Sabtu, 17 Maret 2012

Kisah Nenek, Pengantin Sulawesi Selatan Zaman Duloe

Kisah masa lalu, ingatan lama yang masih melekat dalam memory otak kita. Semakin umur bertambah maka daya ingat manusia makin menurun. Namun ada segelintir kisah yang masih kita bisa ingat baik, walaupun itu sudah berpuluh-puluh tahun dan tak pernah kita alami untuk kedua kalinya.

Begitulah yang saya lihat dari nenek. Nenek yang sudah berumur 80 tahun masih mengingat baik kisahnya saat akan melepas masa gadisnya. Mulai dari kisah saat ada kabar bahwa dirinya akan dilamar oleh pria yang ia tak kenal di daerah seberang, saat ia telah resmi menjadi calon istri dari anak tuan tanah, sampai saat awal-awal ia merasa canggung melayani kakek yang tiap hari bekerja diladang keluarga.

Pagi itu nenek bercerita tentang datangnya keluarga jauh yang datang membawa kabar kalau ada seorang keponakannya mencari calon istri. Ayah dari nenek tidak semerta-merta langsung menerima. Lama setelah itu datanglah kembali utusan dari keluarga si pria itu untuk kembali menyampaikan maksud yang sama untuk melamar nenek. Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup matang dari keluarga nenek akhirnya nenek resmi menerima lamaran dari keluarga si pria tadi.

Setelah keluarga menyetujui, kabar tentang akan dinikahinya nenek cepat beredar ke masyarakat karena ayah nenek memang salah satu tokoh masyarakat saat itu. Cerita menariknya adalah seorang calon pengantin wanita setelah resmi menerima lamaran tidak boleh keluar rumah bahkan dilihat oleh orang lain selain keluarga. Selain karena adat Makassar zaman dahulu mengharuskan, perempuan zaman dahulu memang merasa malu untuk keluar dan dilihat oleh orang lain. Sebulan setelah dilamar akhirnya prosesi pernikahan diselenggarakan. Awalnya si pengantin wanita harus melalui serangkaian adat yaitu mandi suci atau biasa disebut Pa'sili lalu malam Gorongtigi setelah itu akad nikah dan acara resepsi. Tidak hanya sampai acara resepsi, adat Makassar juga mewajibkan adanya prosesi Le'ka' dimana si pengantin wanita dibawa menuju kediaman si pengantin pria.

Nenek menceritakan pula perubahan adat pernikahan dulu dengan sekarang. Zaman dulu Acara pernikahan hanya dihidangkan kue-kue tradisional khas Makassar, tidak seperti sekarang para tamu dihidangkan makanan berat. Saat ini pengantin duduk berdua berdampingan di atas pelaminan, kalau zaman dahulu pengantin harus ngesot kayak suster ngesot :P. Mereka harus mendatangi para keluarga dan tamu-tamu untuk berjabat tangan meminta restu dan menerima ucapan selamat dari para tamu.

Ada yang lebih unik dari kisah-kisah nenek sebelumnya. Nenek menjelaskan kalau dulu pasangan pengantin baru tidak diperbolehkan untuk MP berdua dulu haha. Malam pertama mereka harus diawasi oleh ibu atau keluarga dekat yag lebih tua. Mereka harus bersabar hingga tiga atau dua hari.

Awal nenek melayani kakek, nenek mengaku sangat canggung karena tidak pernah kenal sebelunya dengan kakek. Namun sejalan waktu berlalu kakek nenek hidup bahagia dengan 5 anak. Walau kakek harus meninggalkan nenek terlebih dahulu untuk menghadap Sang Khalik. Nenek sampai sekarang masih sering merindukan kakek dan selalu memandangi foto serta menceritakan kisah-kisahnya bersama sewaktu muda hingga ajal menjeput kakek.


"Kami Rindu Kakek"
Ya Allah Semoga Kakek mendapat nikmat kubur Mu


2 komentar:

  1. wah kayaknya asik kembali ke masa lalu. . .. disamping kreatifitas masyarakat terjaga, juga bisa melestarikan budaya. . ..

    BalasHapus
  2. Wah... mantap juga yah.... seru nih kalau gini.... ^__^

    BalasHapus

Terima Kasih