Kamis, 30 Agustus 2012

Love Maya @Dunia Maya Part V


Pilu Ibu

Akhir semester telah tiba, sebentar lagi Maya akan segera menyelesaikan Ujian seminar hasilnya. Di keadaan gamang ia rasakan ketika ia akan beralih dari mahasiswa menjadi sarjana muda. Terselip rasa khawatir ketika ia tak bisa menjadi apa yang orang tuanya harapkan.

Sepulang dari kampus  Maya tiba-tiba mengingat ayah dan ibunya. Berjalan dari koridor kampus yang sudah sepi ditinggal penghuninya pulang kampung untuk, menikmati bulan Ramadhan dengan keluarga. Sepi..hanya suara langka Maya di lantai dan deru angin bersama rerumputan. Hari mulai gelap, senja urung menghilang. 

Sesampai di rumah Maya telat berbuka, seisi rumah telah sholat berjamaah. Sebelum menyusul Maya menengok ke meja makan, ternyata ada banyak hidangan kesukaannya. Segera ia mengambil whudu dan sholat. Selesai sholat Maya berdoa moga di lncarkan urusannya, tiba-tiba dari lantai dasar erdengar suara.

“May, Makan nanti lauknya habis” suara ibu terdengar sangat khawatir bila Maya tak kebagian lauk.
“iya Buu.. biar yang lain duluan”may bergegas menjawab sahutan ibunya.

Saat bergegas menuju dapur, yang lain sudah siap-siap dengan lauk pilihanya. Maya melirik kekiri dan kanan memilih makanan tapi sebelumnya Maya mencari Ibunya, terbersik pertanyaan kemana ibu mengapa tak ikut makan. Ternyata ibu maya duduk di dekat wastafel dan tak bergabung dengan yang lain di meja makan.

Nafsu makan May lenyap seketika, tubuhnya letih rasanya memikirkan sesuatu dan sangat ingin ia curahkan. Sehabis makan Maya langsung ke kamar dan menyalakan Laptop. Sendirian di kamar dan tak ingin diganggu Maya mulai menggerakan jari-jarinya beradu dengan tuts laptopnya.

Dari layar laptop tertulis dan terangkai kata hingga kalimat yang berparagraf,,,,

Makan malam yang memilukan hari ini, saat ku lihat ibu tak bersama kami, tak semeja dengan kami. Nafasku berat harus menahan sedih karena hatiku pilu melihat ibu. Makanan yang ibu persiapkan sedari siang tadi sudah tertata  rapi dan membuat ngiler sebelum adsan dikumandankan tapi ketika melihat ibu tak semeja lagi dengan kami rasanya nafsu makanku hilang seketika. Makanan yang terlanjur telah ku kunya tertinggal di tenggorokanku sejenak melihat ibu.
Saat kami semua telah duduk di meja bersama dan mulai memilih makanan mana yang akan kami santap karena ibu menghidangkan makanan yang banyak dan lezat hingga membuat kami kebingungan. Ibu selalu memikirkan selera kami sekeluarga. Walaupun kami beda tapi kami punya selera yang berbeda, kami juga punya masing-masing pantangan. Sempat beberapa kami membayangkan betapa pusingnya ibu menghadapi selera makan kami semua. Ia harus memasak dan memperhatikan selera serta  kesehatan kami. Apalagi aku, paling bandel masalah makanan. Aku punya penyakit amandel dan maag, tak bisa makan yang pedas dan mengadung MSG. orang dengan penyakit maag ada banyak patangan.
Ibu selalu ikhlas memasak untuk kami, paing tau yang baik untuk kami, selalu memikirkan kami. Memasakkan makanan yang kami suka. Saat nggak nafsu makan besoknya ibu pasti nanya mau makan apa?? Dan sekarang ibu yang telah capek-capek masak untuk kami tidak bisa duduk semeja dengan kami karena alasan nggak bisa makan enak seperti kami ibu takut melangar pantangan. Begitu inginnya ibu makan makanan yang sama dan semeja dengan kami tapi tak bisa.
Ibu memang sangat kuat. Ibu mengalami hari-hari berat setelah melahirkanku. Penyakit datang bertubi-tubi. Ibu tidak pernah mengelu ataupun meraung kesakitan walau sebenarnya ia sangat kesakitan. Ibu selalu semangat, sangat bersemangat. Ibu tidak pernah patah semangat dalam hidupnya, namun beberapa hari yang lalu ku dengar ibu mengatakan hal yang sangat mengagetkan
“ku harap sisa umurku yang tak panjang lagi bisa lakukan yang saya sukai”
Sontak kami yang mendengarnya sangat kaget. Betapa ikhlasnya ibu hidup untuk kami. Saat mengunyah makanan,  pelan-pelan ku telan smbil memandang ibu dari meja yang berbeda. Ibu balik memandangku, aku tau ibu pasti dengar betapa sedihnya kami tak bisa membalas segala hal yang luar biasa yang telah ia lakukan. Makanan ini begitu enak, semoga tua nanti aku dan saudaraku akan selalu jadi kebanggaan ibu dan membahayakannya hingga akhir.
Ya Allah tak cukupkan Ibu kesakitan setelah melahirkanku? Haruska ia terus menanggung sakit setelah melahirkanku hingga sekarang. Aku hanya segumpal daging yang kau hidupkan dan kau sempurnakan lewat rahimnya. Peluknya dan perhatiannya tak bisakah ku balas melebihi apa yang ia berikan. Ku harap semangatnya takkan pernah kau padamka dan ku harap setelah sakit yang ia rasakan akan ada bahagia yang lebih mampu mengobati lukanya. Makanya Ibu sampai sekarang masih kuat.
Makanan yang enak ini, makin enak dengan rasa syukur karena ibu masih ada disamping kami walau tak bisa semeja lagi seperti dulu.

Thanks MoM!!!


Bersambung.....

Kamis, 16 Agustus 2012

Jangan Bilang Cinta Itu Gila

Sering aku, kamu dan kita mendengar kata "Cinta memang gila". Mungkin banyak orang saat merasakan cinta menderita gelaja-gejala kegilaan, lupa diri sampai bertingkah aneh. Apa penyebabnya?? coba tanyakan pada orang yang sedang merasakan cinta, banyak dari kita sulit menjawabnya bukan.

Pernah ku tanyakan hal yang sama kepada seorang teman yang sedang mencintai, ia memang aneh sampai aku tak mengerti. Ia minta disadarkan tapi itu aneh, karena dia benar-benar jadi orang yang berbeda.

Cinta memang gila, itu juga jadi pahamku setelah melihat mereka yang sedang jatuh hati. Pernah merasakan hal yang sama? jelas tapi aku sadar ini harus disiasati. Kadang kita tak sadar tapi sahabat selalu ada untuk mengingatkan.

Malam ini, pahamku menjadi runtuh, luluh dan ku hempaskan jauh-jauh bahwa cinta itu gila. Lewat postingan ini aku akan menceritakan kisah yang saya lihat dan aku rasakan. Ini bukan kisah picisan semata. Malam ini sehabis tarawi ku lihat banyak orang berhenti dari perjalannan pulangnya. Dari  lapangan yang tak jauh dari masjid tempatku melaksanakan sholat tarawi, ku lihat dari kejauhan banyak orang berhenti dan memperhatikan sesuatu yang masih belum jelas terlihat olehku. Sengaja ku pelankan langkahku, semakin dekat ku lihat jelas mereka yang juga mencoba memperhatikan lebih jelas saling berbisik-bisik. Rasa penasaranku makin menjadi-jadi, apa gerangan yang membuat para jemaah yang akan pulang dari tarawi sejenak berhenti dan melirik-lirik jelas sambil berbisik satu sama lain.

Aku semakin dekat dari mereka, yang lain pergi dan saling bergantian, sama dengan yang tadi mereka melirik dan berbisik. Dari jarak yang tak jauh, ku dengar sedikit suara dari bisikan mereka. "mereka suami istri" ujar seorang ibu dengan ibu yang lain juga melirik. mendengar bisikan mereka, ku tatap arah lirikan merka yang terus mencuri-curi pandang.

Ternyata, dari arah tempat yang gelap itu ada seorang lelaki dengan becak buntutnya mencoba mencari gelas mineral yang tak terpakai lagi. Makin penasaran soal apa yang salah dengan bapak tersebut, pandangan makin ku pertajam mengarah ke becak buntutnya. Tempat ia meninggalkan becaknya memang minim cahaya, remang-remang tak jelas apa yang ada di atas becak. Aku hanya bisa berbisik sendiri, apa yang ku lihat di atas becaknya adalah seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan baju yang copang-camping, wajahnya kotor tak terawat, tubuhnya kaku, matanya menatap satu arah dan kosong tatapannya. Apa ia sedang melamu, tanyaku. Maaf ia seperti orang sakit jiwanya.
Aku ikut terhenti melihat apa yang bapak tadi lakukan, setelah mencari gelas mineral ia letakkan dalam karung dan ia simpan disamping wanita tadi. Setelah ia meletakkan karungnya, ku lihat ia menatap wanita tadi. pantas orang-orang tadi bilang mereka suami istri karena bapak tadi memandang wanita  tersebut dengan tatapan sendu, cintakah yang ia tatap?. aku seperti melihat rasa sayang dari bapak tadi untuk wanita tersebut. Kedaan bapak tersebut tak jauh berbeda dari si Wanita, namun Bapak tersebut masih lebih baik kondisinya ketimbang si Wanita yang mulutnya terus tertutup dan tubuhnya tak bergerak dari tempat ia duduk sedikitpun.

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku melihat mereka berdua, teringat 3 hari yang lalu saat melintas di jembatang layang yang tinggi dan jarang becak lalui karena sukar untuk naik dari tanjakan dan turunan yang menukik. Tapi meraka lain, bapak itu terlihat sangat semangat mendorong becaknya yang tak sanggup lagi ia kayuh saat naik tanjakan. Ku lihat pula si Wanita masih di atas becak duduk dengan pandangan kosongnya. Hari itu sangat terlihat jelas, wanita itu seperti orang yang hilang kewarasannya.

Aku sangat tertegun melihat bapak tadi, ia sangat menjaga wanita itu. Entah wanita itu siapanya, istrikah atau anaknya yang jelas ku lihat ia sangat menyayangi wanita itu. Dari keterbatasan yang mereka alami, hidup masih bisa jadi teman mereka. Tak seperti kebanyakan kasus bunuh diri yang aku lihat, mereka masih lebih beruntung dari Bapak dan Wanita di atas becak buntut itu.

Kini, aku tak bisa lagi bilang cinta itu gila karena sesungguhnya yang gila itu bukan cinta. Cinta yang sebenarnya adalah yang menghidupkan hidup kita, melayakkan diri kita, menyadarkan diri kita bahwa hidup itu indah dan saling mendamaikan jiwa.


meminjam kata-kata Pak Mario Teguh "Loving you all as always"
^___^

Terima Kasih