Kamis, 16 Agustus 2012

Jangan Bilang Cinta Itu Gila

Sering aku, kamu dan kita mendengar kata "Cinta memang gila". Mungkin banyak orang saat merasakan cinta menderita gelaja-gejala kegilaan, lupa diri sampai bertingkah aneh. Apa penyebabnya?? coba tanyakan pada orang yang sedang merasakan cinta, banyak dari kita sulit menjawabnya bukan.

Pernah ku tanyakan hal yang sama kepada seorang teman yang sedang mencintai, ia memang aneh sampai aku tak mengerti. Ia minta disadarkan tapi itu aneh, karena dia benar-benar jadi orang yang berbeda.

Cinta memang gila, itu juga jadi pahamku setelah melihat mereka yang sedang jatuh hati. Pernah merasakan hal yang sama? jelas tapi aku sadar ini harus disiasati. Kadang kita tak sadar tapi sahabat selalu ada untuk mengingatkan.

Malam ini, pahamku menjadi runtuh, luluh dan ku hempaskan jauh-jauh bahwa cinta itu gila. Lewat postingan ini aku akan menceritakan kisah yang saya lihat dan aku rasakan. Ini bukan kisah picisan semata. Malam ini sehabis tarawi ku lihat banyak orang berhenti dari perjalannan pulangnya. Dari  lapangan yang tak jauh dari masjid tempatku melaksanakan sholat tarawi, ku lihat dari kejauhan banyak orang berhenti dan memperhatikan sesuatu yang masih belum jelas terlihat olehku. Sengaja ku pelankan langkahku, semakin dekat ku lihat jelas mereka yang juga mencoba memperhatikan lebih jelas saling berbisik-bisik. Rasa penasaranku makin menjadi-jadi, apa gerangan yang membuat para jemaah yang akan pulang dari tarawi sejenak berhenti dan melirik-lirik jelas sambil berbisik satu sama lain.

Aku semakin dekat dari mereka, yang lain pergi dan saling bergantian, sama dengan yang tadi mereka melirik dan berbisik. Dari jarak yang tak jauh, ku dengar sedikit suara dari bisikan mereka. "mereka suami istri" ujar seorang ibu dengan ibu yang lain juga melirik. mendengar bisikan mereka, ku tatap arah lirikan merka yang terus mencuri-curi pandang.

Ternyata, dari arah tempat yang gelap itu ada seorang lelaki dengan becak buntutnya mencoba mencari gelas mineral yang tak terpakai lagi. Makin penasaran soal apa yang salah dengan bapak tersebut, pandangan makin ku pertajam mengarah ke becak buntutnya. Tempat ia meninggalkan becaknya memang minim cahaya, remang-remang tak jelas apa yang ada di atas becak. Aku hanya bisa berbisik sendiri, apa yang ku lihat di atas becaknya adalah seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan baju yang copang-camping, wajahnya kotor tak terawat, tubuhnya kaku, matanya menatap satu arah dan kosong tatapannya. Apa ia sedang melamu, tanyaku. Maaf ia seperti orang sakit jiwanya.
Aku ikut terhenti melihat apa yang bapak tadi lakukan, setelah mencari gelas mineral ia letakkan dalam karung dan ia simpan disamping wanita tadi. Setelah ia meletakkan karungnya, ku lihat ia menatap wanita tadi. pantas orang-orang tadi bilang mereka suami istri karena bapak tadi memandang wanita  tersebut dengan tatapan sendu, cintakah yang ia tatap?. aku seperti melihat rasa sayang dari bapak tadi untuk wanita tersebut. Kedaan bapak tersebut tak jauh berbeda dari si Wanita, namun Bapak tersebut masih lebih baik kondisinya ketimbang si Wanita yang mulutnya terus tertutup dan tubuhnya tak bergerak dari tempat ia duduk sedikitpun.

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku melihat mereka berdua, teringat 3 hari yang lalu saat melintas di jembatang layang yang tinggi dan jarang becak lalui karena sukar untuk naik dari tanjakan dan turunan yang menukik. Tapi meraka lain, bapak itu terlihat sangat semangat mendorong becaknya yang tak sanggup lagi ia kayuh saat naik tanjakan. Ku lihat pula si Wanita masih di atas becak duduk dengan pandangan kosongnya. Hari itu sangat terlihat jelas, wanita itu seperti orang yang hilang kewarasannya.

Aku sangat tertegun melihat bapak tadi, ia sangat menjaga wanita itu. Entah wanita itu siapanya, istrikah atau anaknya yang jelas ku lihat ia sangat menyayangi wanita itu. Dari keterbatasan yang mereka alami, hidup masih bisa jadi teman mereka. Tak seperti kebanyakan kasus bunuh diri yang aku lihat, mereka masih lebih beruntung dari Bapak dan Wanita di atas becak buntut itu.

Kini, aku tak bisa lagi bilang cinta itu gila karena sesungguhnya yang gila itu bukan cinta. Cinta yang sebenarnya adalah yang menghidupkan hidup kita, melayakkan diri kita, menyadarkan diri kita bahwa hidup itu indah dan saling mendamaikan jiwa.


meminjam kata-kata Pak Mario Teguh "Loving you all as always"
^___^

2 komentar:

  1. Kisah yang menarik..
    Mungkin itu yang disebut cinta yang tulus.
    Seperti cinta orang tua ke anaknya dan cinta suami ke istrinya, maupun sebaliknya.

    Salam kenal ^^

    BalasHapus
  2. mengucapkan SALAM MERDEKA..!
    dan INDONESIA JAYA!!

    *kapslok konslet*

    BalasHapus

Terima Kasih