Kamis, 29 Maret 2012

Perjuangan Hijab Sahabatku

SubhanaAllah
aku dipertemukan seorang sahabat yang begitu gigih sepertinya. Ia akhwat yang taat dan mencintai sunnah Rasul. Kesungguhannya menuntut ilmu dunia sangatlah keras. Bukan hanya dunia, akhirat pun terus ia kejar.


Ia sahabat yang baik, aku mantap bergaul dengannya karena aku yakin ia akan menuntunku untuk makin mencintai Allah. Aku mengingat suatu hari ia mantap mengatakan

"Sejak Awal aku yakin Kau orang yang baik untuk aku dekati, menjadi teman, sahabat dan saudara kelak""

Aku sangat bangga dengan kata-katanya, padahal menurutku tak ada hal yang pernah aku lakukan yang begitu membuatnya sebangga itu. Sebaliknya akulah yang sangat bangga dengannya. Ia sangat mantap dengan Hijabnya. Tak seperti diriku, ia berhijab panjang menutupi aurat tanpa lekuk sedikitpun. Aku tau betul perjuangan seorang akhwat yang menggunakan hijab sepertinya, karena aku punya kakak kandung yang juga berbusana sepertinya. Kebetulan ia mengikuti ta'lim yang sama dengan kakak walaupun tak sama majelisnya.

Pagi itu, Dosen masuk dengan jedah yang lama dari jadwal kuliah sebelumnya. Aku dan dia memutuskan untuk ke perpustakan mencari buku Genetika. Setelah mendapatkan buku yang kami cari, aku menceritakan tentang kisah kakak dalam berjuang mempertahankan hijabnya sampai sekarang menggunakan purda (cadar). Lalu, ia pun bercerita betapa kerasnya pula ia memutuskan hingga mempertahannkan keinginannya untuk menjaga auratnya dengan hijab yang sangat jarang orang gunakan itu. 

Ia anak ke 8 dari 9 bersaudara, sama sepertiku cuma beda satu aku anak ke 7 dari 8 bersaudara. Makanya kami merasa kami ini sama, sama-sama lahir di keluarga besar. Asal kami juga sama yaitu lahir di Makassar. 

Pagi menjelang siang, ia mencurahkan kisahnya dalam menghadapi keluarganya yang tak setuju dengan keputusannya menggunakan hijab. Ayah dan Ibunya ingin ia berhenti menggunakannya. Saudara-saudaranya tak satupun mendukungnya. Ia sering mendengar sindiran dari keluarganya, walau begitu ia tetap gigih mempertahannkan hijabnya tanpa bergeser sedikitpun. Bahkan segala ujian yang ia terima, menguatkannya dan semakin mendekatkan dirinya kepada sang Khalik. Cintanya kepada Allah makin besar. 

Walau menerima cemohan dari orang sekitarnya, ia selalu memohon dalam doanya agar mereka semua diselamatkan dari azab api neraka. Sama sepertiku, keluarga kami kental dengan ritual adat yang sifatnya Bid'ah (tak pernah dilakukan Nabi). Keluarganya tak begitu paham tentang apa itu bid'ah, dosa dan akibat dari bid'ah. Betapa perih hatinya saat berdebat dengan ayahnya yang selalu tidak sepaham tentang ritual-ritual keluarganya. Namun, dengan ilmu yang ia dapatkan lewat ta'lim sangat bermanfaat untuk membuat ayahnya paham. Dirinya  yakin dan mantap menjelaskan bahwa apa yang ayahnya selama ini  dianggap benar lewat ritual tersebut harus ditinggalkan.

Dalam suara hatinya ia selalu mengucapkan kata untuk dirinya bahwa

Apakah yang akan kau peroleh dari HIJABmu wahai saudariku????
Yah, sebuah pahala yang BESAR atas ketaatan pada ALLAH Azza Wajalla...

Sebuah kesabaran dalam menahan keinginanmu pada Dunia dari Kemaksiatan,...sabar atas cemohan masyarakat...dan panasnya cuaca..

Sungguh..sangat INDAH tetesan keringat mengalir dari dahimu yang membasahi wajah yang engkau sembunyikan dari mata liar,,

Disaat kamu sedang berusaha keras menggapai pahala dari Rabb-mu, kamu sama sekali tidak akan terganggu karenanya sebab itu BUKAN apa-apa di matamu.
Seorang pencinta akan bersabar untuk memperoleh cinta sang Kekasihnya..

Panasnya cuaca TIDAK akan mengganggu TEKADmu untuk senantiasa mengenakan HIJAB...
HIJAB penjagaan Robbmu yang Pengasih...

Karena kau Paham betul akan Firman ALLAH: "....Katakanlah api neraka Jahannam itu lebih sangat panas jikalau mereka mengetahui" (QS. At-Taubah : 81)

Maka JANGAN biarkan secuilpun Kulitmu tersentuh oleh Panasnya..

Rabu, 28 Maret 2012

Love Maya @DuniaMaya Part III


Sosok Langit

Senja, Kanti dan Maya berjalan berdampingan. sudah lama kedua gadis ini tak berjalan bersama seperti saat mereka masih memakai rok biru tua dengan seragam SMP. Kanti adalah sahabat Maya sejak SMP sampai sekarang. Walau jarang bertemu Maya dan Kanti tetap menjaga keakraban mereka sama seperti saat masih SMP.

“Wahh sudah lama kita tidak jalan berdampingan begini sambil memandangi senja di dermaga” 

“iyayah,,hmmm kita berhenti sebentar” Maya menghentikan langkahnya dan menahan langka Kanti.
“kita duduk dibatu itu saja”melihat sekitar, Kanti memilih salah satu batu besar yang menghadap ke lautan yang ada di bibir pantai ujung dermaga.
sambil memandangi langit dan lautan yang suaranya seakan bersahutan, kanti memulai pembicaraan yang sudah lama mereka tak lakukan.
“sudah berapa lama yha Maya kita tidak begini, menikmati laut dan langit kita”

“laut dan langit kita, hahah jadi ingat dulu kita pernah ngaku langit dan laut yang ada di hadapan kita ini milik kita”

Kanti dan Maya lahir dan di besarkan di daerah pesisir kota Makassar. Dahulu dermaga ini hanya susunan bambo kering yang disatukan dengan seuntai tali pukat yang kuat. Banyak anak kecil tiap senja berenang dengan riang. Tiap selesai bermain teman-teman Maya yang lain mengajak Maya dan kanti ikut kelaut berenang, tapi Kanti dan Maya lebih memilih duduk di batu besar pinggir laut memandangi matahari yang perlahan-lahan tergelincit ke barat. Sambil mencari kepiting kecil untuk diperaduhkan mereka sibuk berdua. Kalau yang lain seru bermain air, Kanti dan Maya malah seru berdua mengaduh kedua kepiting yang mereka tangkap.

“Yang kalah harus gendong yang menang sampai kerumah” ujar Maya
”Oke siapa takut” dengan semangat kanti mencari kepiting jagoannya untuk mengalahkan Maya
.
Terbawa suasana memory lama, mereka tak sadar air laut mulai naik kembali setelah surut.
“eh Kanti tadi mau bilang apa?”
“heheh tidak, saya Cuma mau ketemu kamu”
“Oww,,kalau begitu biar kali ini kamu yang dengar aku yang berbicara”
“sip, gantian saya sudah terlalu sering curhat sama kamu hihi” sambil tersenyum Kanti mengais pasir mencari kepiting.


Langit

Ia ibarat langit, selalu ingin melindungi dan memperhatikan
kadang ia cerah dan kadang ia mendung
warnanya indah saat biru dan menghawatirkan saat kelabu.
warnanya bersama pelangi buat suasanan hati ceria.
tapi sekarang ia mendung dan sebentar lagi hujan

“kamu bilang apa sie, saya tidak ngerti”
“huff”Maya menghela nafas panjang, ia membayangkan wajah Rohis yang ceria. 

Tak pernah Maya melihat wajah rohis yang sedang mendung. Tapi smsnya kali ini sering sekali menggambarkan kegalauannya.

“kamu kenapa Maya?”Kanti memandangi wajah resah kawannya.
“Apa aku salah mendiaminya, haruska aku bilang”
Kanti semakin bingung, sambil menggaruk kepalanya ia coba menerka-nerka kalimat yang dilontarkan Maya.

“Aku sedang buat anaknya orang bimbang, kanti”
“ooww bimbang kenapa”
“seperti layang-layang aku tarik dan ulur kembali. Ingin aku lepas tapi aku tak ingin layang-layangku hilang”
“Makanya aku tidak suka main layangan” ujar Kanti sambil tersenyum nakal berharap kawannya itu kembali tersenyum.

“ini masalah hati Kanti”
“Oww pantas serius, siapa siee cerita dong!”
Sambil memandang kedepan matahari yang mulai terbenam Maya mencoba menyelami sosok Rohis yang sangat perhatian.,


*To be Continue*

Cerita Sebelumnya :
Love Maya @DuniaMaya Part II

Jumat, 23 Maret 2012

Love Maya @DuniaMaya Part II

Laut dan Langit


Bila rasaku gila membandingkan antar laut dan langit 
Maka sesungguhnya ciptaan mu inilah yang membuat daratan bimbang
Rasa apa yang kuat dari hebatnya deruh ombak
dan deruh angin.

Hening Maya rasakan tapi dipikirannya ramai. Dengan di temani suara ombak dan deruh angin maya duduk di atas atap kapal nelayan milik sahabat  ayahnya. Dg.Tiro namanya sahabat ayahnya itu kurus dan bertubuh kecil. Ubannya sudah terlihat keluar dari topi kerucutnya yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Kulitnya yang berwarna coklat terbakar karena sering terkena matahari terlihat kontras dengan baju kaos ungunya yang ia sering pakai melaut. Tangannya terlihat kekar sering menarik jangkar penahan perahu. Dg, Tiro hampir setiap kali pulang dari melaut singgah ke rumahnya hanya untuk memberikan sekeranjang ikan kecil yang segar untuk keluarga maya, makanya Maya sangat akrab dengan Dg.Tiro karena Maya yang selalu pertama melihat Dg.Tiro dari kejauhan  berlari tersenyum membawa hasil tangkapannya yang segar.

“Reseki besar..!!”Teriak Dg.Tiro sambil berlari di dermaga menuju daratan. Senyumnya yang lebar dan matanya berbinar penuh semangat member hasil tangkapannya pada Maya.
“Wahh rezeki besar lagi Daeng”
“iyo na’ Alhamdulillah juku-juku segar sekeranjang untuk maya”
“Makasi banyak Daeng semoga bisa dapat juku yang banyak tiap hari”
“Amin nak”

Dg.Tiro senang memberi ikan pada Maya karena Maya selalu memdoakan Daeng Tiro yang membuatnya tambah semangat.
Daeng Tiro senang pula mengajak maya untuk ikut naik dikapalnya untuk sekedar berlayar mengelilingi laut walau tak jauh Maya senang bisa melihat hamparan laut luas dan ikan stelophorus alias teri dari atas kapal terlihat samar-samar.

Maya sering meminta izin ke Daeng Tiro untuk sekedar duduk melihat langit di atas atap kapalnya yang sedang bersandar di dermaga. Melihat langit membuat Maya tenang, memandangi awan damai rasanya. pikirannya berjalan lembut seperti awan tersapu angin. Pergerakannya lamban seperti tak bergerak tapi dengan pasti posisi awan yang Maya perhatikan berpindah.

Begitula awan membawa pikiran Maya lambat laun menuju kebimbangan tentang perasaannya. Sudah tiga hari ia mendiami suara telfon dari Rohis. Pesan singkatnya terus-terusan masuk tak dihiraukan Maya. Dalam hatinya ia sangat resah dengan sikap Rohis yang sangat perhatian. Tak ingin Maya tanggapi tiap perhatiannya sebagai rasa yang tidak jelas bahwa “Apakah ini cinta?”.
Maya kembali terbawa pikirannya pada Umar yang pernah menyampaikan maksud hatinya pada Maya.

Inginku kau adalah tulang rusukku,
yang bengkok dan akan ku luruskan dengan kasih sayang

Isi pesan singkat itu tidak akan pernah Maya lupakan. Hampir seminggu ia memikirkannya semenjak pesan itu masuk dalam inboxnya Hp serta hatinya. Sekarang kembali ia mengingat kata-kata penuh makna tersebut. Umar sudah sebulan semenjak peristiwa itu tak ada kabar, hal tersebut pula yang membuat hatinya resah.

“Aku bimbang awan, bisakah kau membawa kebimbanganku bersamamu dan hilang dari fokusku” Suara maya terbawa angin.
Tak seorangpun yang mendengarnya walau nelayan hilir mudik mempersiapkan keberangkatan untuk menangkap ikan setelah senja.

Dari kejauhan, terlihat suara riuh memanggil
“Mayaa..Woyy Maya”
Pikiran maya buyar, ia berbalik, fokus pandangannya ke gadis seumurannya yang berlari. Rambut panjangnya terbang kesana kemari tersapu angin laut yang kencang.

“Maya aku tadi keumahmu, Amakmu bilang kau ada di dermaga”Ucapnya keras karena suaranya yang tersapu suara ombak yang juga besar.

“Oh iyah saya sudah mau pulang, ayo kita kerumah saja ada yang mau ku ceritakan”

“baik aku juga, ada yang mau ku ceritakan”Ujar kanti, teman semasa SMP maya yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

 *To be continue*




Cerita sebelumnya :
Love Maya @DuniaMaya Part I

Sabtu, 17 Maret 2012

Kisah Nenek, Pengantin Sulawesi Selatan Zaman Duloe

Kisah masa lalu, ingatan lama yang masih melekat dalam memory otak kita. Semakin umur bertambah maka daya ingat manusia makin menurun. Namun ada segelintir kisah yang masih kita bisa ingat baik, walaupun itu sudah berpuluh-puluh tahun dan tak pernah kita alami untuk kedua kalinya.

Begitulah yang saya lihat dari nenek. Nenek yang sudah berumur 80 tahun masih mengingat baik kisahnya saat akan melepas masa gadisnya. Mulai dari kisah saat ada kabar bahwa dirinya akan dilamar oleh pria yang ia tak kenal di daerah seberang, saat ia telah resmi menjadi calon istri dari anak tuan tanah, sampai saat awal-awal ia merasa canggung melayani kakek yang tiap hari bekerja diladang keluarga.

Pagi itu nenek bercerita tentang datangnya keluarga jauh yang datang membawa kabar kalau ada seorang keponakannya mencari calon istri. Ayah dari nenek tidak semerta-merta langsung menerima. Lama setelah itu datanglah kembali utusan dari keluarga si pria itu untuk kembali menyampaikan maksud yang sama untuk melamar nenek. Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup matang dari keluarga nenek akhirnya nenek resmi menerima lamaran dari keluarga si pria tadi.

Setelah keluarga menyetujui, kabar tentang akan dinikahinya nenek cepat beredar ke masyarakat karena ayah nenek memang salah satu tokoh masyarakat saat itu. Cerita menariknya adalah seorang calon pengantin wanita setelah resmi menerima lamaran tidak boleh keluar rumah bahkan dilihat oleh orang lain selain keluarga. Selain karena adat Makassar zaman dahulu mengharuskan, perempuan zaman dahulu memang merasa malu untuk keluar dan dilihat oleh orang lain. Sebulan setelah dilamar akhirnya prosesi pernikahan diselenggarakan. Awalnya si pengantin wanita harus melalui serangkaian adat yaitu mandi suci atau biasa disebut Pa'sili lalu malam Gorongtigi setelah itu akad nikah dan acara resepsi. Tidak hanya sampai acara resepsi, adat Makassar juga mewajibkan adanya prosesi Le'ka' dimana si pengantin wanita dibawa menuju kediaman si pengantin pria.

Nenek menceritakan pula perubahan adat pernikahan dulu dengan sekarang. Zaman dulu Acara pernikahan hanya dihidangkan kue-kue tradisional khas Makassar, tidak seperti sekarang para tamu dihidangkan makanan berat. Saat ini pengantin duduk berdua berdampingan di atas pelaminan, kalau zaman dahulu pengantin harus ngesot kayak suster ngesot :P. Mereka harus mendatangi para keluarga dan tamu-tamu untuk berjabat tangan meminta restu dan menerima ucapan selamat dari para tamu.

Ada yang lebih unik dari kisah-kisah nenek sebelumnya. Nenek menjelaskan kalau dulu pasangan pengantin baru tidak diperbolehkan untuk MP berdua dulu haha. Malam pertama mereka harus diawasi oleh ibu atau keluarga dekat yag lebih tua. Mereka harus bersabar hingga tiga atau dua hari.

Awal nenek melayani kakek, nenek mengaku sangat canggung karena tidak pernah kenal sebelunya dengan kakek. Namun sejalan waktu berlalu kakek nenek hidup bahagia dengan 5 anak. Walau kakek harus meninggalkan nenek terlebih dahulu untuk menghadap Sang Khalik. Nenek sampai sekarang masih sering merindukan kakek dan selalu memandangi foto serta menceritakan kisah-kisahnya bersama sewaktu muda hingga ajal menjeput kakek.


"Kami Rindu Kakek"
Ya Allah Semoga Kakek mendapat nikmat kubur Mu


Rabu, 14 Maret 2012

Keluhku Untuk Alam

Apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan?
Seperti baru kemarin ku lihat hijaunya segar di pagi hari dan indahnya di senja hari. Sekarang hijaunya sawah dan ladang jagung tak sama seperti awalku melalui jalan menuju kampus. Perlahan-lahan tapi pasti sedikit demi sedikit lahan hijau itu tertimbun tanah merah dan muncul bangunan demi bangunan.

Tiap hari aku melihat sepanduk dan papan IMB tanda bangunan baru dapat izin lagi menimbuni sawah hijau yang senang aku lihat. Tak salah memang, bila tanda IMB ada, artinya sudah ada izin pula dari pemilik sawah yaitu petani. Sayangnya mereka adalah para petani miskin akibat kerasnya hidup bercocok tanam. Karena kebutuhan, mereka rela sawah yang tidak hanya menghasilkan beras tapi juga oksigen bagi bumi ditukar dengan uang.

Aku sedih, tiap bulan ada saja lahan yang lagi-lagi lenyap dari penglihatanku. Teringat kembali awal aku mengunjungi bakal calon kampusku itu. Hal yang membuatku pertama kali memutuskan untuk lanjut pendidikan di Perguruan Tinggi UIN adalah karena tiap aku kekampus nanti aku akan disuguhi pemandangan sawah hijau, gunung yang gagah dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota. Setiap aku pulang, saat-saat senja langit luas tanpa gedung besar membuat pandanganku bebas melihat indahnya pergantian rana warna dari sore menjadi orange senja hingga malam gelap tak terasa.

Tapi sekarang, sedikit demi sedikit pandangan luasku mulai terhalang gedung-gedung perumahan, ruko dan vila komersial. Apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan bahkan 2 tahun mungkin sawah ini akan habis. Tak ada lagi hijau yang menenangkan dan langit biru yang mendamaikan jiwa. Aku akan melaju di atas motor sambil bersedih bila hilang alam hijauku. Bumi ini memang bukan milikku seutuhnya tapi sejalan aku menikmati tiap hariku dengan alam membuat aku merasa memilikinya.

Apa yang dapat aku lakukan??, mungkin akan sulit aku temui pemandangan 2 tahun yang lalu!!

Ukhti, Belum Saatnya

Buka hatimu..
Bukalah sedikit untukku..
Sehingga diriku..bisa memiliki mu...

By: Armada

Ingat lagu diatas?? lagu ini populer loh!
menceritakan seorang pria yang menanti wanita yang ia cintai agar menerima cinta kasihnya. Dalam video klipnya si pria merintih karena berharap si wanita membuka perasaannya kepada si pria.
Hmm....

Aku punya sahabat, ia curhat tentang seorang pria yang ternyata mencintainya. Entah seberapa tulus rasa yang si pria yang coba ia tunjukkan pada sahabatku itu. Dengan bijak sahabatku hanya bisa diam melihat semua upaya si pria tadi. Si pria yang juga kenal baik padaku menanyakan maksud dari sikap sahabatku. Saat aku tanyai sahabatku mengapa ia tega bersikap cuek kepada orang yang selama ini ia kagumi. Sahabatku tersenyum sambil berkata :

"aku memang menyukainya, tapi bukan sekarang, belum saatnya. Biarku tutup hatiku ini, sampai Allah yang membukakannya"

Aku ikut tersenyum, ku ambil makna yang coba aku selami dalam-dalam....
Cinta bisa kapan saja kita rasakan tapi hakikatnya ada waktu dimana cinta berarti lebih dengan niat ibadah.

Cintai ia karena Allah. 
Allah telah menentukan kapan dan dimana rasa itu berlabu 
Pada siapa dan bagaimana
Kenapa?
Karena Cintanya tak ada putusnya
Cintailah Allah maka balasan cintanya lebih dari yang kau minta.

Bersabarlah wahai ukhti, tutuplah hatimu sebelum Allah memberi lampu hijau.
Bersabarlah karena orang sabar selalu mendapatkan sesuatu yang lebih dari pengorbanannya
Bersabarlah karena semua ada waktunya...indah pada waktunya
Bahagia pada akhirnya!!
Amin


*Berjuang bersama wanita-wanita pilihan*

Sabtu, 10 Maret 2012

Merintis Biosense

Sejenak raga ini bertanya, apa yang dapat aku  hasilkan untuk banyak orang. Coba ku mencari sesuatu yang mungkin bisa aku kembangkan. Tidak perlu jauh-jauh dulu aku ingin menghasilkan sesuatu untuk jurusanku sekarang.
Permasalahan yang aku dapat di Biologi Sains UIN Alauddin adalah jurusan ini belum populer karena masih baru. Paling miris saat selesai mewawancarai pejabat-pejabat kampus mereka selalu bertanya seperti ini

"kau mahasiswa mana nak?"
aku menjawab "Mahasiswa Biologi Ustad"
"oow Biologi pendidikan yha?"
"Hmm bukan ustad, saya dari Fakultas Sains dan Teknologi"
(di Uin Dosen atau pejabat lulusan agama biasa dipanggil Ustad )

Tidak hanya sekali tapi setiap pejabat yang aku wawancarai selalu mengira Biologi itu cuma ada satu yaitu pendidikan saja atau kalau di UIN biasa disebut Tarbiah. Hmm..dari pengalaman-pengalamku tadi aku menyimpulkan kalau Sains Biologi itu belum banyak dikenal orang. Sebagai salah satu mahasiswa Biologi, saya merasa perlu merubah keadaan tersebut.

Karena aku juga aktif di LPM (lembaga pers mahasiswa) di UIN yang tabloidnya bernama Washilah membuat aku berinisiatif untuk mempublikasikan Sains Biologi lewat publikasi media massa. Muncullah ide untuk merintis sebuah buletin. Aku makin semangat mengerjakan buletin tersebut, hal ini  juga karena setelah melihat panflet BIOMA dipasang di mading. Bioma adalah LPM dari Himpunan jurusan biologi di UNM. Di UIN jurusan Biologi , LPM? buletin saja belum ada."Kalau mereka bisa kenapa kami tidak" dalam hati berkata jurusanku juga harus punya LPM nantinya. Bersama Seniorku kami beri nama Buletin kami "BIOSENSE".

Aku sadar ini bukan pekerjaan mudah, tapi kalau buka sekarang kapan lagi, kalau buka saya siapa lagi!!.
Ditengah rutinitas lain, aku yang juga tak banyak waktu membuat susah untuk konsetrasi membuatnya. Aku sempat lupa dengan cita-citaku ini tapi Alhamdulillah orang-orang disekitar ku yaitu keluarga besar himpunan selalu mendukung dan mendesak untuk mewujudkannya.



Alhamdulillah 27 Februari menjadi saksi atas keinginanku untuk membuat ide-ide menjadi nyata dan dipublikasikan terwujud. 100 eksplar diprint warna dan dibagikan di tiap gedung Fakultas Saintek. Di sisi lain dari rasa bangga ada pula rasa kecewa saat sebagian pembaca tidak meghargai kerja keras kami dengan menyia-nyiakan buletin kami. Berat rasanya perasaan kami melihat Buletin yang dikerjakan dengan tak mudah hanya dijadikan sampah. Serasa kerja keras kami yang diinjak dijadikan sampah. Namun hal itu tidak kami jadikan arang yang cepat menghanguskan semangat tapi menjadi api semangat untuk membuat terbitan kedua.




Seminggu setelah penerbitan perdana kami, Pembantu dekan III mendesak kami dan memberi semangat untuk terus terbit. Dua minggu berikutnya ada kabar lebih menggembirakan, Biosense mulai didengar oleh Dekan dan Pembantu Rektor III. Bukan hanya didengar terbit tapi menjadi perhatian mereka saat menjadi bahan diskusi disalah satu pertemuan pejabat kampus. Biosense disebut sebagai hasil kreatifitas mahasiswa yang perlu dikembangkan karena merupakan bukti salah satu kemajuan mahasiswa. Luar biasa, awalnya tidak percaya mendengar perkataan seniorku yang hadir saat itu dan ikut diwawancarai.


Kepercayaan akan kebanggan hasil dari Biosense baru aku yakini saat hari ini 10/03/2012 acara Upgreading. Ibu Fatmawati ketua jurusan kami di Biologi dalam pembukaan acara mengatakan sangat bangga dengan hasil dari Biosense. Hal tersebut dikarenakan pada saat peristiwa datangnya tamu asing dari Kanada datang ke Fakultas Saintek, Dekan kami sangat tertolong oleh Buletin Biosense. Biosense adalah media massa pertama yang ada di Fakultas Saintek. Ibu Fatmawati menyampaikan rasa terima kasih dan rasa bangga Dekan kami dan membuat Ibu Fatmawati juga merasakan demikian. Rasa lelah kemarin-kemarin rasanya luntur seketika. Walau saat Ibu Fatmawati berbicara saya belum hadir hehe tapi rasa senang itu muncul saat teman-teman memberi selamat. Teman-temanku juga tau dan juga menjadi saksi kerja kerasku. Rasa lelah berpikir, mengedit, perihnya mata di depan laptop, melobi untuk wawancara, menyusun kata, mencari judul berita semuanya menjadi semakin menarik.


Thanks Allah Aku sangat Bahagia!!
Ini mungkin hanya kerja kecil
namun niat baik
keinginan kuat
harapan besar
dan untuk banyak orang
hanya ini yang dapat aku lakukan
aku senang orang bahagia
aku bangga bisa berguna
lewat karyaku tak mudah aku lalui
tapi ikhlasku membuat ini semakin menarik
ini menginspirasiku untuk membuat yang lebih besar lagi
aminnn!!!

Minggu, 04 Maret 2012

Catatan Rasa


Mencoba untuk bijak dalam memilih, aku tahu bijak itu tak mudah. "Cintai ia dalam diam atau diam-diam mencintai ia". Apa akal sehatku mampu? Erorr rasanya saraf-saraf berpikirku. Temanku bilang aku orang yang cenderung menggunakan logika dibanding perasaan, masa sie??

Mungkin gara-gara itulah aku sulit memecahkan masalah hati. Selama ini ku dengar, ku lihat, dan ku analisa curhatan mereka yang sedang terjangkit virus merah jambu. Ternyata pada saat posisi itu ada padamu itu tak semudah yang kita kira. Namun ada hal penting yang aku dapatkan dari sahabatku yang bijak bahwa Wanita  yang bertakwa akan selalu menjaga Izzah dan Iffahnya.

Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya kenapa film cinta, lagu cinta dan semua tentang cinta dan kasih itu sangat menarik dibahas tapi saat mencoba menganalisanya hanya ketabuan yang kita dapat. Saat aku membaca karya puisi Khalil gibran tentang cinta hampir-hampir mirip ia seperti menceritakan kisah horor, tapi tidak bisa dipungkiri semua yang ia tuangkan dalam puisi semuanya benar. Orang mudah menganalogikan cinta tapi tidak bisa mendefinisikan cinta dengan tepat. Tiap orang punya definisi berbeda hingga sampai sekarang cinta hanya sebatas teori dan tak ada hukum pasti tentang cinta.

Sampai kapanpun cinta akan selalu buat kisah-kisah luar biasa. Pelosok manapun cinta
akan punya tempat tersendiri dalam diri seseorang. Kita bisa merasakan berbagai macam cinta, karena cinta takkan habis tertelan masa.


Aku, kamu dan dia bahkan mereka tau. 
Jangan sampai tersesat hingga menghilang karena cinta.
Jangan tenggelam hingga kehilangan kesadaran karena cinta. 
Jangan buta hingga tak tau apa-apa karena cinta, 
karena cinta tak setega itu membuat mu tak daya.


-Catatan rasa-


Kamis, 01 Maret 2012

Surau dan Gemericik Hujan



Hujan sangat deras, karena tak mampu lagi menahan derah hujan akupun singgah di sebuah surau.
Aku memandangi tiap sudut surau, tak perlu jauh pandangku karena suraunya tak begitu besar.
Aku menggigil, ingin rasanya masuk kedalam, tapi entah rasanya ngeri masuk kedalam.
Sepi, tak ada orang ataupun tanda-tanda jamaah. Sejadahnya miring tak lurus sejajar dengan sejadah di saf kedua.
Lantainya terlihat berdebu.
Jendelanya banyak retak.
Flavon banyak bocornya.
Genteng sudah tak lengkap.
Tanah dan genangan air hujan bercampur daun kering, halamannya dihiasi patahan ranting pohon hingga tertiup angin.
Beberapa helai daun dan patahan rantingnya masuk dalam surau.
Tiangnya yang terbuat dari kayu jati terlihat rapu karena segerombolan populasi rayap memakannya.
Pintunya terbuka lebar.
Aku lihat gagang pintunya sudah reyok hingga aku ragu masuk ke dalam surau.
Takut bila saat aku masuk, pintunya tiba-tiba tertutup dan aku tak bisa membukanya.
Surau ini punya empat jendela yang membuatku bisa melihat kedalam surau dengan leluasa tanpa harus masuk ke dalam.
Walau buram karena debu yang tebal terkena percikan hujan hempasan angin.
Aku melihat beberapa piala besar, sepertinya surau ini adalah surau yang membanggakan dulunya.
Tapi, kemana penghuninya??
Saat itu hujan, aku tak melihat seorangpun untuk ditanyai.
Kalau surau ini bisa bicara, akan aku tanyai.
Kalau surau ini bisa merasa, ia bagai wanita yang kehilangan cintanya.

Terima Kasih