Jumat, 01 Juni 2012

Essay "Gaya Hidupku, Gaya Hidup Hijau Cinta Alam"


Dunia dengan seluruh keanekaragaman hayatinya sangatlah besar. Mahluk hidup di bumi saling berhubungan, memberi dan diberi satu sama lain. Alam memberi segala potensinya, kita menggunakannya dan sangat memerlukannya. Hidup manusia tak luput dari segala kebutuhan dan sebagian besar kebutuhan tersebut banyak bersumber dari Alam.

Baik kompenen Biotik maupun Abiotik seluruhnya telah dapat dimanfaatkan oleh manusia. Tanah, udara, bebatuan, dan unsur-unsur organik terus dieksploitasi untuk kelangsungan hidup manusia. Hewan dan tumbuhan membentuk rantai makanan dan membentuk siklus kehidupan. Dari unit terkecil seperti bakteri hingga hirarki hewan tertinggi mamalia.

Apa yang diberikan alam tak setimpal dengan yang kita berikan. Alam memberikan tanah dan udara, hewan dan tumbuhan memberikan material pangan maupun sandang. Namun manusia lupa untuk memberi  timbal balik positif untuk kelangsungan hidup alam biotik maupun abiotik. Kelakuan manusia yang mengambil hasil alam secara berlebihan sering terjadi. Salah satu contoh kasus penebangan pohon secara illegal. Indonesia memiliki beberapa hutan tropis, salah satunya di kepulauan Kalimantan yang terkenal sebagai salah satu paru-paru dunia. Namun perlindungan terhadap hutan-hutan tersebut sangat minim. Kurang tanggapnya pemerintah menyebabkan beberapa kasus tidak ditindak lanjuti secara hukum. Dari data yang dimiliki oleh World Wild Fund (WWF), Provinsi Kalimantan Barat tercatat paling tinggi tingkat kejahatan illegal logging-nya. Dari banyaknya kasus yang terjadi tiap tahunnya, hanya sedikit yang mampu diselidiki oleh pihak kepolisian. Kasus Illegal Logging mengakibatkan bayak kerugian, bukan hanya untuk keuangan Negara tapi juga bagi alam yang akan berdampak pada kehidupan manusia pula.

Eksploitasi alam yang juga marak terjadi adalah penggunaan lahan persawahan yang disulap menjadi kawasan perumahan mewah. Laporan ‘Top of the Props’ The Move Channel bulan April lalu, menempatkan Indonesia di posisi ke-22 sebagai negara tujuan investasi properti dunia, berdasarkan tingkat permintaan. Saat ini Indonesia hanya menempati posisi ke-31. Jumlah permintaan properti Indonesia saat ini sebanyak 0,79%, atau dua kali lipat dibanding data terakhir pada bulan Desember 2011 lalu. Semakin kurangnya lahan pembangunan membuat para investor properti banyak mengambil wilayah persawahan warga. Banyak peminat properti memilih perumahan yang jauh dari perkotaan agar terhindar dari kebising. Lahan persawahan adalah lokasi yang sangat tepat. Seperti yang terjadi pada lokasi persawahan di Hertasning dan kelurahan Cilallang Barombong, banyak sawah yang telah lenyap ditimbun. Bila hal tersebut terus berlanjut maka kedepannya hidup manusia akan mengalami krisis pangan karena lahan persawahan yang semakin berkurang, padahal kebutuhan manusia makin meningkat melihat populasi manusia makin bertambah terus.

Masalah perkotaan seperti kemacetan juga menjadi permasalah publik dan lingkungan. Masalah kemacetan membuat pemerintah mengambil salah satu solusi perluasan jalanan sebagai jalan keluar. Seperti yang terjadi di Makassar jalan Andi Pettarani, pohon yang ditanam di pembatas jalan diambil areanya separuh untuk peluasan jalan sehingga pohonnya diganti menjadi pohon yang lebih kecil. Hal ini mengakibatkan suhu udara di jalan saat berkendara makin panas dirasakan para penggunaan jalan, polusi makin bertambah dan oksigen makin berkurang. Taman kota sudah jarang terlihat di perkotaan yang ada di Indonesia. Area rimbun sudah sulit didapatkan. Masalah yang berasal dari individu sendiri seperti, membuang sampah sembarangan dan kurangnya kesadaran manusia untuk menanam pohon juga masih menjadi persoalan yang terus disuarakan para aktivis lingkungan.

Banyak solusi untuk mencoba menyayangi alam, namun manusia masih acuh terhadap dampak yang nanti akan kembali diterima oleh manusia. Saat ini dampak sudah terlihat jelas, makin panasnya suhu bumi, bencana lonsor, bencana banjir, polusi udara dan dampak terbesarnya yaitu saat global warming  telah menampakkan kemarahannya. Saat ini tanda-tanda kecilnya sudah menjadi perhatian banyak para aktivis untuk mencegah dampak terbesarnya. Negara-negara maju juga telah mencoba mencegah dampak terkecil dan terbesarnya. Namun, banyaknya Negara yang tau betul soal dampak kerusakan alam tak berarti tanpa kesadaran unit terkecil yaitu masyarakat. Masyarakat masih kurang peduli sehingga usaha dari Negara-negara tersebut takkan berarti penuh pada pencegahannya.

Masyarakat harus ikut peduli dan sadar akan pentingnya menjaga alam. Tiap daerah harus mampu menjadikan alam sekitarnya sebagai wilayah ramah lingkungan. Para investor perumahan juga harus sadar terhadap penghijauan disekitar perumahan. Konsep area hijau mesti diadakan oleh para lulusan arsitek, mensiasati lahan kecil agar tetap bisa digunakan menanam tumbuhan. Pemerintah pun harus labih ketat dalam memberi izin penebangan hutan dan pembangunan bagunan. Tiap komponen pemerintahan perluh menghimbau masyarakat untuk menanam pohon dan menjaganya.

Kita mulai dari lingkungan sekitar kita sendiri. Rumah, tempat kerja, tempat usaha, sekolah, kampus, kita mulai dari yang terdekat. Menyadarkan orang sekitar kita untuk mulai mencintai alam yang telah mencintai kita sedari dulu hingga sekarang. Memulai dari rasa cinta kita terhadap alam untuk masa depan dan anak cucu kita tersayang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih