Kamis, 01 Maret 2012

Surau dan Gemericik Hujan



Hujan sangat deras, karena tak mampu lagi menahan derah hujan akupun singgah di sebuah surau.
Aku memandangi tiap sudut surau, tak perlu jauh pandangku karena suraunya tak begitu besar.
Aku menggigil, ingin rasanya masuk kedalam, tapi entah rasanya ngeri masuk kedalam.
Sepi, tak ada orang ataupun tanda-tanda jamaah. Sejadahnya miring tak lurus sejajar dengan sejadah di saf kedua.
Lantainya terlihat berdebu.
Jendelanya banyak retak.
Flavon banyak bocornya.
Genteng sudah tak lengkap.
Tanah dan genangan air hujan bercampur daun kering, halamannya dihiasi patahan ranting pohon hingga tertiup angin.
Beberapa helai daun dan patahan rantingnya masuk dalam surau.
Tiangnya yang terbuat dari kayu jati terlihat rapu karena segerombolan populasi rayap memakannya.
Pintunya terbuka lebar.
Aku lihat gagang pintunya sudah reyok hingga aku ragu masuk ke dalam surau.
Takut bila saat aku masuk, pintunya tiba-tiba tertutup dan aku tak bisa membukanya.
Surau ini punya empat jendela yang membuatku bisa melihat kedalam surau dengan leluasa tanpa harus masuk ke dalam.
Walau buram karena debu yang tebal terkena percikan hujan hempasan angin.
Aku melihat beberapa piala besar, sepertinya surau ini adalah surau yang membanggakan dulunya.
Tapi, kemana penghuninya??
Saat itu hujan, aku tak melihat seorangpun untuk ditanyai.
Kalau surau ini bisa bicara, akan aku tanyai.
Kalau surau ini bisa merasa, ia bagai wanita yang kehilangan cintanya.

2 komentar:

  1. hmmm..nyata ni dek??di makassar ya suraunya?jadi penasaran....

    BalasHapus
  2. daerah Gowa kak, z nda enak sebut detailnya dmn

    BalasHapus

Terima Kasih