Senin, 16 April 2012

Ta'Aruf -Untuk Yang Pertama #2


Di dalam kamar khusus untuk Ia dan Raisa, Ridwan duduk berdua di atas kasur empuk dengan kelambu yang warnanya selaras dengan seprei kembang khas untuk pengantin baru.

“Kau kenapa dinda?” sambil memandangi mata Raisa Ridwan bertanya pelan.

Pertanyaan itu seakan langsung menusuk hati Raisa yang juga gunda. Raisa sudah mengira Suaminya akan menanyakan hal itu. Ia menunduk lama. Ridwan kembali bertanya. hingga ketiga kalinya Ridwan dengan pelan kembali menanyakannya.

“kalau kau tak mau bilang ku rasa itu adalah keputusanmu, jangan kau buat kakak berprasangka dinda”
Dengan lemah Ridwan melepas genggamannya dari tangan Raisa dan berbalik tubuh menghadap jendela. Ridwan berdiri melangka ke jendela yang sedari tadi tak ditutup. Rintik-rintik hujan masuk ke dalam kamar lewat jendela. Saat hendak menutup pintu jendelah tiba-tiba Raisa memeluk Ridwan dari belakang.

“Maafkan aku kak” Raisa menitihka air mata hingga membasahi kemeja kerja Ridwa yang tak sempat ia lepas.

Berbalik ridwan memeluk Raisa dan bertanya kenapa dinda, ada apa?
“Aku tak ingin kakak tau ini tapi aku tak tenang” Raisa terisak dalam pelukan
“Kau kenapa?”
“Maafkan Raisa kak, kakak bukanlah orang pertama” Raisa melepas pelukan eratnya dan memandangi wajah suaminya
“Maksudnya?? ” Ridwan balik menatap tajam mata Raisa dengan penuh kebingungan.
“Harusnya kakaklah orang yang aku pegang tangannya penuh cinta, harusnya kakaklah orang pertama yang kutatap penuh kasih sayang, harusnya kakaklah yang pertama ku beri perhatian dan kemanjaanku”

Ridwan berusaha mengartikan kata-kata Raisa yang diucapkannya cepat penuh emosi dan terisak tangis. Ridwan kembali menunduk. Raisa pun tumbang dan kembali ia dudukkan dirinya di kasur sambil menangis. Ridwan duduk di atas meja yang berada tak jauh dari posisi dipan sambil menunduk berfikir. 
Dari luar jendela terlihat hujan semakin deras, air mata Raisa pun semakin deras dengan desah. Ridwan bingung mengapa Raisa begitu sedih dengan pernyataan tadi.

Dari arah luar terdengar suara Adzan Magrib, terlantun asma Allah dan panggilan menuju hadap Sang Khalik. Raisa lambat laun tangisnya hilang, hati Ridwan pun makin tenang. Setelah adza magrib selesai Raisa dan Ridwan seakan terhanyut dengan panggilan sholat. Mereka saling berpandangan sekan memberi isyarat untuk bersama menunaikan ibadah sholat berjamaah.

Setelah dibasahi air whudu pikiran mereka berdua menjadi tenang dan dapat berpikir jerni. Untuk pertama kalinya Ridwan menjadi Imam Raisa, Raisapun demikian merasakan untuk pertama kalinya.
Setelah berdoa Ridwan berbalik menghadap Raisa yang masih khusu berdoa. Ia melihat Istrinya meneteskan air matanya. ia melihat air mata itu untuk doanya kepada Allah. Melihat kesungguhan Raisa berdoa ia merasa mampu menanyakan apa gerangan maksud kalimat yang Raisa katakan kepadanya.
Ternyata  setelah berdoa Raisa dengan terburu-buru mendekat menghadap Ridwan,R aisa menggenggam tangan ridwan dan dengan mantap mengatakan maksud hatinya.

“Aku akan menceritakan kegundahanku kak,  mungkin kakak kurang mengerti”

“ceritakanlah”

“Dulu aku pernah bilang tak ingin pacaran, Alhamdulillah itu bisa ku jalani kak. Namun..”
“Namun kenapa?” Ridwan tak sabar mengetahui rahasia apa yang Raisa simpan padanya.
“Raisa memang tak sempat berpacaran dengan laki-laki manapun tapi raisa pernah jatuh cinta kak”
“Itu wajar dinda” Ridwan mencoba mengerti dan lambat laun menerima.
“Iya kak tapi…tapi kami sempat sering berkirim pesan singkat setiap hari, bertemu beberapa kali, berbocengan dan saling gandenga tangan”
“Lalu” Ridwan tak bisa mengucap banyak kata dengan pernyataan lanjutan Raisa.
“Aku merasa bersalah kak, aku dulu pernah berjanji bahwa Suamikulah yang nantinya akan menjadi orang pertama untuk segalah-galahnya dalam diriku dan hidupku”

Ridwan diam sejenak mendengar kalimat akhir Raisa. Ia kembali berpikir, sejenak ia tetunduk dan kembali dengan senyum. Raisa heran dengan senyum yang dilontarkan Suaminya itu.

“Kenapa kak, kenapa kakak tersenyum”
“Aku bahagia mendengarnya”
“tapi aku kecewa dengan diriku sendiri kak”
“jangan kau menghardik dirimu”
“ia aku berusaha kak” 
“Aku hanya ingin kau jujur seperti ini, tak peduli kau jatuh cinta berapa kali dengan laki-laki lain atau bergandengan tangan yang penting akulah yang pertama akan memelukmu malam ini dan untuk pertama kali dan untuk malam-malam selanjutnya”

Raisa bahagia mendengan peryataan Suaminya. Dipeluknya dengan erat tubuh suaminya.

”yang penting akulah orang yang pertama memberi benih padamu” Ridwa dengan mencium dahi istrinya Mereka berdua larut dalam rasa cinta dan melepas resah dengan melewati malam indah.

Cerita sebelumnya>>>

1 komentar:

Terima Kasih