Senin, 23 April 2012

Waspada Terhadap Postingan Internet

Kemarin tepatnya hari Senin (23/04/2012) saya sangat senang bisa ikut Akademi berbagi Makassar. Kelas malam itu mengangkat tema menarik tentang Pedoman Pemberitaan Media Siber (Cyber) dengan guru dari Anggota Dewan Pers, Chief Editor News and Current Affairs ANTV yaitu mba Uni Lubis. Malam itu Suasana terasa santai berdiskusi dengan mba Uni membicarakan tentang Kenapa perlu memahami aturan main pemberitaan di media online? Saat ini, siapa saja dan apa saja bisa menjadi berita dengan adanya internet apalagi kemudahan mengakses internet lewat jempol (mobile gadget). Melek internet penting disertai melek hukum, agar kita tidak mudah terjebak akibat kegemaran kita menyebarkan berita lewat internet. Dari kelas kemarin ada beberapa hal yang saya sangat perhatikan tentang masalah pemberitaan yang saat ini kita semua mampu melakukannya dan sangat dekat dengan keseharian kita .


Di era globalisasi kini teknologi terus berkembang pesat. Perkembangannya juga diikuti oleh berbagai macam alternatif yang membantu segalah kegiatan masyarakat. Banyak hal yang dapat diberikan teknologi saat ini untuk menunjang dampak perkembangannya. Entah yang mana terpengaruhi, kegiatan manusiakah terhadap teknologi atau teknologi terhadap hidup manusia. Salah satu contoh yang saat ini sangat mencolok di kehidupan masyarakat  adalah media internet. Sekarang pengguna media internet terus berkembang, banyak orang mulai melirik potensi yang diberikan. Teknologi saat ini juga mulai mengutamakan kecepatan dan kemudahan mengakses untuk masuk ke dunia maya. Tak tanggung-tanggu sejalan dengan waktu media ini makin di gandrungi masyarakat. Bukan hanya satu elemen masyarakat tapi mulai merasuki setiap elemen masyarakat untuk mulai melirik di dunia maya. Ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik dan sebagainya sudah bisa didapatkan dengan cepat di internet. Melalui media sosial, media siber, dan media lain kita mampu menikmati kemudahan dan kecepatan dalam mengakses sesuatu yang kita inginkan. Gambar, berita, video segalah informasi bisa dengan mudah kita dapatkan. 


Namun, segalah kemudahan tersebut tak semata-mata dinikmati tanpa adanya ancaman atau kasus-kasus negatif yang mengikutinya. Hukum berlaku di mana saja tanpa terkecuali di dunia maya. Ternyata   selain banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari internet banyak pula yang merasakan kerugian dari media tersebut. Dirugiakan secara moral, etika, keuangan dll sering terjadi. 


Salah satu kasus yang pernah hebo di Indonesia adalah kasus Prita yang curhat tentang ketidak puasannya terhadap pelayanan di salah satu rumah sakit swasta. Walau niat awal Prita hanya untuk mencurahka kekesalan hati namun ternyata akibatnya fatal. Ia harus melalui seretetan gugatan dan sanksi yang di berikan oleh pengadilan karena dilaporkan oleh pihak rumah sakit tersebut. Contoh lain seorang wartawan kota Pare-pare Sulawesi Selatan, ia memposting link berita yang ternyata berita tersebut memuat tentang pejabat negara yang merasa dirugikan oleh pemberitaan yang pejabat tersebut merasa dirusak nama baik, namun ternyata media massa yang memuat berita tersebut tidak dituntut.


Membuat dan menyebar luaskan sebuah pemberitaan hampir sama berat hukuman yang akan diterima. Fatal bagi pengguna media internet yang tak tau tentang perlunya kehati-hatian tersebut. Saya pun sebagai salah satu pengguna Blog yang alhamdulillah cukup rajin memposting merasa perlu berhati-hati. Apalagi menulis berita menyangkut seseorang, lembaga, organisasi dan lain-lain yang sifatnya tak berimbang bisa menimbulkan konflik karena merasa pemberitaan kita tentang mereka salah. Media internet sangat mudah disebar luaskan. Dengan cepat beberapa pengguna mampu melihatnya bahkan membagi kesemua orang. Bukan cuma pengguna Blog menurut saya yang harus berhati-hati, media seperti Twitter dan Facebook yang saat ini memiliki banyak pengguna juga mesti diperhatikan. Saat membaca suatu artikel, berita, gambar maupun video anda jangan dengan mudah memutuskan untuk ingin menyebar luaskannya karena bisa jadi berita tersebut belum terbukti kebenarannya. Kita bisa terkena sanksi pidana karena ikut menyebar luaskan berita yang belum terverifikasi.


Terkait masalah-masalah yang ditimbulkan oleh media internet, kita sebagai pengguna harus pintar-pintar untuk menggunakannya. layaknya kita datang ke suatu tempat yang bukan hunian kita, sangat perlu kita mencari tau terlebih dahulu tentang daerah tersebut. Adab, hukum dan sanksinya kita perlu ketahui agar bisa selamat dan betah di daerah tersebut.


Adapun beberapa link yang InsyaAllah bisa membantu kita untuk lebih tau tentang masalah tadi dan pedoman yang saya rasa perlu kita ketahui sebagai pengguna media sosial dan siber di dunia maya.
Pedoman Pemberitaan Media Siber
Pertanyaan Penting di Balik Etika Media Digital

Senin, 16 April 2012

Ta'Aruf -Untuk Yang Pertama #2


Di dalam kamar khusus untuk Ia dan Raisa, Ridwan duduk berdua di atas kasur empuk dengan kelambu yang warnanya selaras dengan seprei kembang khas untuk pengantin baru.

“Kau kenapa dinda?” sambil memandangi mata Raisa Ridwan bertanya pelan.

Pertanyaan itu seakan langsung menusuk hati Raisa yang juga gunda. Raisa sudah mengira Suaminya akan menanyakan hal itu. Ia menunduk lama. Ridwan kembali bertanya. hingga ketiga kalinya Ridwan dengan pelan kembali menanyakannya.

“kalau kau tak mau bilang ku rasa itu adalah keputusanmu, jangan kau buat kakak berprasangka dinda”
Dengan lemah Ridwan melepas genggamannya dari tangan Raisa dan berbalik tubuh menghadap jendela. Ridwan berdiri melangka ke jendela yang sedari tadi tak ditutup. Rintik-rintik hujan masuk ke dalam kamar lewat jendela. Saat hendak menutup pintu jendelah tiba-tiba Raisa memeluk Ridwan dari belakang.

“Maafkan aku kak” Raisa menitihka air mata hingga membasahi kemeja kerja Ridwa yang tak sempat ia lepas.

Berbalik ridwan memeluk Raisa dan bertanya kenapa dinda, ada apa?
“Aku tak ingin kakak tau ini tapi aku tak tenang” Raisa terisak dalam pelukan
“Kau kenapa?”
“Maafkan Raisa kak, kakak bukanlah orang pertama” Raisa melepas pelukan eratnya dan memandangi wajah suaminya
“Maksudnya?? ” Ridwan balik menatap tajam mata Raisa dengan penuh kebingungan.
“Harusnya kakaklah orang yang aku pegang tangannya penuh cinta, harusnya kakaklah orang pertama yang kutatap penuh kasih sayang, harusnya kakaklah yang pertama ku beri perhatian dan kemanjaanku”

Ridwan berusaha mengartikan kata-kata Raisa yang diucapkannya cepat penuh emosi dan terisak tangis. Ridwan kembali menunduk. Raisa pun tumbang dan kembali ia dudukkan dirinya di kasur sambil menangis. Ridwan duduk di atas meja yang berada tak jauh dari posisi dipan sambil menunduk berfikir. 
Dari luar jendela terlihat hujan semakin deras, air mata Raisa pun semakin deras dengan desah. Ridwan bingung mengapa Raisa begitu sedih dengan pernyataan tadi.

Dari arah luar terdengar suara Adzan Magrib, terlantun asma Allah dan panggilan menuju hadap Sang Khalik. Raisa lambat laun tangisnya hilang, hati Ridwan pun makin tenang. Setelah adza magrib selesai Raisa dan Ridwan seakan terhanyut dengan panggilan sholat. Mereka saling berpandangan sekan memberi isyarat untuk bersama menunaikan ibadah sholat berjamaah.

Setelah dibasahi air whudu pikiran mereka berdua menjadi tenang dan dapat berpikir jerni. Untuk pertama kalinya Ridwan menjadi Imam Raisa, Raisapun demikian merasakan untuk pertama kalinya.
Setelah berdoa Ridwan berbalik menghadap Raisa yang masih khusu berdoa. Ia melihat Istrinya meneteskan air matanya. ia melihat air mata itu untuk doanya kepada Allah. Melihat kesungguhan Raisa berdoa ia merasa mampu menanyakan apa gerangan maksud kalimat yang Raisa katakan kepadanya.
Ternyata  setelah berdoa Raisa dengan terburu-buru mendekat menghadap Ridwan,R aisa menggenggam tangan ridwan dan dengan mantap mengatakan maksud hatinya.

“Aku akan menceritakan kegundahanku kak,  mungkin kakak kurang mengerti”

“ceritakanlah”

“Dulu aku pernah bilang tak ingin pacaran, Alhamdulillah itu bisa ku jalani kak. Namun..”
“Namun kenapa?” Ridwan tak sabar mengetahui rahasia apa yang Raisa simpan padanya.
“Raisa memang tak sempat berpacaran dengan laki-laki manapun tapi raisa pernah jatuh cinta kak”
“Itu wajar dinda” Ridwan mencoba mengerti dan lambat laun menerima.
“Iya kak tapi…tapi kami sempat sering berkirim pesan singkat setiap hari, bertemu beberapa kali, berbocengan dan saling gandenga tangan”
“Lalu” Ridwan tak bisa mengucap banyak kata dengan pernyataan lanjutan Raisa.
“Aku merasa bersalah kak, aku dulu pernah berjanji bahwa Suamikulah yang nantinya akan menjadi orang pertama untuk segalah-galahnya dalam diriku dan hidupku”

Ridwan diam sejenak mendengar kalimat akhir Raisa. Ia kembali berpikir, sejenak ia tetunduk dan kembali dengan senyum. Raisa heran dengan senyum yang dilontarkan Suaminya itu.

“Kenapa kak, kenapa kakak tersenyum”
“Aku bahagia mendengarnya”
“tapi aku kecewa dengan diriku sendiri kak”
“jangan kau menghardik dirimu”
“ia aku berusaha kak” 
“Aku hanya ingin kau jujur seperti ini, tak peduli kau jatuh cinta berapa kali dengan laki-laki lain atau bergandengan tangan yang penting akulah yang pertama akan memelukmu malam ini dan untuk pertama kali dan untuk malam-malam selanjutnya”

Raisa bahagia mendengan peryataan Suaminya. Dipeluknya dengan erat tubuh suaminya.

”yang penting akulah orang yang pertama memberi benih padamu” Ridwa dengan mencium dahi istrinya Mereka berdua larut dalam rasa cinta dan melepas resah dengan melewati malam indah.

Cerita sebelumnya>>>

Ta'Aruf -Untuk Yang Pertama #1



Menengok keluar jendela, Raisa masih tetap gelisa walau sudah berjam-jam duduk di kursi menghadap langit memandangi awan mendung. Ia menoleh sesering mungkin ke  arah pintu dan jarum jam yang bergerak. Sudah dua hari ia melakukan hal yang sama. Kalau bukan duduk depan jendela, ia berbaring dan melamun dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar. Kebiasan itu muncul semenjak ia telah resmi menjadi seorang istri. Semenjak ia dibawa ke rumah milik suaminya, ia bertingkah aneh. Raisa sering melamun menunjukkan tatapan kosong. Saat ditemani bicara ia tak banyak berkomentar dan sering menundukkan pandangan.

Malam pertama di rumah barunya Raisa tak banyak berbicara dengan suaminya. Setelah makan dan membereskan meja ia langsung ke kamar dan saat Ridwa suaminya masuk kekamar Raisa sudah terlihat tertidur pulas.
Jam telah menunjukkan 6.30 Raisa masih setia duduk depan jendela. Awan mendung ternyata mengisyaratkan turunnya hujan gerimis. tetesan hujan dari luar jendela menyadarkan lamunan Raisa , kembali ia menengok kearah jam.

“Ya Allah sebentar lagi ia pulang” dengan menghelah nafas panjang Raisa harap-harap cemas.

Dengan resah Raisa menengok ke luar jendela melihat apakah suaminya telah pulang. Dilihatnya motor bebek hijau terparkir di halaman rumahnya. Ia bergegas merapikan penampilannya dan menuju keluar kamar bertemu Ridwan suaminya.
“Ehh kakak dah pulang, kehujanan nga?”
“tidak kok, saya sudah pulang dari jam 4 sore”
“Ko kakak nga masuk kamar ganti baju?”
Sambil menikmati teh hangat Ridwan tak menjawab pertanyaan Istrinya. Bangkitlah dia dari sofa ruang tamu  setelah menghabiskan tehnya. Dengan tiba-tiba dipeluklah Raisa yang sedang berdiri di hadapannya .

“Ayo kita masuk bersama” bisik Ridwan lembut di telingan Raisa penuh desah.
Raisa lemas mendengar suaminya berbisik. Seperti ada beban di hati suaminya, Ia pun demikian.
Setelah memutuskan untuk melakukan Ta’aruf Raisa masih tak percaya ia menikah dngan cara tersebut. Keputusannya saat itu bulat ingin menikah diumurnya yang ke 25. Raisa yang saat itu memutuskan untuk berhijab dan rutin mengikuti Ta’lim ternyata dilirik oleh salah satu ikwan yang juga rutin mengikuti kajian dalam majelis yang sama. Salah satu teman dekatnya memberi  tau Raisa kalau ada seorang ikwan yang ingin menjadikannya walimah. Raisa senang karena doanya terkabulkan untuk menikah diumur ke25. Sempat ragu terhadap keputusannya untuk menerima ajakan tersebut namun Raisa percaya kepada teman karibnya kalau ikwan yang ia pilihkan adalah sebaik-baiknya ikwan untuk membina bahterai rumah tangga bersamanya.

Akhirnya Ta’arufpun dilaksanakan. Lelaki muda itu datang ke rumah Raisa untuk bertemu keluarga dan bertemu langsung dengan Raisa. Setelah berbincang-bincang Raisa mendesak untuk segerah dipertemukan, namun entah mengapa Si lelaki muda itu tak ingin. Raisa sedih mengira lelaki itu tak jadi melamarnya, ternyata restu kedua pihak telah berhasil walau tak sempat Raisa meperlihatkan diri ke hadapan calon suami dan orang tua lelaki itu.

Raisa hanya bisa berbaik sangkah. malam setelah pertemuan kedua keluarga Raisa sholah istikhara memohon ketetapan hati ke pada Allah. Setelah Sholat ia merasa ada keyakinan yang ia terima bahwa jodohnya memang lelaki tadi. Sebelumnya Raisa memang sudah tau kalau calon suaminya itu dari keluarga baik-baik, namun ia tak tau kalau ternyata Ayahnya sudah lama kenal denga keluarga lelaki itu. Sungguh kebetulan, Raisa berharap ini awal yang baik.

Hari pernikahanpun tiba. Untuk pertama kalinya Raisa melihat wajah lelaki itu. Setelah mengicapkan ijab Kabul Suaminya datang dan dilihatnya wajah yang bersih dan bercahaya. Raisa melihat sosok bersahaja dari raut wajahnya. Raisa bahagia dengan pilihan yang Allah berikan. Namun raut bahagia itu seakan hilang setelah mereka meninggalkan rumah orang tua Raisa.

Ridwan telah merasakan keanehan Raisa, walau ia tak bilang pada istrinya. Ia berharap Raisa sendiri yang menceritakan padanya. Malam pertama ia lewati dengan gundah melihat sikap aneh Raisa. Setelah malam itu Ridwan tak tenang hatinya. Kerjapun ia lewati dengan terus memikirkan Raisa. Ini adalah malam keduanya bersama Raisa di rumah baru ia beli. Ia membelinya memang untuk ia tinggali bersama istrinya. Ia tabung uang gaji hasil kerja kerasnya agar ia bisa nyaman tinggal bersama orang yang ia cintai.

Ridwan sebenarnya sudah lama tertarik dengan Raisa walau baru beberapa kali bertemu. Tak menyangka ternyata Raisa ikut kajian bersama akhwat lainnya yang satu majelis dengannya. Ridwan awalnya tak percaya karena ia mengenal Raisa adalah seorang aktivis kampus yang bebas bergaul tapi Ridwan merasa Raisa memiliki santun yang baik walau ia tak tau ia yakin dari mana.

Setelah yakin bahwa wanita itu betul adalah Raisa ia makin jatuh hati dengan sosok Raisa. Setelah 5 tahun saat  pertemuan mereka disalah satu acara kontes nasyid. Saat itu Raisa meliput kegiatan kampus tersebut. Ridwan Ketua panitia dan Raisa lewat tuntutan liputan ia meminta Ridwan untuk bersedia diwawancarai. Begitulah awal pertemuan mereka dan Ridwanpun terkesan Raisa.

Malam itu Ridwan tak ingin kedua kalinya kecewa dengan hidup barunya. Ia sengaja pulang lebih awal. Penasaran meihat apakah Raisa istrinya sudah tak aneh lagi sikapnya. Ternyata jam 4 sore ia tiba. Pintu tak tertutup ia masuk dan langsung menengok ke arah kamar tidurnya. Pintu tertutup rapat. Ia ingin sekali masuk tapi malas mengetuk

“sepertinya Raisa masih seperti kemarin” ujarnya lemah, Ridwan terus bertanya dalam hati tentang apa penyebab istrinya berlaku demikian.
“Apakah Raisa tak bahagia bersamaku, apakah ia tak ingin tinggal dirumah ini, apakah dia belum siap untuk itu??”Batinnya bertengkar keras.

Ridwan menghela nafas dan menuju dapur untuk menyeduh teh. Asap hangat mengepul di cangkir, rintik-rintik hujan lembut memberi  hawa sejuk dari luar masuk kesela-sela dan menyentuh kulit membuat merinding bulu kuduk.

Ridwan masih duduk menunggu di sofa, menunggu Raisa keluar dari kamar dan menyadari bahwa dirinya telah pulang dari kantor. Terdengar dari balik pintu seseorang melangka keluar kamar. Tentu saja itu Raisa, Ridwan berharap Raisa menyambutnya dengan senyuman yang ia rindukan, senyuman penuh ceria dan semangat.

Ternyata Raisa masih terlihat aneh, walau ia tersenyum tapi ia terpaksa.” Ada apa dengan istriku” Ridwan bertanya dalam hati walau tak adasatupun yang mampu menjawab selain Raisa sendiri. Di beranikan dirnya memeluk istrinya dan membisikan satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang menyelimuti raganya.

***To be Continue****

Selasa, 10 April 2012

Love Maya @DuniaMaya Part IV

Merindukan Langit


Akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan Rohis. Terakhir pertemuan dengan Kanti, Maya memutuskan untuk tidak merespon Rohis yang mengirim sms tiap hari, menelfon tiap malam dan menanyakan kabar lewat pesan FB.

Kini Maya sadar dirinya merindukan semua itu. Maya sering mengutuk dirinya setiap kali mengingat Rohis. Rohis sangat ideal menurutnya saat hati Maya gundah Rohis datang dengan penuh perhatian.
"Maaf kak aku sedang sakit tidak bisa ikut anak-anak yang lain nonton"
"Ohh gitu yah Maya, cepat sembuh yah"

Sejam setelah pesan itu masuk, kembali Rohis menelfon dan menanyakan kabar Maya apakah sudah minum obat atau belum. Hati wanita mana yang tak tersentuh. Ini tak adil bagi Maya, membagi hati itu sulit.
"Bukan ini yang saya mau Ya Allah"


Dalam sholat Maya berdoa dan juga berkeluh kesah.
"Kepada siapa lagi hambamu ini berkeluh soal hati milik hamba tapi tak bisa mengerti maunya apa"


Bagaimana cara Rohis mencintainya tak sama cara Umar juga mencintai dirinya. Mereka datang di dunia yang sama yaitu dunia maya, namun mereka berbeda itu yang membuat Maya merasa kehilangan bila salah satunya hilang. Egois memang, di depan jendela kamarya Maya menuliskan I Miss U di secarik kertas dan ditempelkannya di kaca jendela yang menghadap ke langit.

"Kau bagai sang langit Rohis, indah di malam hari bersama bulan bintang dan pagi bersama matahari. Sehabis hujan bersama pelangi"

Lama Maya termenung menghadap jendela memandangi kertas yang ia tempel dengan tulisan I miss U. Hendak kata itu ia kirim pada Rohis yang ia anggap langitnya. Langit yang melindungi daratan di muka bumi. Berharap Langit itu kembali cerah setelah mendung. Kalaupun hujan ia akan kembali cerah bersama pelangi.
 ***

Keadaan yang tak terindahkan, Rohis sedang teringat dengan sosok wanita yang sering ia khawatirkan kabarnya. Di lokasi hunting Rohis dengan menenteng kamera dslr Canon miliknya sesekali menengok Hp berharap kontaknya masuk nama wanita yang akhir-akhir ini sering terbayang dipikirannya. Seakan menggelitik jiwanya untuk selalu bertemu walau sesering ia mengajak juga sesering mungkin ditolak.

"kau sedang apa adikku sayang"


Kalimat itu sering sekali memberontak, ingin terucap dan tertulis namun tak kuasa pula Rohis mengungkapkan pada wanita itu kalau ia betul-betul menyayanginya. Sekarang makin berat dirasakan Rohis, sudah seminggu ia tak menanyakan kabarnya semenjak ia merasa tak dihiraukan segalah tindakannya. Ia bingung dengan wanita yang baru tiga bulan ia kenal itu, namun sudah sangat membekas dalam benaknya. Ketika wanita itu melarangnya merokok, ketika ia menyuruhnya makan yang bergisi, ketika mendapat telfon darinya saat ia sedang sakit. Semua itu sangat berharga lebih bagi Rohis.

Rohis berharap wanita itu tak lama berdiam diri. Ia yakin wanita yang ia harapkan itu bisa kembali memberinya semangat untuk mencapai masa depan.


"Kau yang tanpa alasan ku cintai dan sekarang tanpa alasan seakan menjauhi. aku yakin tanpa alasan pula kaukan kembali bersama senyum yang memesonaku" 


Setelah memotret beberapa objek yang ada di Pantai Losari Rohis duduk sendiri di bangku menghadap hamparan laut. Rambutnya tersibak angin, seperti dibelai hangat dan kembali lagi hatinya tertuju pada Wanita itu. Memandangi langit yang sebentar lagi mempertontonkan indahnya Sunset. Kembali ia terbayang dan berucap dalam hati kepada Wanita itu. Maya lagi lagi dia.

"Lamgit kan terus melindungi, memberi sinar dan kehidupan serta menopang yang ada diluar sana" 


Cerita sebelumnya :


Love Maya @DuniaMaya

Hewan-Hewan Peliharaan Yang Allah Titipkan

Lucu menggemaskan, ada saja tingkah aneh dari binatang yang satu ini buat kami sekeluarga terpingkal-pingkal melihat ulahnya.

Zhifu namanya, hamsterku yang satu ini sungguh malang nasibnya. Kenapa ku bilang malang nasibnya karena tak punya kandang. Ia harus tinggal di akuarium bekas ikan peliharaan bapak yang mati tanpa diketahui sebabnya hahahah...

Minggu lalu aku dan kakak sempatkan ke Pasar hewan Todopoli membeli kandang dan betina buat Zhifu. Berharap Zhifu betah bersama keluarga barunya, Cailehhhh heheheh

Catatan hewan peliharaan yang sudah mati mendadak di keluarga kami sudah banyak. Jangan sampai hamster masuk daftar RIP ckckck. Hal tersebut paling sering terjadi pada ayam peliharaan kami karena tiap mau makan ayam siap-siap dehhh salah satunya dieksekusi di panci umi. ckckck...

Paling ingat sama Kelinci peliharaan adikku. Karena masih bayi saat dibeli, tak cukup 2 malam nginap dirumah kelincinya mati mendadak. Sontak adikku histeris sampai dia minta kelincinya dikuburkan dengan tenang di belakang rumah dengan nisan buatannya dibantu sepupuku wkwkwkwk.

Kakakku juga pernah memelihara dua ekor kelinci sekaligus. Warnanya putih bersih dengan mata merah. Awalnya orang-orang di rumah ngeri lihatnya tapi lama-lama lucu juga. Kelincinya di beri nama Aresso, saat itu kakak lagi demam korea makanya pakai bahasa Korea gitu yang artinya "mengerti" Hmmm sesuatu heheh. Menurutku kisah 2 ekor kelinci kakak itu tragis kisahnya, pasalnya kakak membeli mereka untuk dijadikan kelinci percobaan obat-obatan buatan apoteker pemula itu. Malang betulll...

Ikan, hewan yang satu ini juga paling populer di keluarga kami. Setelah bapak tak berhasil dengan memelihara ikna lohan ternyata kakak laki-lakiku tertular hobi memelihara ikan tapi bukan lohan. Kakak yang biasaku panggil big brother ini memelihara banyak jenis ikan ada ikan emas, ikan tokek, ikan koi dll. Tapi malang nasib mereka, karena jarang memberi makan si tokek yang biasanya makan makanan ikan dan juga lumut, rakus mengisap lumut yang juga nempel di kulit ikan lain alhasil satu persatu mereka mati karena jarang pula di beri makan. hahah malang betull

Ayam, ikan, kelinci, dan masih ada satu lagi hewan malang yang pernah nginap dirumah kami. Kucing, kalau hewan yang satu ini Umi punya banyak sejarah. Tujuan utama kami dulu memelihara seekor kucing adalah agar tikus dirumah pada lari dan tidak menggangu kami. Tapi aku, adiku dan salah satu kakak suka sekali membelai kucing sampai-sampai kucing tidur bareng sama kami. Kalau nonton mereka naik dipangkuan kami dengan manja. Mereka kebanyakan kucing kampung yang menetap dirumah. Mereka dilarang keluar tapi kalau musim kawin kami nga bisa melarang hahahah...
Walau kucing nga pernah mati dirumah tapi mereka tersiksa batin. Salah satu kakakku alergi kucing. Jadi masalah besar ketika Umi dilema harus membuang kucing karena takut tikus datang lagi dan adikku nangis lagi hmmm.. tragis hahahh...

Aku juga pernah memelihara seekor burung waktu SD. Disekolahku dulu penjual burung kecil sering datang. Satu kandang burung yang dibawa penjual memiliki bulu yang sama tapi baru-baru ini aku lihat para penjual telah berinovasi memberi warna di bulu mereka, malang betulll. Tiap kali lihat penjual burung kecil aku selalu tergiur membeli, akhirnya pulang kerumah aku dimarahi Umi karena sudah sering burung yang aku pelihara belum cukup seminggu dah lepas dari kandang. Sebenarnya sebagian dari mereka sengaja aku lepas karena tak tega huuu... So sweet cckckk...

Yahh begitula sepenggal kisah dari keluargaku yang sering gagal memelihara hewan. Sesungguhnya kami memeihara mereka bukan untuk di perlakukan kasar tapi untuk kami sayangi walau ayam dan kucing memang kami manfaatkan hehhehe....

Kami tau betul membunuh binatang itu sangat dibenci Allah namun kami berdoa para hewan itu bisa bilang sama Allah kelak, kalau mereka senang sempat nginap di rumah kami. kami memelihara mereka berusaha merawat dan sering mereka buat kami bahagia sekeluarga.

- Cintai sesama Mahluk Allah...

Terima Kasih