Kamis, 29 Maret 2012

Perjuangan Hijab Sahabatku

SubhanaAllah
aku dipertemukan seorang sahabat yang begitu gigih sepertinya. Ia akhwat yang taat dan mencintai sunnah Rasul. Kesungguhannya menuntut ilmu dunia sangatlah keras. Bukan hanya dunia, akhirat pun terus ia kejar.


Ia sahabat yang baik, aku mantap bergaul dengannya karena aku yakin ia akan menuntunku untuk makin mencintai Allah. Aku mengingat suatu hari ia mantap mengatakan

"Sejak Awal aku yakin Kau orang yang baik untuk aku dekati, menjadi teman, sahabat dan saudara kelak""

Aku sangat bangga dengan kata-katanya, padahal menurutku tak ada hal yang pernah aku lakukan yang begitu membuatnya sebangga itu. Sebaliknya akulah yang sangat bangga dengannya. Ia sangat mantap dengan Hijabnya. Tak seperti diriku, ia berhijab panjang menutupi aurat tanpa lekuk sedikitpun. Aku tau betul perjuangan seorang akhwat yang menggunakan hijab sepertinya, karena aku punya kakak kandung yang juga berbusana sepertinya. Kebetulan ia mengikuti ta'lim yang sama dengan kakak walaupun tak sama majelisnya.

Pagi itu, Dosen masuk dengan jedah yang lama dari jadwal kuliah sebelumnya. Aku dan dia memutuskan untuk ke perpustakan mencari buku Genetika. Setelah mendapatkan buku yang kami cari, aku menceritakan tentang kisah kakak dalam berjuang mempertahankan hijabnya sampai sekarang menggunakan purda (cadar). Lalu, ia pun bercerita betapa kerasnya pula ia memutuskan hingga mempertahannkan keinginannya untuk menjaga auratnya dengan hijab yang sangat jarang orang gunakan itu. 

Ia anak ke 8 dari 9 bersaudara, sama sepertiku cuma beda satu aku anak ke 7 dari 8 bersaudara. Makanya kami merasa kami ini sama, sama-sama lahir di keluarga besar. Asal kami juga sama yaitu lahir di Makassar. 

Pagi menjelang siang, ia mencurahkan kisahnya dalam menghadapi keluarganya yang tak setuju dengan keputusannya menggunakan hijab. Ayah dan Ibunya ingin ia berhenti menggunakannya. Saudara-saudaranya tak satupun mendukungnya. Ia sering mendengar sindiran dari keluarganya, walau begitu ia tetap gigih mempertahannkan hijabnya tanpa bergeser sedikitpun. Bahkan segala ujian yang ia terima, menguatkannya dan semakin mendekatkan dirinya kepada sang Khalik. Cintanya kepada Allah makin besar. 

Walau menerima cemohan dari orang sekitarnya, ia selalu memohon dalam doanya agar mereka semua diselamatkan dari azab api neraka. Sama sepertiku, keluarga kami kental dengan ritual adat yang sifatnya Bid'ah (tak pernah dilakukan Nabi). Keluarganya tak begitu paham tentang apa itu bid'ah, dosa dan akibat dari bid'ah. Betapa perih hatinya saat berdebat dengan ayahnya yang selalu tidak sepaham tentang ritual-ritual keluarganya. Namun, dengan ilmu yang ia dapatkan lewat ta'lim sangat bermanfaat untuk membuat ayahnya paham. Dirinya  yakin dan mantap menjelaskan bahwa apa yang ayahnya selama ini  dianggap benar lewat ritual tersebut harus ditinggalkan.

Dalam suara hatinya ia selalu mengucapkan kata untuk dirinya bahwa

Apakah yang akan kau peroleh dari HIJABmu wahai saudariku????
Yah, sebuah pahala yang BESAR atas ketaatan pada ALLAH Azza Wajalla...

Sebuah kesabaran dalam menahan keinginanmu pada Dunia dari Kemaksiatan,...sabar atas cemohan masyarakat...dan panasnya cuaca..

Sungguh..sangat INDAH tetesan keringat mengalir dari dahimu yang membasahi wajah yang engkau sembunyikan dari mata liar,,

Disaat kamu sedang berusaha keras menggapai pahala dari Rabb-mu, kamu sama sekali tidak akan terganggu karenanya sebab itu BUKAN apa-apa di matamu.
Seorang pencinta akan bersabar untuk memperoleh cinta sang Kekasihnya..

Panasnya cuaca TIDAK akan mengganggu TEKADmu untuk senantiasa mengenakan HIJAB...
HIJAB penjagaan Robbmu yang Pengasih...

Karena kau Paham betul akan Firman ALLAH: "....Katakanlah api neraka Jahannam itu lebih sangat panas jikalau mereka mengetahui" (QS. At-Taubah : 81)

Maka JANGAN biarkan secuilpun Kulitmu tersentuh oleh Panasnya..

4 komentar:

  1. semoga lebih banyak lagi wanita wanita seperti mereka di republik ini, sehingga bangsa ini bisa berubah jadi lebih baik ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah kang Ridwan, doakan saya juga bisa>>aminnnn

      Hapus
  2. Subhanalloh..
    Hatiku bergetar.. dan malu belum bisa menjadi muslimah yang seharusnya.. ~_~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kak, smoga niat kita bisa tersampaikan segerah>>aminnn

      Hapus

Terima Kasih