Rabu, 14 Maret 2012

Keluhku Untuk Alam

Apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan?
Seperti baru kemarin ku lihat hijaunya segar di pagi hari dan indahnya di senja hari. Sekarang hijaunya sawah dan ladang jagung tak sama seperti awalku melalui jalan menuju kampus. Perlahan-lahan tapi pasti sedikit demi sedikit lahan hijau itu tertimbun tanah merah dan muncul bangunan demi bangunan.

Tiap hari aku melihat sepanduk dan papan IMB tanda bangunan baru dapat izin lagi menimbuni sawah hijau yang senang aku lihat. Tak salah memang, bila tanda IMB ada, artinya sudah ada izin pula dari pemilik sawah yaitu petani. Sayangnya mereka adalah para petani miskin akibat kerasnya hidup bercocok tanam. Karena kebutuhan, mereka rela sawah yang tidak hanya menghasilkan beras tapi juga oksigen bagi bumi ditukar dengan uang.

Aku sedih, tiap bulan ada saja lahan yang lagi-lagi lenyap dari penglihatanku. Teringat kembali awal aku mengunjungi bakal calon kampusku itu. Hal yang membuatku pertama kali memutuskan untuk lanjut pendidikan di Perguruan Tinggi UIN adalah karena tiap aku kekampus nanti aku akan disuguhi pemandangan sawah hijau, gunung yang gagah dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota. Setiap aku pulang, saat-saat senja langit luas tanpa gedung besar membuat pandanganku bebas melihat indahnya pergantian rana warna dari sore menjadi orange senja hingga malam gelap tak terasa.

Tapi sekarang, sedikit demi sedikit pandangan luasku mulai terhalang gedung-gedung perumahan, ruko dan vila komersial. Apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan bahkan 2 tahun mungkin sawah ini akan habis. Tak ada lagi hijau yang menenangkan dan langit biru yang mendamaikan jiwa. Aku akan melaju di atas motor sambil bersedih bila hilang alam hijauku. Bumi ini memang bukan milikku seutuhnya tapi sejalan aku menikmati tiap hariku dengan alam membuat aku merasa memilikinya.

Apa yang dapat aku lakukan??, mungkin akan sulit aku temui pemandangan 2 tahun yang lalu!!

11 komentar:

  1. wah...
    mesti dibuat aturan tuh mitha..
    pembangunan berbasis lingkungan..,

    meski membangun tapi mesti juga diperhatikan lingkungan sekitar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju kak! dmn lagi kita akan menikmati lingkungan hijau yang bersih kalau semua lahan hijau dibangun gedung T.T

      Hapus
  2. hmm sepakat!
    sekarang tata kota ud amburadul.lama2 makassar jd kota ruko >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iy, katanya mau jd kota dunia yang ada kota penuh ruko =,='

      Hapus
  3. Hal itu terjadi, karena tidak ada kerjasama antara pihak pemerintah kota dengan para perencana kota Mitha.. Juga, perencana-perencana lulusan universitas-universitas masih sangat sedikit yang bisa kita katakan berkompeten. Proses pembelajaran yang tidak mendalam dan menyeluruh semasa kuliah, juga mental para pembelajar itu, pada akhirnya mempengaruhi pengambilan keputusan mereka ke depan.

    Juga perlu dilakukan penyuluhan-penyeluhan kepada masyarakat tentang bagaimana cara membangun.. bagaimana memperlakukan lingkungan setelah lingkungan binaan itu terwujud.. Yah, masih banyak memang Mitha yang perlu dibenahi.. Makassar Kota Dunia?? Saya rasa masih belum bisa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para lulusan Arsitek juga perlu ikut memperhatikan masalah ini!!!

      Hapus
  4. perlu banyak sarjana planologi tuh, supaya pembangunan tetap jalan tapi lahan hijau tidak hilang

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum.
    Setuju, bukankah tanaman itu juga memiliki hak untuk hidup! Ini sering terjadi ditangan mereka yang serakah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaikumsalam, iya sangat setuju, yang menikmati sejuknya udarah kan kita juga Hmmm!!

      Hapus
  6. Saya tidak tahu apa yang akan Nhamy tulis jika melihat tanah Kalimantan.. yang hari ini kita lihat Hijau dengan pohon2 yang menghutan,,,,, besok sudah rebah dan tergantikan dengan batu - batu hitam yang digali.....

    BalasHapus

Terima Kasih