun, anggi”
“anggi kenapa?”
“anggi minta ditemani bermalam dirumah bapaknya”

Tidak biasanya Nhamy to do point mengenai alasannya pergi, Nhamy sering kali disaat berpamitan kepada bundanya. Alasan yang ia kemukakan kalau tidak ditambahi pasti dikurangi. Kebiasaan Nhamy saat ingin pergi dari rumah ia selalu meminta izin setelah mengepak barang bawaanya. Kepada bunda Nhamy jujur mengenai alasannya perihal Anggi yang ingin ditemani menginap.

Bunda nhamy sudah banyak mengenal Anggi. Anggi memang paling pandai akrab dengan orang tua. Ia mampu akrab dengan orang tua teman-temannya, bahkan melebihi keakraban  orang tua tersebut dengan anaknya.
“ohh Anggi, jadi berapa malam menginapnya?”
“Cuma semalam bun, karena besoknya ada kegiatan lagi di kampus”
Setelah mengepak barang bawaan yang akan nhamy bawa, ia bergegas berpamitan sebelum pergi. “bun, Nhamy pergi dulu” Tanpa berlama-lama Nhamy bergegas meninggalkan rumah dan langsung menuju rumah Anggi
“hati-hati dijalan, salam sama Anggi dan keluarganya” 

bunda selalu perihatin dengan kisah yang dialami bapak Anggi, bunda sudah menganggap Anggi bagian dari keluarga. Bunda mengerti betul apa yang sedang dialami anggi perihal bapaknya. Anggi sempat ke rumah Nhamy yang pada saat itu sedang ada di kampus. Karena Nhamy tak sedang berada di rumah, jadi Anggi hanya mengobrol dengan ayah dan bunda Nhamy. Anggi menceritakan kisahnya kepada bunda perihal bapaknya yang telah meninggal dunia karena kecelakaan di Cimahi-Bandung. 

Seumur hidup hidup Anggi tak pernah melihat langsung wajah ayahnya, hanya lewat foto ia mengenali sosok bapaknya. Ia adalah anak satu-satunya, namun ia memiliki 2 adik tiri dari pernikahan kedua ibunya. Almarhun bapaknya juga punya empat istri dan Anggi memiliki saudara seayah enam orang. Ibunya adalah istri kedua dari bapaknya. 

Bapak dan Ibu Anggi, mereka berdua memiliki kisah cinta yang panjang dan berat. Tanpa restu keluarga dari kedua belapihak mereka nekat kawin siri. Stelah Anggi lahir, keluarga bapaknya mencoba memisahkan ibu dan bapaknya. Karena tidak tahan keluarganya terus diganggu, bapak Anggi kabur ke jawa dan menghilang tanpa jejak. 

Anggi tumbuh tanpa tau asal-usul bapaknya, hingga suatu hari ia mendapatkan alamat orang tua bapaknya. Setelah bertengkar keras dengan ibunya, saat bersih keras meminta alamat tersebut. Walau berat akhirnya ibu anggi memberikannya, tanpa menyangka anggi nekat mendatangi alamat tersebut.

Sepanjang perjalanan Nhamy terus memikirkan sms dari Anggi. Ia merasa bersalah karena selama ini seakan mengabaikan Anggi yang ternyata sedang banyak masalah. Beberapa kali ia menolak ajakan Anggi untuk menemaninya kerumah bapaknya. Setelah mengetahui keberadaan bapaknya, Anggi merasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru untuk hidup. Walau bapaknya meninggalkannya di Makassar dan pergi ke Cimahi dengan hidup bersama istri keempatnya dengan 2 anak. Dari kabar yang ia dapatkan tentang ayahnya, Anggi lebih sering mendengar berita yang kurang baik namun Anggi tetap sayang terhadap ayahnya. Ia selalu berharap bisa melihat ayahnya dan memeluk erat tubuhnya

Ternyata keberanian Anggi mencari keluarga bapaknya berbuah manis. Opa dan Oma begitu panggilan akrab Anggi kepada kedua orang tua bapaknya. Tak seperti cerita ibunya, mereka berdua sangat baik kepada Anggi dan mengaku sejak dulu mencari keberadaan Anggi selama ini.
***

To be continue

Selasa, 14 Februari 2012

Cerita Bersambung "Love Maya @DuniaMaya part I"


“apa may, di hati mu lagi diisi dua pria?”suara di telfon  membuat wanita berkerudung itu semakin berat membayangkan masalahnya.

“ia Nia aku dilema” Maya dengan berat mengakui hatinya yang diisi oleh dua nama.

Nia adalah sahabat maya yang kesekian kalinya ia ceritakan kisah cintanya yang sedang rumit. Sahabat yang tau masalah ini bukan haya Nia. Sebelumnya ada Afni, Anggi dan Irda.

“ko’bisa?”Nia seakan tak percaya. Sahabatnya yang dua tahun lalu berkata padanya bahwa ia takkan pacaran sebelum menikah ternyata sedang menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus.

“saya juga bingung Nia” Maya menjawab sambil membuang jauh pandangan ke langit di jendela kamarnya.

“mereka satu Universitas  dengan kamu?”Nia terus melontarkan pertanyaan, Maya mengerti dengan rasa penasaran  dari nada suara Nia di telfon genggamnya.

“tidak Nia, tapi mereka  sama-sama kenal aku di dunia Maya”.

“haa dunia maya? ko’bisa May?”

dengan antusias nia yang sudah berteman selama 5 tahun dengan Maya tak percaya pertemuan sahabatnya dengan kedua lelaki yang mengisi hatinya bertemu di dunia maya.

“ceritanya panjang Nia tapi rasanya sangat singkat. Maaf ya saya baru bilang soalnya saya anggap ini bukan hal penting. Ternyata ini sangat menyita pikiranku” 

Maya merasa bersalah dengan sahabatnya. Bukan hanya nia tapi kepada afni dan anggi pula. Irda yang merupakan teman sekampus Maya, adalah orang pertama yang ia ceritakan. Anggi dan afni, setelah lulus SMA jarang bertemu dengan Maya yang berbeda kampus dengannya. 

“berawal dari setahun yang lalu sewaktu aku bermain Facebook . Rahim teman satu kampusku menulis status lalu aku mengomenterinya” maya berhenti bercerita untuk kembali mengingat memorynya yang sudah setahun saat bertemu Umar. Umar lelaki yang sudah setahun menjadi teman dekat Maya, walau tak pernah bertemu tapi komunikasi mereka sangat intensif.

“lalu..lalu” nia yang tak sabar dengan kelanjutannya memaksa ingatan maya untuk mengingat kembali.
“ceritanya panjang nia, biar nanti kita ketemu saja biar aku ceritakan detilnya dehh”
“baiklah kalau begitu, TM ku juga dah mau habis”

Walau Maya sangat ingin menyelesaikan ceritanya pada nia tapi ia lebih prihati bila pulsa sahabatnya habis karena curhatanya.

“oke say, nanti kita ketemu dimana”
“nanti saya kerumahmu saja”
“datang yahh, jangan sampai batal lagi”. 

Sudah beberapa kali Maya berjanji akan berkunjung kerumah maya untuk menceritakan masalah percintaannya tapi terkendala dengan kesibukan kuliah Maya sebagai mahasiswa sains yang padat dengan praktikum dan membuat laporan.

To be Continue ...

Selasa, 07 Februari 2012

Laporan Divisi Thallophyta


Beberapa waktu yang lalu saat menengok blogku yag sudah lama tak aku kunjungi, ternyata ada banyak perubahan. Sudah banyak yang mengunjungi, menfollow, dan memberi coment. Saat melihat kolom coment, aku lihat nama yang tak asing bagiku. Ternyata coment itu dari Dosenku yang sekarang ini melanjutka studynya di German.

Wahh aku merasa terhormat dikunjungi pak dosen dan memberi beberapa komen untuk beberapa tulisanku. Salah satu komen dari Pak dosen adalah ia sangat mendukung postingan tentang hasil praktikum yang memang menurutnya patut untuk di share ke semua orang. Senang sekali membaca Apresiasi dari Pak dosen. Saya harap Hasil Praktikum yang terposting di blogku bisa bermanfaat untuk para pelajar, mahasiswa dan semua yang mengunjungi blogku. Kali ini yang akan saya share adalah laporan Mata kuliah Tumbuhan Tingkat Rendah dengan judul Divisi Thallophyta





A.     Latar Belakang
Divisi Thallophyta meliputi tumbuh-tumbuhan yang memiliki sebagai ciri utama tumbuhan yang berbentuk talus. Yang disebut talus ialah tubuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam 3 bagian utamanya, yang disebut akar, batang dan daun. Tubuh tumbuhan yang telah dapat dibedakan tubuhnya sudah memiliki membran ini dalam ke 3 bagian tersebut dinamakan kormus.[1]
Ciri yang membedakan divisi ini dari divisi Schizophyta adalah bahwa sel-sel yang menyusun tubuhnya sudah memiliki membran inti (eukariotik) dan plastid yang beranekaragam. Jika pada spora merupakan suatu bentuk pertahanan pada kondisi lingkungan yang baik.[2]
Adapun yang melatar belakangi praktikum kali ini adalah melalui percobaan devisi Thallophyta akan membahas lebih terperinci mengenai tumbuhan yang termasuk di dalamnya, mengetahui pembagian kelasnya, ciri-ciri, dan kandungan yang terdapat pada organisme tersebut beserta perannya

Tinjauan Pustaka
Berdasarkan ciri-ciri utama yang menyangkut cara hidupnya itu, devisi Thallophyta dibedakan dalam 3 anak divisi, yaitu:
1.      Ganggang (Algae),
2.      Cendawan atau jamur (Fungi),
3.      Lumut Kerak (Lichenes).[1]
Tumbuhan ganggang merupakan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif ada yang tidak. Jenis-jenis yang hidup bebas di air, terutama yang tubuhnya bersel tunggal dan dapat begerak aktif merupakan penyusun plankton, tempatnya fitoplankton.[2]
Walaupun tubuh ganggang menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar, tetapi semua selnya selalu jelas mempunyai inti dan plstida, dan dalam plastidanya terdapat zat-zat warna derivat klorofil, yaitu klorofil-a dan klorofil-b atau kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofi terdapat pula zat-zat warna lain, dan zat

warna lain inilah yang justru kadang-kadang lebih menonjol dan menyebabkan kelompok ganggang tertentu diberi nama menurut warna tadi. Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (berwarna biru), fikosantin (berwarna pirang), fikoeritrin (berwarna merah). Disamping itu juga biasa ditemukan zat-zat warna santofil dan karotein.[3]
Diantara tumbuhan ganggang ada yang dalam daur hidupnya memperlihatkan pergiliran keturunan (metagenesis). Bila keturunan yang haploid (gametofit) dibandingkan dengan keturunan yang diploid (sporofit), dapat kita temukan hal-hal berikut. Gametofit sama bentuk dan ukurannya dengan sporofit, misalnya pada ganggang hijau Cladophora glomerata. Gametofit lebih kecil daripada sporofit terdapat pada ganggang pirang Cutleria multifida. [4]
Ganggang hijau merupakan kelompok ganggang yang besar dan beraneka ragam (rumput laut) yang mempunyai klorofil yang ditempatkan dalam badan-badan yang berbatas nyata disebut kloroplas dan normal tidak tersama oleh zat-zat warna lain. Akibatnya, tumbuhan ini biasanya berwarna hijau, dan kelompok ini disebut ganggang hijau.[5]
Alga ini menyerupai Euglonophyta dala hal pingmen fotosintetik (klorofil-a dan b). akan tetapi sel-selnya terkurung dalam dinding selulosa yang kaku. Beberapa di antaranya berflagel dan bahkan yang tidak pun menghasilkan gamet-gamet berflagel atau zoospora.[6]
Ganggang merah atau rumput laut merah inilah yang untuk beberapa jenis cenderung lebih banyak memberi hasil, tetapi pada umumnya tidak begitu berlimpah dan tidak mengambil tempat banyak seperti ganggang perak. Hal ini demikian keadaannya di laut daerah iklim sedang dan sekitar kutub utara, di mana ganggang merah mungkin berbukit hanya sedikit. Ganggang merah berwarna khas merah atau keungu-unguan karena adanya zat-zat warna tertentu dalam kloroplasnya di samping klorofil, meskipun beberapa dapat berwarna kehijau-hijauan, kebiru-biruan, zaitun atau perang.[7]
Cara mendapatkan makanan ganggang merah banyak menyerupai ganggang perang, kecuali bahwa banyak hasil-hasil proses kimiawi fotosintesis dan metabilismenya adalah berbeda, hal ini meyangkut bahan-bahan makanan yang disimpan, yang terutama terdiri atas suatu substansi serupa zat tepung.[8]
Ganggang pirang adalah ganggang yang berwarna pirang. Dalam kromotoforanya terkandung klorofil-1, karotein dan santofil, tetapi terutama fikosantin yang menutupi warna lainnya dan menyebabkan ganggang itu kelihatan berwarna pirang.[9]
Sebagai hasil asimilasi dan sebagai zat makanan cadangan tidak pernah ditemukan zat tepung, tetapi sampai 50% dari berat keringnya terdiri atas laminarin, sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin dan lebih dekat dengan selulosa daripada dengan tepung. Selain laminariajuga ditemukan manit, minyak dan zat-zat lainnya. Dinding selnya yang sebelah dalam terdiri atas selulosa, yang sebelah luar dari pectin dan dibawah pectin terdapat algin, suatu zat yang menyerupai gelatin yaitu garam Ca dari asam alginate yang pada laminaria merupakan sampai 20-60% dari berat keringnya. Sel-sel hanya mempunyai satu inti.
Adapun ayat yang menjelaskan tentang keanekarangaman tumbuhan di muka bumi yaitu Allah berfirman dalam Q.S Thaha 20:53

Terjemahannya : Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (QS. 20:53)[10]
Dari ayat tersebut kita ketahui bahawa Allah SWT menciptakan tumbuhan di muka bumi ini dengan berbagai keanekaragamannya termasuk tumbuhan devisi Schizophyt. Allah menumbuhkan tumbuhan dengan berbagai manfaat untuk kehidupan mahluk hidup serta untuk saling menguntungkan satu sama lain antar mahluk hidup.
Hasil Pengamatan
Glasillaria multipatita (Rhodophyta
Diskripsi
Gracilaria multipartita adalah ganggang, tembus ungu atau coklat kemerahan kusam yang memiliki daun yang mengukur sampai 25 cm. Hal ini rawan, sangat rapuh, dan memiliki Stipe terkompres
Klasifikasi
Kingdom  : Plantae
Divisi        : Rhodophyta                 
Klas          : Rhodophyceae
Ordo          : Gracilariales
Family   : Gracilariaceae
Genus    : Gracilaria
Spesies  : Gracilaria multipartite.[1]


[1]“Herbarium Bandungense”. Glasillaria multipatita. http://www.sith.itb.ac.id/herbarium/ index.(Tanggal 17 Desember 2011).
 
1.      Sargassum sp (Phacopyta)
Deskripsi
Tubuhnya berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Sargassum sp ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar diantara semua ganggang ukuran talusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik. Bentuk thallus umumnya silindris atau gepeng. Cabangnya rimbun menyerupai pohon di darat.
Bentuk daun melebar, lonjong atau seperti pedang. Mempunyai gelembung udara (bladder) yang  umumnya soliter. Warna thallus umumnya coklat.
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisio : Phaeophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Species : Sargassum sp.[1] 
1.      Caulerpa sp ( Chlorophyta )
   Diskripsi
Bentuknya seperti rambut atau filament. Bentuk tubuh dari spesies ini adalah senositik, sangat spesifik karena menyerupai segerombolan buah anggur yang tumbuh pada tangkainya. Spesies mempunyai cabang utama yang berupa axis/stolon sehingga dimasukkan sebagai bangsa siphonales (stolon berbentuk seperti pipa). Holdfast yang terdapat menyebar di seluruh axis berfungsi untuk melekat pada substrat.
  Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi       : Chlorophyta
Kelas        : Chlorophyceae
Ordo         : Volvocales
Famili       : Volvoceae
Genus        : Caulerpa
Spesies       : Caulerpa sp.[1]

Turbinaria sp (Phaeophyta) 
Diskripsi
Daun menggasing, melebar hingga, membentuk batas helaian mahkota melalui barisan gigi. Vesikula berada di tengah mahkota.. Struktur seks berisi modifikasi daun (reseptakel). Cabang reseptakular berada di tangkai daun tidak jauh dari ujung utama. Gametangium berongga (konseptakel) pada permukaan receptakel.
Klasifikasi :

Kingdom   : Plantae
Devisio      : Phaeophyta
Kelas         : Phaeophyceae
Ordo          : Fucales
Familia       : Sargassaceae
Genus   : Turbinaria
Spesies  ; Turbinaria sp.[1]

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Ganggang merupakan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif ada yang tidak. Jenis-jenis yang hidup bebas di air, terutama yang tubuhnya bersel tunggal dan dapat begerak aktif merupakan penyusun plankton, tempatnya fitoplankton
2.      Alga terbagi atas beberapa devisi yaitu diantaranya Rhidophyta, Chlorophyta dan Pheophyta dan yang membedakannya adalah pigmen, cara berkembang biak, penampakan, habitat dan perananya. Pigmen Sargassum sp dan Turbinaria sp berwarna kecoklatan, Ulva lactuca, Caulerpa sp dan Halimeda sp berwarna kehijauan. Sedangkan Glasillaria multipatita dan Eucheuma denticulatum berwarna kemerahan.
3.      Adapun spesies yang termasuk dalam tumbuhan ganggang yaitu Sargassum sp, Caulerpa sp, Turbinaria sp, Glasillaria multipatita, Ulva lactuca, Eucheuma denticulatum, Halimeda sp.



[1] “Biologi dan Hikma”. Alga. http://junwarhp18biologi.blogspot.com/2011/03/ulva-lactucaturbinaria.html (Tanggal 17 Desember).


[1] “Biologi Pendidikan”, Thallophyta. http://mushoffaditya.blogspot.com/2010_06_06_a rchive.html (Tanggal 17 Desember 2011).


[1] “Majid’s Blog”. Thallophyta. http://majidundip.blogspot.com/2008_11_01_archive.html (Tanggal 17 Desember 2011).

[1] Tim Dosen, Penuntun Praktikum Taksonomi Tumbuhan Rendah (Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin, 2011), h.7.
[2] Gembong Tjitrosoepomo, Taksonomi Tumbuhan  (Yogyakarta:  Gadja Mada University Press, 2003), h.30.

[3] John W,Kimball, Biologi Jilid 3 (Jakarta: Erlangga, 1983), h. 867.
[4] Prowel Sianipar, Mudah dan Cepat Menghafal Biologi (Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2010), h.36.
[5] Nikcholas Polinin, Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003), h. 37.
[6] John W,Kimball.,op. cit. h.868.
[7] Campbell, Biologi  jilid 2  (Jakarta :Erlangga, 2004)., h.168.
[8] Ibid.,
[9] Gembong Tjitrosoepomo,op. cit.h32.
[10] Departemen Agama, Al-Qur’an Annulkarim  (Surabaya: Pustaka Ilmu, 2008),.h.268.



[1] Gembong Tjitrosoepomo, Taksonomi Tumbuhan  (Yogyakarta: Gadja Mada University Press, 2003)., h.29.

                [2] Tim Dosen, Penuntun Praktikum Taksonomi Tumbuhan Rendah  (Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin, 2011)., h.7.

Terima Kasih