Kamis, 23 Februari 2012

Cerita Bersambung "Nyanyian Ayah part II"


Langit mendung dan udara mulai dingin. Sesekali terasa rintikan hujan satu persatu jatuh tak bersamaan. “sepertinya akan turun hujan”batin nhamy melihat langit yang berawan gelap. Dengan cepat Nhamy mengendarai motornya dan menembus kemacetan. “akhirnya sampai juga” tanpa ragu nhamy membuat gaduh lorong tempat tinggal anggi yang ramai oleh warga yang bersantai di pekarangannya.

“anggi..anggi,!!! Pi..Pi...Piii (suara klakson)”
Tiba-tiba sosok wanita paruh baya muncul dari dalam rumah menuju pintu, heran dengan suara gaduh yang ditimbulkan nhamy.

“oma...”
“oh nhamy, masuk nak saya kiranya siapa”
“maaf oma..”
“tidak apa-apa, ayo cepat masuk sbentar lagi hujan” dengan senyum hangat oma, ia menyambut Nhamy dan memanggilnya  masuk.

Didalam rumah, Nhamy melihat seorang lelaki tua yang seluruh rambutnya sudah dipenuhi rambut putih. Siapa lagi kalau bukan Opa. Opa yang selalu kelihatan gagah dan sehat bugar senang menonton berita tv. Saat nhamy masuk opa menoleh pelan dan melihat fokus pada Nhamy, samar-samar ia melihat Nhamy . Umurnya yang tua membuat penglihatannya tak sejerni dulu.

“assalamualaikum, opa apa kabar?
“walaikumsalam, iya alhamdulillah baik nak. Cari Anggi yha? Anggi ada dalam kamarnya, masuk saja langsung!”

Di depan pintu kamar Anggi, Nhamy berhenti sejenak sebelum mengetuk pintu kamarnya. Ia kembali teringat dengan isi sms anggi.

Inbox (1) Anggi-lope
“nhamy minta tolongka, temani saya menginap di rumanhnya bapakku kodong. Minta tolong sekali nhamy, saya tidak berani  bermalam sendiri karena ada masalah dengan saudara tiriku. Saya juga takut dengan sikap istrinya bapakku. Semalam saja nhamy, sebentar malam itu acara 40 hari meninggalnya almarhum bapakku.”
Merenung sebentar, nhamy bimbag sejenak saat membac pesan singkat anggi yang memintanya untuk bermalam bersama di rumah Almarhu Bapaknya. Kisah yang paling mengagetkan nhamy saat mengetahui peristiwa meninggalnya bapak anggi. Belum cukup sebulan ia mengetahui asal-usul bapaknya ia harus merasakan duka mendalam dengan berita tersebut. Pupus sudah kesempatannya memeluk dan merasakan kebersamaan bersama ayah kandungnya. Nhamy merasa sangat bersalah ketika berita itu ia terima langsung dari anggi, nhamy tidak bisa ada disamping anggi untuk memberinya semangat. Saat itu nhamy sedang sakit dan tak mampu keluar rumah. Saat acara taksiyah bapak anggi, nhamypun tak bisa datang karena ada peliputan acara pentas seni malam di kampus.

“tok..tok...tok”
Anggi..Anggi, saya sudah datang nie’”
Terdengar dari dalam kamar langkah pelan menuju pintu. Anggi membuka pintu perlahan dan tiba-tiba.
“dedeee lamamu
“maaf..maaf” Nhamy melihat pipih anggi basah, matanya bengkak. Sepertinya anggi habis menangis.
“ayomi paeng cepat, terlambatmaki. Simpan mi disini motor mu” dengan galak Anggi mengusili Nhamy.

Setelah berpamitan pada opa dan oma, Nhamy dan Anggi menuju ke kediaman bapaknya di jalan Syeh Yusuf-gowa. Selama perjalanan Nhamy terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa Anggi tak menceritakan permasalahannya tentang saudara tiri dan ibu tirinya. Nhamy menunggu Anggi yang memulai pembicaraan. Dengan mesra Nhamy dengan tangannya membentuk lingkaran di pinggang anggi yang tak cukup panjang nhamy lingkari. Nhamy memeluk hangat anggi, cuaca pada petang itu dingin. Mendung diliputi awan gelap menggeser awan putih dan menutupi matahari yang menuju barat.

“ ehh tumben mau mesra-mesraan gini?”anggi menyeletup
“rinduka nie, lama maki tidak jalan bareng”
“sory yha Nhamy tiba-tiba ku suruhko temanika, baru banyak kesibukan mw”
“tidak ji, jd kenapaki orang dirumahnya bapak mu?”

Hingga beberapa menit Anggi memberi jedah pembicaraan Nhamy yang bertanya permasalahnya.

“ceritanya panjang Nhamy, ini masalah saya dengan kedua saudara dari bapakku” Anggi tidak perna mau memanggil kedua saudara dari bapaknya dengan sebutan tiri karena menurutnya saudara seayah adalah kandung.

Yuyun Nhamy, Yuyun kakakku ternyata seorang pelacur. Dia sudah melayani banyak laki-laki. Ia bergerak sendiri tanpa pakai jasa germo apapun. Pertemuannya dilakukan di hotel dan punya dua pelanggan tetap yang sering dia temui. Saya sering di bawa bertemu pelanggannya di hotel”.

“astagfirullah, masa’. Kenapa bisako nah kasi tau? Sampai –sampai nah bawako juga ke hotel?
“ tenang, dia bawaka ke hotel Cuma temani dia, bukan untuk jadi pelacur juga”
“kenapa bisa berani mengakui profesinya sama kau?”
“saya bohong nhamy kalau saya juga sudah tidak perawan supaya dia mau terbuka dengan harapan bisa lebih akrab”
“dasar Bodoh, terlalu beraniko”

Nhamy jengkel dengan keputusan yang menurutnya bodoh dilakukan oleh sahabatnya itu. Walau Nhamy mengerti keinginan kuat Anggi yang berharap bisa diterima sepenuhnya di keluarga almarhum bapaknya. Bukan hanya perhatian dari Opa dan Omanya, ia juga ingin seluruh keluarganya bisa menerima keberadaanya sebagai anak dari bapaknya. 

Anggi kamu tidak mikirnya sebelumnya, kalau kebohongan mu itu bodoh sekali?”
“ahh biar mi dehh Nhamy ta’kalami, nha setelah ku tauki kalau Yuyun itu pelacur dia sering cerita banyak tentang hidupnya. Ia juga sering memberi uang sama saya setelahku temani ketemu pelanggannya” Anggi memang tipikal orang yang acuh.

“ehh kau itu makan uang haram”dengan nada emosi Nhamy mengingatkan Anggi.
“iyha ku tau ji” seakan tak peduli walau Anggi tau perbuatannya itu sangat ia benci.
“lanjut dulu ceitaku baru ceramahko, nah ternyata uni adeknya yuyun cemburu melihat kedekatanku sama kakanya. Dia sms baru na bilang-bilangika Nhamy ” sambil mengendarai motor Anggi menjelaskan kepada sahabatnya yang masih marah persoalan yang terjadi.
“bunyi smsnya apaan?
“ dia itu bilang kalau saya so’cari perhatian sama opa dan oma, terus dia jengkel karena merasa kakaknya sekarang dekat sama saya. Dia juga singgung masalah keperawanan, kyaknya si yuyun sudah cerita sama adeknya. Lalu saya balas, kenapaki dek? Apa yang kau pikirkan itu salah besar. Masalah saya perwan atau tidak bukan urusan mu”.

Nhamy terus berpikir keras mendengar cerita anggi yang sangat kusut. Keningnya berkerut dan sesekali menghela nafas yang berat. Ia merasa sangat jahat sebagai seorang sahabat karena baru mengetahui permasalahn tersebut. Ia sering menceritakan keluh kesahnya pada anggi setiap kali sedang dalam masalah sedangka ia tak perna bertanya apakah yang sedang sahabatnya rasakan.

“sebentar lagi kita sampai, nhamy sebentar bohongko nah kalau ditanya-tanya tentang kejadian tadi yang saya ceritakanko! Pokoknya kau harus ada di pihakku”
“iyo ji, demi kau  tapi tidak perlu bohong ji kayaknya bisa ja’ belako”
“iyo paeng, z tau kau orangnya cerdas” anggi mengerti betul kalau nhamy sangat sulit berbohong. Wajahnya yang lugu tidak mampu berekting. Ia sangat mudah ditebak saat berbohong.
“yang ini mie lorongnya nhamy” dengan antusias anggi menunjukkan lorong yang sedang ia masuki.
“sepinya die’ “
“namanya juga perumahan”

Rumah demi rumah dilalui, semua ukuran dan bentuk dilorong itu sama persis hanya warna yang membedakan. 

“pasti rumahnya ramai” prediksi nhamy yang dari tadi menunngu sampai
“iyha lah, semua keluargaku katanya mau datang”
Beberapa menit mereka saling berdiam diri. Hingga mesin motor Anggi terasa memelakan kecepatan hingga berhenti pada sebuah rumah.
Anggi rumahnya dimana?”
“yang ini Nhamy, tapi ko’tidak ramai di’ ?“

Melihat rumah berwarna hijau sederhana berlantai dua tersebut, Nhamy merasa rumah ini memang betul-betul sepi. Tak terdengar suara apapun, tak banyak orang didalamnya. Tidak mungkin acaranya selesai secepat itu dan tak mungkin secepat itu pula rumah ini sepi setelah acara. Nhamy menoleh melihat ekspresi Anggi yang tak kala bingung namun ia tak ingin berkata apa-apa. Anggi menuju pintu samping disusul oleh Nhamy dari belakang.

“assalamualaikum”bersamaan, Nhamy dan Anggi mengucapkan salam sambil masuk rumah. Dari pintu pertama meraka melewati ruangan yang berisi bendah-bendah yang mirip dengan benda yang ada di rumah sakit. Telescop, tensi darah, lemari obat dan yang mirip baju laboratotium seperti milik nhamy juga ada. Setelah melewati ruangan yang bernuansa rumah sakit tadi, yang  bercat hijau  agak mulai buram, anggi membawa nhamy masuk keruang selanjutnya yang bercat dan bernuansa beda. Tiba-tiba kami masuk dalam dapur dan melihat sosok lelaki tua sedang menikmati hidangannya. Ia menoleh pelan dan memfokuskan pandangannya yang melirik kepada anggi.

“ehh Anggi, kenapa baru datang nak, kemari itu acaranya almarhum bapakmu?”dengan penuh antusias lelaki tadi bertanya
“saya kira acaranya hari ini opa” mendengar kata-kata tadi, ekspresi Anggi berubah, sangat bingung terlihat.

 Nhamy  bingung mendengar keanehan tersebut dan baru tau kalau lelaki tua tadi adalah opanya Anggi. Mereka bercakap sangat akrab, namun percakapannya seperti terjadi sesuatu yang salah. Sepengetahuan Anggi acara peringatan 40 hari meninggal almarhum bapaknya adalah hari ini, namun ternyata malah acaranya sudah dilaksanakan kemarin malam.

“kamu kemarin disms, di telfon tidak aktif”dengan wajah bingung Opa menjelaskan kepada anggi.
“Mmmmm..”Anggi hanya menganggu tak bereksprsi mendengar pernyataan opanya.

Wajahnya terlihat kacau. Anggi sangat bingung dan mulai tak fokus. Ia melirik kemana-mana, tubunhya tak tenang. Ia terus saja mondar-mandir dan mengelilingi meja dan meraih apapun yang ada didepannya.

“oma  ada dimana Opa?”
“ada di dalam kamar sedang berbaring”

Anggi khawatir dengan kondisinya yang merasa mulai tersudutkan. Ia melangka perlahan kedalam kamar Omanya yang tidak jauh dari dapur.

Nhamy yang masih duduk di kursi depan meja makan hanya diam kebingungan. Ia ingin sekali mendengar masuk dan mengikuti Anggi yang sedang bercakap dengan omanya. Tapi ia merasa Anggi butuh waktu berdua dengan Omanya. Tak lama Anggi keluar dari kamar, dengan wajah yang kacau seperti sedang memikirkan sesuatu dan sesaat matanya berbinar seakan mengerti sesuatu. Masalah apakah yang terjadi?batin Nhamy bertanya tentang masalah miss komunikasi yang sepertinya terjadi antara keluarga ini.

Anggi sudah makan?”
“iye belum Opa”
Stelah bertanya, opa melirik kehadapanku, tak sadar anggi belum mememperkenalkan nhamy pada Opa.
“ini temanku opa, Nhamy namanya rencana kami mau bermalm disini karena ada acara.”
“ohh kalau begitu pergi makan dulu, masih ada makanan sisa acara kemarin masih baik” dengan senyum hangatnya bisa terbaca kalau pribadi opa sangat baik.

Anggi masuk ke dapur dengan mempertahankan ekspresinya yang sulit ia kendalikan. Nhamy mengikuti anggi menuju dapur. Anggi tidak sadar Nhamy mengikutinya.

“kenapa, kenapa bisa begini ceritanya” nhamy dengan bingung memaksa anggi menjelaskannya.
“ehh nhamy tidak tau juga, katanya Oma nomorku tidak aktif. Padahal nomorku aktif terus ji”
“ko’bisa” nhamy semakin bingung tapi tetap prcaya kepada sahabatnya.
“sepertinya ini perbuatan mereka”
Yuyun dan Uni maksud mu?”
“iyha Nhamy, mereka pasti yang kasih nomor salah sama Oma dan sepertinya mereka sudah cerita sama Oma kalau saya sudah tidak perawan”
“waduhh gawat”
Anggi hanya bisa diam setelah menjelaskan pada Nhamy apa yang terjadi. Di meja makan mereka terdengar dari luar rumah suara kelakson mobil. Ternyata yang datang adalah saudara almarhum bapak anggi.
“ehh Anggi, kenapa kemarin tidak datang nak?” terlihat sosok wanita karier yang tetap memiliki jiwa keibuan.
“iya tante, saya kira malam ini acaranya”
“ohh ko’ tidak ada hubungiko?”

Anggi hanya bisa menggeleng dan tersenyum, tak biasa Anggi bersikap begitu. Anggi merasa kacau dan tak nyaman berada dirumah itu. Tante Anggi mengajak mereka untuk ikut makan sate yang ia bawa untuk Oma. Akhirnya Oma keluar dari kamarnya menemui kami, dengan ekspresi datar Oma bergabung di meja makan.

“Anggi tolong ambilkan piring di dalam dapur nak” pinta tante nani, sebutan akrab dari anggi.
“iya tante nani” Anggi menuju dapur dengan bergegas Nhamy ikut menyusulnya.
Anggi itu siapanya bapak mu?” Nhamy ingin memastikan kalau tante Nani itu tantenya anggi
“tanteku dodol, saudaranya bapakku” dengan melihat muka sebal anggi Nhamy tersenyum melihat Anggi kembali menjengkelkan.
“kita tidak usah nginap yha!”
Ko’ kenapa lagi?”
“saya sudah tak tahan lagi nhamy kalau begini ceritanya”
“ tapi tadikan kita sudah bilang sama opa mau nginap”
“kamu bohong saja kalau kakak mu sakit tiba-tiba disuru pulang”
“Mmmm iya dehh” dengan pasrah nhamy menerima tawaran tersebut. Demi sahabatny,  ia mengerti ini memang tidak mudah anggi.

Setelah mengambilkan tantenya piring, anggi memeberi kode kepada nhamy untuk tanda beraksinya kebohongan mereka agar terlihat kompak.

“tante, Oma, anggi mau pamit pulang karena tiba-tiba temanku disuru pulang”
“Ohh ko’mau pulang katanya mau nginap”tante seperti kecewa dengan apa yang anggi katakan
“maaf tante dirumah kakakku sedang sakit keras bunda menyuruh untuk pulang” nhamy beraksi lebih baik.
“Ohh kasian kalau begitu hati-hati “ tante memang sangat baik namun Oma tetap saja datanr mendengar percakapan kami sambil asik makan sate.

Setelah memberikan alasan kepulangan Anggi dan Nhamy mencium tangan tante Nani dan Oma. Terlihat Anggi sangat serius saat mencium tangan Oma tapi ekspresi Oma masih tetap saja datar seakan ingin melihatkan kekecewaannya kepada Anggi. Mereka menyusul menemui Opa yang sedang menonton di kamar. Opa kaget melihat Anggi meminta pamit namun setelah dijelaskan Opa sangat mengerti. Mereka dengan cepat meninggalkan rumah dengan diam seribu kata hingga keluar dari lorong anggi menangis, Nhamy merasakan kesedihan sahabatnya yang merasa pupus semua harapannya dan hanya menanggu malu dan kesakitan.

“nhamy ini adalah malam terakhir saya menginjakkan kaki dirumah itu”dengan terisak-isak air matanya bercucuran.
“kenapa anggi, kamu tidak kasian sama Oma,Opa dan tante?”
“saya sudah tidak tahan Nhamy, saya hanya ingin bapak saya. Saya Cuma mau cari bapak” dengan terisak anggi mengeluarkan hasrat kesediannya sambil berkendara.
“sabar anggi Allah pasti akan selalu ada untuk mu, doakan bapak mu diberi keselamatan akhirat’
“ia Nhamy, saya yakin bapak adalah orang yang baik makanya cepat di ambil nyawanya”

***

Malam itu gerimis tampak jelas, menambah suasana sedih keduanya. Nhamy dengan penuh pengertinya memeluk hangat sahabatnya yang sedang sedih batinya. Kekecewaaan yang mendalam dari Anggi seperti dirasakan pula oleh Nhamy. Mereka berdua larut pada malam itu di atas motor yang tetap melaju. Diam seribu kata hening hati mereka walau sekeliling klakso terus berbunyi dan suara kendaraan bisik dimana-mana. 

Nhamy kita jangan langsung pulang yha. Kita ke pantai losari dulu lalu kamu nginap saja dirumahku, gimana?”
“iyaiya aku mau, sipp dah!”

Motor melaju kencang menuju Pantai Losari. Hati keduanya masih diliputi kesedihan. Berharap di Pantai Losari bisa menemukan angin segar dan deruh ombak di keheningan malam di pantai losari. Duduk berdua saja menikmati malam, berharap bisa membuat kesedihan dalam hati keduanya terbawa arus hingga pergi menjauh.

Hari itu Pantai Losari terlihat lengang. Tak seramai keadaan Pantai losari dimalam mingguan. Mereka berdua memilih duduk di depan hamparan laut dengan pemandangan gedung gapura pantai losari yang berbentuk seperti kubah menara mesjid. Terlihat silih berganti perahu bebek melaju di depan pandangan. Walau musiknya gaduh Anggi da Nhamy tak bergeming lamunannya melihat keindahan malam di pantai losari. Lampu kendaraan yang melaju indah kelap-kelipnya menghiasi jalanan. Lampu bagunan yang ada di sekitar jalan penghibur juga meramaikan panorama malam di pantai losari. Udara pantai mengibas-ngibas pakaian mereka hingga kering yang tadinya basah karena gerimis. 

“Alhamdulillah disini tidak hujan maupun gerimis”!
“iyah, Allah memang baik, tau sekali kalau kita lagi sedih butuh suasana seperti ini tanpa hujan” Anggi bersyukur sambil memandang langit setelah hujan.

Terdengar dari jauh alunan lagu dan alat musik akustik, di beberapa bagian pantai losari terlihat para pengamen jalanan menghibur para pengunjung yang duduk santai mendengarkan alunan nyanyian mereka. Tak hanya satu, ada banyak pengamen jalanan yang mencari pundi-pundi kehidupan lewat alunan lagu mereka. Mereques, setelah lagu dinyanyikan pengunjung memberi uang seikhlasnya. Tak sedikit pengunjung yang tidak menghargai kerja keras mereka. Seakana tak peduli, setelah mendengar mereka menyanyi. Pengunjung apatis, tak sedikitpun bergeming untuk merogoh katong untuk menambah pundi mereka.

Malam itu anggi berinisiatif mereques sebuah lagu untuk menemani suasana santai mereka di pantai losari. Setelah menunggu mereka menyanyikan lagu yag sedang dinyanyikan pada pengunjug yang lebih dahulu datang dibanding mereka, anggi memanggil dan meminta requesan lagu.

“Bisa reques lagu?” masih jauh dari posisi duduknya, anggi meminta lagu kepada pengamen jalanan.
“Ooow, iya bsa. Minta lagu apa?” dengan antusias si pengamen beserta teman-temannya mendekat ke arah Anggi dan Nhamy.
“bsa reques lagu judulnya Ayah!”

Nhamy mencoba mengingat sebuah momen setelah mendengar Anggi meminta lagu berjudul ayah. Ia mengingat kalau Anggi perna menyanyikan lagu ayah tersebut saat perpisahan sekolah. Nhamy mengingat jelas ekspresi anggi saat melantunkan teks lagu tersebut. Terlihat matanya berkaca-kaca, seakan ingin pecah dan berserahkan aliran air mata. 

Terlihat pengamen tersebut saling diskusi antara penyanyi dan pengiring alat musik akustiknya. Dimulai dngan pukulan gendang dan petikan gitar lagu mengalun dengan berirama senduh.

Dimana….akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku ingin slalu bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Lihatlah… hari berganti
Namun tiada seindah dahulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..


Lagu lama yang pertama kali dinyanyika oleh Broery Marantika berubah dengan gaya Jazzy namun tetap menyentuh. Lagu ayah membawa anggi kembali membayangkan harapannya hingga pupus terbawa deruh angin menuju harapan yang ia ingin dibawa kesurga hingga terdengar oleh Ayah Almarhum Bapaknya.
Tamatttt!!!!


Cerita sebelumnya:






2 komentar:

  1. Sedih bacanya.. Salut dengan perjuangan Anggi mencari tahu Ayahnya dan ingin dekat dengan ayahnya... saya sangat sadar, betapa berrartinya sosok seorang ayah.

    Sampaikan salamku sama Anggi yah Namy....

    BalasHapus
  2. hmmm kelanjutannya begitu toh dek^^..smangat slalu buat si anggy...

    BalasHapus

Terima Kasih