Sabtu, 21 Juli 2012

Live is After Three Minutes part 2

Hidup Seperti Mati

Dini hari sebentar lagi menjelang shubuh, rasanya terlalu cepat diri ini tersadar dari mati sesaat. Aku bersyukur walau terlalu cepat rasanya mengakhiri mimpi yang membuatku penasaraan saat ini. Aku terbangun dipertengahan mimpiku yang sangat aneh.

Aku bermimpi aneh, aneh sekali. Awal yang tak jelas namun yang teringat hanya bunga kamboja yang tumbuh tiba-tiba di halaman rumahku. Banyak sekali, dimana-mana dan memenuhi halaman rumahku. Sangat indah membuatku bahagiah melihatnya tapi tiba-tiba bunganya gugur dan akupun terbangun dari cerita mimpiku.

Kini aku terbangun dengan rasa penasaran, sepertinya mimpi itu memberi suatu isyarat. Aku terbangun dan hingga masuk waktu sholat yang ada dipikiranku terus teringat dengan bunga kamboja. Bunga kamboja sangat indah warnanya putih dan ditengahnya jingga. Bentuknya indah dengan 5 helai kelopak yang terangkai sempurnah.

Dalam sholatku pun aku bertanya-tanya, mengapa aku begitu resah dengan mimpiku. Mimpi banyak bunga kamboja yang tiba-tiba gugur. Tak sadar aku terus terduduk di atas sajadah dengan pikiran masih terbawa dengan mimpi bunga kamboja.

Aku harus ke kampus hari ini tepat waktu karena ada janji dengan seniorku pagi sekali, ku hentin otakku berfikir terus tentang bunga kamboja. Hari ini ada banyak tugas yang harus ku selesaikan sebelum ujian praktikum. Dua hari lagi dan laporanku belum mendapatkan ACC dari asistenku. Yaa nasib menjadi mahasiswa sains.

Akhir-akhir ini memang hidupku serba diatur, seperti dikekang oleh peraturan yang menurutku gila. Rasanya ingin sekali aku hapuskan sistem yang digunakan di kampus mengenai kewajiban mahasiswa untuk aktivitas praktikum.

Ada banyak masalah di kampus membuat mahasiswa lagi yang harus mendapatkan imbasnya. Sistem pendidikan di negara ini memang bobrok. Pantas banyak sarjana muda yang terpontang-pantiing mencari hidup setelah sekian banyak harapan di gantung di duniah perkuliahan, namun karena sistem yang sangat tak mendukung membuat perkuliahan rasanya sia-sia saja. Sayang sekali tak banyak mahasiswa yang sadar dengan ketertindasan pendidikan yang terjadi di kampus.

Bagi ku Mahasiswa itu seperti robot rakitan yang ujung-ujungnya tak siap pakai. Hanya sebagian kecil yang lolos untuk dijadikan robot layak pakai. Jadi, apakah hakikat kemanusiaan kita harus terenggut?. Kini Pendidikan di negeri ini memang hanya sistem merakit robot. Aku memang akhir-akhir ini sangat sensitif masalah ini. Aku tak ingin jadi robot, apalagi yang tak layak pakai. Jiwa kemanusiaanku masih hidup tapi sayang ketika itu ku perjuangkan ternyata aku terkalahkan. Alhasil aku harus berpura-pura menjadi robot rakitan. Seperti hidup ini sudah mati ketika hak kemanusiaan sudah berubah.

Syukur hari ini tugas-tugasku sebentar lagi kelar dan sepertinya pikiranku kembali teringat dengan bunga kamboja. Pikiranku ini harus terjawab, otakku tak cukup bisa menjawab makna dari mimpi itu.Ku buka laptop dan coba mencari filosofi dari bunga kamboja. Saat serching yang muncul adalah Kamboja Bunga Kematian. Kematian??? ada apa dengan bunga kamboja, kematian dan mimpiku semalam. Apakah jiwaku memang sudah mati karena rutinitas yang ku jalani telah membunuh kebebasanku?.

Bunga kamboja memang biasa terlihat di pemakaman dan orang bali banyak menggunakannya untuk sembahyang. Tiba-tiba dari arah jam 9 seorang lelaki datang di hadapanku. Ternyata itu Asdar kawanku yang juga tukang protes masalah sistem yang ada di kampus.

"Jihan lagi ngapai laporanmu sudah selesai ACC semua?" tanya Asdar sambil duduk disampingku
"Hmmm sisa sedikit, aku lagi santai nie jangan diganggu pusing mikiran laporan melulu" ujarku dengan ekspresi seakan tak peduli.
"dari pada nanti loh dipersulit lagi, cukup kita dipersulit karena masalah protes kemarin"
"Ahh masa bodoh, aku nggak mau mikirin masalah itu, biarkan saja mereka menindas aku biar mereka puas"
"jangan gitu sist aku bakalan bantu loh, ayo semangat"
"iyah..iyah aku lagi sibuk nie, jangan diganggu"
"huff dasar loh memang essy going banget"

Asdar memang tukang protes sepertiku tapi ia telah menyerah dan berusaha berpura-pura sebaik mungkin menjadi robot. Tak seperti diriku, hal paling sulit aku lakukan adalah berpura-pura tak ada masalah seperti sekarang. Hidup ini memang seperti telah mati, mungkin itu pula jawaban dari mimpiku semalam tentang bunga kamboja yang indah untuk sebuah kematian. Ia hidup untuk kematian dan gugur bersama mati. Sepertinya sama dengan apa yang sekarang aku alami.

Seharian dikampus dengan rutinitas menyesakkan selalu membuatku rindu untuk pulang kerumah. Di rumah seperti adalah obat rasa dongkolku dengan rutinitas kampus. Gara-gara itu aku jadi jarang memperhatikan motor kesayanganku, tak sempat untuk membawanya kebengkel karena remnya yang sedikit rusak. Beberapa kali hampir celaka, aku seperti menyemput kematian tiap hari. Semoga hari ini bisa selamat lagi pulang kerumah. Kebiasaan balapku memang sulit dihilangkan karena jarang kampus dan rumah sangat jauh. Semoga kali ini selamat, aku janji setelah ini aku akan membawa motorku ke bengkel. Hari ini aku sengajah pulang cepat walau sebenarnya belum kelar urusanku di kampus demi motorku ini.

"Semoga bisa nyampai rumah dengan selamat ya Allah" desahku di perjalana terus saja berdoa

di seperempat perjalanan...

Sedikit lagi sampai, sangat sulit mengendarai motor saat remnya lagi bermasalah. Beberapa kali hampir celaka tak bisa dikendalikan. Aku memilih menggunakan jalan sepi dekat tol biar bisa sampai rumah cepat.

Tiba-tiba Brukkkkkkkkkkkkkkkkk.....................


bersambung!



2 komentar:

  1. cerita mahasiswa banget, lanjutkan

    BalasHapus
  2. Yyaaa.. sudah serius-serius bersambung.. ditunggu kelanjutannya yahh ^_^

    BalasHapus

Terima Kasih