Senin, 16 April 2012

Ta'Aruf -Untuk Yang Pertama #1



Menengok keluar jendela, Raisa masih tetap gelisa walau sudah berjam-jam duduk di kursi menghadap langit memandangi awan mendung. Ia menoleh sesering mungkin ke  arah pintu dan jarum jam yang bergerak. Sudah dua hari ia melakukan hal yang sama. Kalau bukan duduk depan jendela, ia berbaring dan melamun dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar. Kebiasan itu muncul semenjak ia telah resmi menjadi seorang istri. Semenjak ia dibawa ke rumah milik suaminya, ia bertingkah aneh. Raisa sering melamun menunjukkan tatapan kosong. Saat ditemani bicara ia tak banyak berkomentar dan sering menundukkan pandangan.

Malam pertama di rumah barunya Raisa tak banyak berbicara dengan suaminya. Setelah makan dan membereskan meja ia langsung ke kamar dan saat Ridwa suaminya masuk kekamar Raisa sudah terlihat tertidur pulas.
Jam telah menunjukkan 6.30 Raisa masih setia duduk depan jendela. Awan mendung ternyata mengisyaratkan turunnya hujan gerimis. tetesan hujan dari luar jendela menyadarkan lamunan Raisa , kembali ia menengok kearah jam.

“Ya Allah sebentar lagi ia pulang” dengan menghelah nafas panjang Raisa harap-harap cemas.

Dengan resah Raisa menengok ke luar jendela melihat apakah suaminya telah pulang. Dilihatnya motor bebek hijau terparkir di halaman rumahnya. Ia bergegas merapikan penampilannya dan menuju keluar kamar bertemu Ridwan suaminya.
“Ehh kakak dah pulang, kehujanan nga?”
“tidak kok, saya sudah pulang dari jam 4 sore”
“Ko kakak nga masuk kamar ganti baju?”
Sambil menikmati teh hangat Ridwan tak menjawab pertanyaan Istrinya. Bangkitlah dia dari sofa ruang tamu  setelah menghabiskan tehnya. Dengan tiba-tiba dipeluklah Raisa yang sedang berdiri di hadapannya .

“Ayo kita masuk bersama” bisik Ridwan lembut di telingan Raisa penuh desah.
Raisa lemas mendengar suaminya berbisik. Seperti ada beban di hati suaminya, Ia pun demikian.
Setelah memutuskan untuk melakukan Ta’aruf Raisa masih tak percaya ia menikah dngan cara tersebut. Keputusannya saat itu bulat ingin menikah diumurnya yang ke 25. Raisa yang saat itu memutuskan untuk berhijab dan rutin mengikuti Ta’lim ternyata dilirik oleh salah satu ikwan yang juga rutin mengikuti kajian dalam majelis yang sama. Salah satu teman dekatnya memberi  tau Raisa kalau ada seorang ikwan yang ingin menjadikannya walimah. Raisa senang karena doanya terkabulkan untuk menikah diumur ke25. Sempat ragu terhadap keputusannya untuk menerima ajakan tersebut namun Raisa percaya kepada teman karibnya kalau ikwan yang ia pilihkan adalah sebaik-baiknya ikwan untuk membina bahterai rumah tangga bersamanya.

Akhirnya Ta’arufpun dilaksanakan. Lelaki muda itu datang ke rumah Raisa untuk bertemu keluarga dan bertemu langsung dengan Raisa. Setelah berbincang-bincang Raisa mendesak untuk segerah dipertemukan, namun entah mengapa Si lelaki muda itu tak ingin. Raisa sedih mengira lelaki itu tak jadi melamarnya, ternyata restu kedua pihak telah berhasil walau tak sempat Raisa meperlihatkan diri ke hadapan calon suami dan orang tua lelaki itu.

Raisa hanya bisa berbaik sangkah. malam setelah pertemuan kedua keluarga Raisa sholah istikhara memohon ketetapan hati ke pada Allah. Setelah Sholat ia merasa ada keyakinan yang ia terima bahwa jodohnya memang lelaki tadi. Sebelumnya Raisa memang sudah tau kalau calon suaminya itu dari keluarga baik-baik, namun ia tak tau kalau ternyata Ayahnya sudah lama kenal denga keluarga lelaki itu. Sungguh kebetulan, Raisa berharap ini awal yang baik.

Hari pernikahanpun tiba. Untuk pertama kalinya Raisa melihat wajah lelaki itu. Setelah mengicapkan ijab Kabul Suaminya datang dan dilihatnya wajah yang bersih dan bercahaya. Raisa melihat sosok bersahaja dari raut wajahnya. Raisa bahagia dengan pilihan yang Allah berikan. Namun raut bahagia itu seakan hilang setelah mereka meninggalkan rumah orang tua Raisa.

Ridwan telah merasakan keanehan Raisa, walau ia tak bilang pada istrinya. Ia berharap Raisa sendiri yang menceritakan padanya. Malam pertama ia lewati dengan gundah melihat sikap aneh Raisa. Setelah malam itu Ridwan tak tenang hatinya. Kerjapun ia lewati dengan terus memikirkan Raisa. Ini adalah malam keduanya bersama Raisa di rumah baru ia beli. Ia membelinya memang untuk ia tinggali bersama istrinya. Ia tabung uang gaji hasil kerja kerasnya agar ia bisa nyaman tinggal bersama orang yang ia cintai.

Ridwan sebenarnya sudah lama tertarik dengan Raisa walau baru beberapa kali bertemu. Tak menyangka ternyata Raisa ikut kajian bersama akhwat lainnya yang satu majelis dengannya. Ridwan awalnya tak percaya karena ia mengenal Raisa adalah seorang aktivis kampus yang bebas bergaul tapi Ridwan merasa Raisa memiliki santun yang baik walau ia tak tau ia yakin dari mana.

Setelah yakin bahwa wanita itu betul adalah Raisa ia makin jatuh hati dengan sosok Raisa. Setelah 5 tahun saat  pertemuan mereka disalah satu acara kontes nasyid. Saat itu Raisa meliput kegiatan kampus tersebut. Ridwan Ketua panitia dan Raisa lewat tuntutan liputan ia meminta Ridwan untuk bersedia diwawancarai. Begitulah awal pertemuan mereka dan Ridwanpun terkesan Raisa.

Malam itu Ridwan tak ingin kedua kalinya kecewa dengan hidup barunya. Ia sengaja pulang lebih awal. Penasaran meihat apakah Raisa istrinya sudah tak aneh lagi sikapnya. Ternyata jam 4 sore ia tiba. Pintu tak tertutup ia masuk dan langsung menengok ke arah kamar tidurnya. Pintu tertutup rapat. Ia ingin sekali masuk tapi malas mengetuk

“sepertinya Raisa masih seperti kemarin” ujarnya lemah, Ridwan terus bertanya dalam hati tentang apa penyebab istrinya berlaku demikian.
“Apakah Raisa tak bahagia bersamaku, apakah ia tak ingin tinggal dirumah ini, apakah dia belum siap untuk itu??”Batinnya bertengkar keras.

Ridwan menghela nafas dan menuju dapur untuk menyeduh teh. Asap hangat mengepul di cangkir, rintik-rintik hujan lembut memberi  hawa sejuk dari luar masuk kesela-sela dan menyentuh kulit membuat merinding bulu kuduk.

Ridwan masih duduk menunggu di sofa, menunggu Raisa keluar dari kamar dan menyadari bahwa dirinya telah pulang dari kantor. Terdengar dari balik pintu seseorang melangka keluar kamar. Tentu saja itu Raisa, Ridwan berharap Raisa menyambutnya dengan senyuman yang ia rindukan, senyuman penuh ceria dan semangat.

Ternyata Raisa masih terlihat aneh, walau ia tersenyum tapi ia terpaksa.” Ada apa dengan istriku” Ridwan bertanya dalam hati walau tak adasatupun yang mampu menjawab selain Raisa sendiri. Di beranikan dirnya memeluk istrinya dan membisikan satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang menyelimuti raganya.

***To be Continue****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih