Rabu, 15 Februari 2012

Cerita Bersambung "Nyanyian Ayah part I"



Pagi itu, setelah kemarin di sesaki banyak kegiatan kampus, nhamy bangun dengan keadaan yang kurang baik. Wajahnya lesu walau semalam tidurnya nyenyak. Dengan mengucek-ngucek mata, wajahnya terlihat masih kelelahan. Kegiatan sebagai seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan juga aktif di pers kampus yang mewarnai kesehariannya. Walau latarbelakang jurusannya Sains Biologi  Nhamy tetap bisa menjalankan keduanya. Menjadi Jurnalis dan Saintis adalah impian yang ingin diraih oleh nhamy.

Minggu-minggu yang berat untuk Nhamy karena dalam waktu bersamaan ia harus menjalani agenda in house trainning di lembaga pers kampusnya dan acara lingkungan di himpunan mahasiswa jurusannya.
 “Huwahhhh...kepalaku sakit, badanku juga. Kayaknya masuk angin deh’” nhamy berteriak sambil merenggangka badannya yang masih berbaring dikasur

Jam menunjukkan pukul 5.00, saatnya salat subuh agenda Nhamy yang tak pernah ia lupakan. Seperti biasa Nhamy setelah salat subuh bergegas ke dapur membuat seduhan jintan putih resep dari neneknya untuk memulihkan kondisi tubuh yang sedang lemas. Seperti pagi-pagi yang lain, terlihat bunda Nhamy sibuk dengan panci dan alat dapur lainnya di depan kompor.

Tiba-tiba, bunda bertanya kepada nhamy yang masih dalam keadaan lemas kaget dengan pertanyaan tak treduga di pagi hari.

“semalam pulang jam berapa nhamy?”  dengan nada menyinggung  bunda bertanya pada nhamy yang baru melangkahkan kakinya selangkah ke dapur.

“eh..ehh kemarin pulangnya cepatji bun, Cuma bunda yang terlalu cepat tidur makanya tidak lihat nhamy pulang semalam” nhamy garuk-garuk kepala saat menjawab pertanyaan bundanya.

“kalau anak cewe tidak boleh pulang jam 8 malam karena tetangga bisa mengira yang tidak-tidak. Ingat semboyan orang makassar? Siri na pacce!!”bunda dengan serius memberi nasehat kepada anak tomboynya
.
“iya bun, nie juga pulangnya telat karena ada kegiatan penting hari sabtu nanti, jadi banyak yang dipersiapkan sebelumnya” sambil menjelaskan kepada bundanya nhamy sibuk  meniup-niup rebusan jinta putih yang baru ia angkat dari kompor.

Nhamy tau betul perbuatannya salah karena terlalu sering pulang larut malam. Ia beberapa kali dipergoki pulang jam 10 malam dan dengan mengendap-endap masuk kerumah hingga naik ke kamarnya.
Setelah meneguk segelas seduhan jintan putih, badan nhamy mulai terasa segar. Tiba-tiba dari belakang .
  “ yhaaa semalam pulang jam 10 toh..dari mana ayo?” dengan muka jahil Mutiah adik Nhamy terdengar menggodainya. 

“yeee di jalan itu macet, motorku juga susah dinyalakan karena stater tangannya rusak jadi lama nyalanya”

“alasan..” Mutiah tetap teguh membantah alas an yang dilontarkan kakaknya.

“yaa udah kalau tidak percaya” dengan was-was nhamy menoleh melihat ekspresi bundanya yang mendengar celutupan adiknya. Walau seakan tidak peduli dengan pertengkaran kedua anaknya yang tiap pagi perang mulut karena keduanya sudah sering bertengkar. Apa saja bisa jadi persoalan kalau keduanya bertemu di dapur. Sewaktu kecil Mutiah sangat cengeng, hampir tiap hari Nhamy membuat adiknya menangis karena diusili olehnya. 

Pertengkaran terus terjadi dengan persoalan yang berbeda dan tak jelas, hingga bunda mereka datang membawa nasi goreng terasi ke meja dan menyusul ikan teri kering tumis khas bunda yang harum aromanya. Keluarga Nhamy tinggal tidak jauh dari Pelabuhan Rakyat Paotere sehingga dengan mudah ia bisa meminta dibuatkan masakan laut dengan bermacam-macam jenis yang ia sukai. 

Pelabuhan yang merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo doeloe ini, menyimpan bukti sejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14, sewaktu memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka untuk membantu Raja Malaka mengusir penjajah Belanda.

Kini, Pelabuhan Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi, Lambo, kapal-kapal motor nelayan dan pedagang antar pulau. Selain itu, Paotere juga menjadi pusat niaga nelayan, dengan adanya fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dibangun pemerintah setempat.

Dini hari, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Paotere dan nelayan yang menjajakan hasil tangkapannya, menjadi pemandangan yang unik. Sementara di ruas-ruas jalan menuju TPI, tampak pula pedagang kaki lima yang menjajakan barangnya mulai dari souvenir, pakaian hingga kebutuhan rumah tangga, bahkan ada juga di antaranya yang menjual pakaian dan sepatu bekas impor. Kegiatan itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 Wita dan kawasan Paotere terlihat ramai kembali pada sore hari sekitar pukul 15.00 Wita hingga menjelang senja.

Walau dekat dari rumahnya, Nhamy baru sekali kesana. Kesan yang ia dapatkan adalah pelabuhan yang tak terurus. Banyak sampah berserakan di dalam area pelabuhan, tempat sampahnya tidak jelas hanya ada tumpukan sampah yang menandakan para warga dan pengunjung membuang sampahnya di tumpukan tersebut. Air lautnya penuh dengan limbah detergen masyarakat sekitar, limbah tumpahan minyak dan oli pun terlihat jelas. Airnya mengkilap karena campuran minyak yang tak bisa larut dengan air sehingga air di ujung pelabuhan hitam dan bau. 

Pelra Paotere yang sarat dengan nilai sejarah, dalam waktu dekat, bakal menjadi pelabuhan kontainer, menyusul pelabuhan kontainer Soekarno-Hatta yang sudah ada. Kendati demikian, pihak pemerintah berjanji tidak akan menghilangkan ciri khas Paotere, sehingga tetap dapat menjadi kawasan wisata.

Ide mengembangkan Pelra Paotere menjadi pelabuhan kontainer itu,
katanya berangkat dari tingginya arus frekuensi lalulintas kontainer yang masuk ke Makassar. Sehingga pihak Pelindo II harus membidik kawasan baru sebagai pelabuhan kontainer. “Dasar pemerintahan kalau masalah bisnis sangat antusias, jagan sampai dehh nilai sejarah dan kegagahan pelabuhan paotere di rusak seperti peninggalan sejarah lain” protes Nhamy yang perihatin melihat nilai sejarah leluhur dirusak oleh penguasa dan pengusaha sekarang.
Dari kesan buruk yang Nhamy dapatkan, ada hal yang membuat nhamy bangga terhadap pelabuhan rakyat yang juga takkala terkenal dengan pantai losari di Makassar. Masih tetap berjajar kapal pinisi gagah yang mengangkut barang bawaan dari antar pulau. 

Melihat kerja keras para buru yang bekerja mengangkut barang dari dalam kapal kemudian di angkut keluar menuju truk, sangat membuat Nhamy kagum dengan kegigihan dan semangat kerja mereka. Mengkut barang dengan meletakkanya di bahu yang terlihat keka sepertinya sudah sering digunakan menahan barang berat. Setelah menaruhnya dipundak mereka  lalu  membawa barang dengan cepat untuk selanjutnya didistribusikan ketempat lain.  Karung demi karung, Nhamy melihat seorang bapak tua menbawah karung yang sepertinya lebih berat dari tubuhnya yang tak kekar lagi . Turun dari kapal kemudian bergantian dengan rekannya mengangkut masuk ke dalam mobil yang bertuliskan truk PT. Sero. Dia juga melihat sebuah kapal kecil membawa segundukan ikan segar untuk kemudian dibawa menuju keluar pelabuhan. Alangka lelahnya mereka para nelayan ikan yang semalaman mencari ikan dilaut karena pada malam harilah momen yang tepat untuk mereka mulai menangkap ikan. Itulah yang Nhamy dapatkan dari pelabuhan, sebuah nilai sejarah kegigihan para leluhur membuat kapal sehebat pinisi dan ketangguhan para nelayan serta pekerja yang tak kenal lelah mencari rezeki halal.
***
Setelah sarapan pagi, nhamy dan adiknya melanjutkan aktivitas masing-masing. Bunda membereskan rumah, ayah masih membersihkan motor dan memanaskan vega. Vega adalah  sebutan bagi motor kesayangan nhamy. Sebelum pergi si vega tak pernah lupa untuk dipanaskan. Si Vega tiap hari  melaju jauh dari rumah Nhamy yang dekat dari Tol maros menuju Samata kab.Gowa. 

Pagi itu Nhamy dibuat pusing mengatur jadwal untuk dua acara yang berbeda. Ia menjabat sebagai koordinator dokumentasi dan publikasi untuk acara lingkungan bersih memperingati sumpah pemuda dan dalam waktu bersamaan menjabat pula sebagai koordinator acara di in house trainning jurnalistik lembaga pers kampusnya. Kebimbangan yang sangat besar dialami Nhamy di saat bersamaan  ia harus hadir untuk pembukaan kedua acara tersebut. Ia sibuk memikirkan dan mencari solusi atas permasalahnnya. Ia harus memilih akan hadir dimana, walau keduanya mengharuskannya hadir. 

“08.00 ke LPM, 09.00 harus hadir di pembukaan lingkunga kampus II” ujarnya sambil menggerutu. “ya Allah bisa tidak yha, butuh 30 menit waktu perjalanan dari kampus I ke kampus II”. Sambil berdoa dalam hati Nhamy mencoret-coret buku catatan yang berisi jadwal sehari-harinya.

Uin Alauddin Makassar memiliki dua kampus yang terletak berjauhan. Kampus I yang sekarang lebih disibukkan oleh mahasiswa Pasca Sarjana tak dipakai lagi untuk mahasiswa yang mengambil program sarjana dan D3. Kampus I ada di jalan Alauddin  sedangkan kampus II bertempat di Samata-Gowa.
 “bisaja’ kayaknya deh..30 menit saja di kampus I selanjutnya ke kampus II yang penting aku hadir walau sebentar saja” berusaha meyakinkan diri nhamy mantap dengan keputusannya karena hanya itu solusi yang ia dapatkan setelah sejam berpikir.
***
Jam di ponsel nhamy menunjukkan pukul 04.00 sore hari. Setelah sempat berada 30 menit lamanya di acara in house trainning dan lanjut ke acara lingkungan bersih sampai pukul 04.00, nhamy harus kembali lagi ke tempat acara in house trainning untuk persiapan hari kedua. Walau harus meninggalkan agenda penutupan bersama panitia lingkungan bersih yang diadakan di tanjung bayam. 

Gggrrrrr..grrrr . getar lembut dari saku rok nhamy membuatnya geli tapi ia mengabaikan panggilan dari ponselnya karena sedang berkendara menuju kampus I. Getar selanjutnya lebih singkat itu artinya hanya sebuah sms yang masuk ke inbox dan nhamy tetap mengabaikannya. Sesampainya di kampus I nhamy langsung menuju ke ruang redaksi karena pastinya ruang acara sudah kosong. Dengan nafas terengah-enggah ia masuk tergesah-gesah kedalam redaksi. Duduk menyandarkan tubuhnya di tembok yang dari tadi beraktivitas tanpa istirahat.

“assalamualaikum, maaf telat” dengan nafas yang masih tersengal

di dalam redaksi Nhamy melihat ruangan tersebut sudah di penuhi alat-alat tulis yang akan dimasukkan kedalam map yang akan dibagikan pada peserta in house trainning. “teman-teman maaf tadi saya pulang” dengan suara kencang nhamy mencari perhatian teman-temannya yang lagi serius bekerja. Tiba-tiba dari balik pintu ruangan lain yang ada di redaksi terdengan suara memanggil nhamy.

“nhamy kenapa tidak qw lihatko tadi!!!” suara yang khas yang selalu Nhamy dengar. Suara yang selalu mengkritik beritanya dan menyuruhnya meliput peristiwa di kampus.
mmmm.. kak Ani?
“siapa lagi kalau bukan saya”membalas dengan suara yang lebih keras.
“ada acaraqw juga kanda di kampus II”dengan nada merayu Nhamy menjelaskan kepada Ani yang merupakan ketua redaksinya.
“kau liputji?”
“sip kanda, sudah z kirim ke Online”
Setelah bersandar selama dua menit, nhamy mengingat di jalan tadi ponselnya bergetar. Segera nhamy mengambil ponsel disaku roknya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama dan 2 pesan singkat  dari Anggi sahabatnya. Suasana hatinya berubah menjadi khawatir, ada apa yang terjadi pada Anggi.
 
 Ada apa dengan anggi?”, batin nhamy bertanya. Nhamy bersahabat dengan anggi sejak SMA sampai sekarang. Anggi selalu jadi tempat nhamy bertukar kisah baik sedih maupun senang. Selalu ada keceriaan  tiap pertemuan mereka. Anggi merupakan sahabat yang paling nhamy sayang. Anggi mampu membuat nhamy melupakan segalah masalah yang sedang nhamy alami. Seberat apapun itu, saat bersama anggi semua bisa menjadi mudah setelah membicarakan padanya. 

Saat bersamaa Anggi nhamy tak pernah khawatir untuk melakukan hal gila dikeramaian orang, saat bersama anggi mereka sering tanpa sadar membuat perhatian orang disekitartertuju pada mereka . Anggi tak perna merasa malu, nhamy yang awalnya selalju menjaga image menjadi ikut-ikutan senang bertingkah aneh. Semboyan mereka “tak perlu malu untuk bahagia tak perlu dengar apa kata orang karena mereka tidak sungguh mengenal kita”. 

“teman-teman, kanda saya pamit pulang yah” setelah membaca sms dari Anggi, Nhamy langsung bergegas pamit untuk kembali ke rumah. Walau teman-teman dan seniornya heran Nhamy  pergi tanpa alasan setelah pamit. Tak ada yang mengerti dengan tingkah aneh Nhamy saat itu. Nhamy merasa berat meninggalkan redaksi dan teman-temannya yang sedang bekerja keras mempersiapkan perlengkapan, namun batinnyapun kuat untuk segera bertemu Anggi. Ia terburu-buru mengendarai motornya sebelum petang datang yang biasanya penat dengan kemacetan di jalan petterani.

Assalamualaikum, Nhamy pulang”  ia berteriak, sengaja agar didengar oleh seisi rumah.
“walaikumsalam tumben pulang cepat”ujar bunda yang kebingungan melihat Nhamy pulang lebih awal dari hari biasanya.
Dengan terburu-buru Nhamy menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia mengotak-atik seisi lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian dan celana. Tak lupa sikat gigi dan sabun wajah miliknya di bawa dan dimasukkan kedalam tas ransel yang sebelumnya dipakai kekampus. Isi tas yang awalnya binder dan buku kulianya berubah menjadi pakaian dan alat-alat pribadinya. Bunda yang dari tadi memperhatikan tingkah aneh Nhamy, sepertinya akan bermalam diluar hari ini.
“mau kemana lagi Nhamy” tiba-tiba suara bunda membelah kesepihan dan kesibukan nhamy.
“eh bun, bikin kaget saja” Nhamy tersentak melihat bundanya yang sudah dari tadi ada di luar pintu kamarnya.
“mau kemana, terburu-buru?” bunda kembali bertanya.
“ini bun, anggi”
“anggi kenapa?”
“anggi minta ditemani bermalam dirumah bapaknya”

Tidak biasanya Nhamy to do point mengenai alasannya pergi, Nhamy sering kali disaat berpamitan kepada bundanya. Alasan yang ia kemukakan kalau tidak ditambahi pasti dikurangi. Kebiasaan Nhamy saat ingin pergi dari rumah ia selalu meminta izin setelah mengepak barang bawaanya. Kepada bunda Nhamy jujur mengenai alasannya perihal Anggi yang ingin ditemani menginap.

Bunda nhamy sudah banyak mengenal Anggi. Anggi memang paling pandai akrab dengan orang tua. Ia mampu akrab dengan orang tua teman-temannya, bahkan melebihi keakraban  orang tua tersebut dengan anaknya.
“ohh Anggi, jadi berapa malam menginapnya?”
“Cuma semalam bun, karena besoknya ada kegiatan lagi di kampus”
Setelah mengepak barang bawaan yang akan nhamy bawa, ia bergegas berpamitan sebelum pergi. “bun, Nhamy pergi dulu” Tanpa berlama-lama Nhamy bergegas meninggalkan rumah dan langsung menuju rumah Anggi
“hati-hati dijalan, salam sama Anggi dan keluarganya” 

bunda selalu perihatin dengan kisah yang dialami bapak Anggi, bunda sudah menganggap Anggi bagian dari keluarga. Bunda mengerti betul apa yang sedang dialami anggi perihal bapaknya. Anggi sempat ke rumah Nhamy yang pada saat itu sedang ada di kampus. Karena Nhamy tak sedang berada di rumah, jadi Anggi hanya mengobrol dengan ayah dan bunda Nhamy. Anggi menceritakan kisahnya kepada bunda perihal bapaknya yang telah meninggal dunia karena kecelakaan di Cimahi-Bandung. 

Seumur hidup hidup Anggi tak pernah melihat langsung wajah ayahnya, hanya lewat foto ia mengenali sosok bapaknya. Ia adalah anak satu-satunya, namun ia memiliki 2 adik tiri dari pernikahan kedua ibunya. Almarhun bapaknya juga punya empat istri dan Anggi memiliki saudara seayah enam orang. Ibunya adalah istri kedua dari bapaknya. 

Bapak dan Ibu Anggi, mereka berdua memiliki kisah cinta yang panjang dan berat. Tanpa restu keluarga dari kedua belapihak mereka nekat kawin siri. Stelah Anggi lahir, keluarga bapaknya mencoba memisahkan ibu dan bapaknya. Karena tidak tahan keluarganya terus diganggu, bapak Anggi kabur ke jawa dan menghilang tanpa jejak. 

Anggi tumbuh tanpa tau asal-usul bapaknya, hingga suatu hari ia mendapatkan alamat orang tua bapaknya. Setelah bertengkar keras dengan ibunya, saat bersih keras meminta alamat tersebut. Walau berat akhirnya ibu anggi memberikannya, tanpa menyangka anggi nekat mendatangi alamat tersebut.

Sepanjang perjalanan Nhamy terus memikirkan sms dari Anggi. Ia merasa bersalah karena selama ini seakan mengabaikan Anggi yang ternyata sedang banyak masalah. Beberapa kali ia menolak ajakan Anggi untuk menemaninya kerumah bapaknya. Setelah mengetahui keberadaan bapaknya, Anggi merasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru untuk hidup. Walau bapaknya meninggalkannya di Makassar dan pergi ke Cimahi dengan hidup bersama istri keempatnya dengan 2 anak. Dari kabar yang ia dapatkan tentang ayahnya, Anggi lebih sering mendengar berita yang kurang baik namun Anggi tetap sayang terhadap ayahnya. Ia selalu berharap bisa melihat ayahnya dan memeluk erat tubuhnya

Ternyata keberanian Anggi mencari keluarga bapaknya berbuah manis. Opa dan Oma begitu panggilan akrab Anggi kepada kedua orang tua bapaknya. Tak seperti cerita ibunya, mereka berdua sangat baik kepada Anggi dan mengaku sejak dulu mencari keberadaan Anggi selama ini.
***

To be continue

4 komentar:

  1. waaaahhhh macam cerpen saja ni dek...jadi penasaran sama si anggy, aku nitip salam ya^^

    BalasHapus
  2. Mau baca yang selanjutnya... ^____^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pa kabar kak???, Postingan kemari kak buat nhamy tambah rindu ckckc

      Hapus

Terima Kasih