Kamis, 27 Desember 2012

Ken(apa) UIN Alauddin


"Kenapa UIN Alauddin??"
"Apa UIN Alauddin?"

Kedua pertanyaan tadi adalah celotehan yang terus muncul dalam benakku pada saat melihat gerbang bernuansa arsitektur timur tengah itu. bagai portal menuju dunia baru, dunia perkuliahan. Tak mudah, batinku ragu. Jauh perjalanan untuk sampai Alhamdulillah aku ke kampus dengan mengendarai kendaraan beroda dua. Aku tinggal di pesisir pinggiran kota Makassar dan aku harus ke pinggiran kota Gowa daerah yang sudah nampak pegunungannya.

Aku bersyukur menjadi bagian dari UIN Alauddin Makassar walau tak begitu terkenal seperti kampus Ayam Jago Atau Kampus Kapal Pinisi. Tetap bangga bisa menjadi mahasiswa kampus hijau. Universitas (Islam) Negeri Makassar, dulu Institut Agama Islam Negeri tapi tak lama sebelumku masuk kampus ini berhasil menjadi Universitas seperti saudaranya UIN Kalijaga. Oleh kerja keras dari Prof Azhar UIN menjadi sejajar dengan Universitas negeri yang ada di Makassar. Walau masih merintis, masih tertati-tati memang tapi kami semua ingin Universitas Islam ngga kalah dengan Universitas lain.

Hampir semua gedung yang ada di UIN bernuansa Islam, kampus II Samata Gowa dirancang dengan karakter keislamannya tanpa melupakan moderisasi gedung dan fasilitas yang ada dalam kampus. kalau dulu hanya ada jurusan agama saja sekarang sudah berkembang ada jurusan Sains dan Teknologi serta kesehatan. Walau demikian kami wajib tau soal ilmu Al-qur'an, Ilmu Hadis, ilmu Fikih, Sejara Peradaban Islam, Aqidah Islam, bahasa Arab dll.

Walau kami bukan profesi keislaman tapi kami dibentuk menjadi ahli dengan berlandaskan agama Islam. Jurusan Agama yang paling keren menurut saya adalah fakultas Ushuluddin jurusan perbandingan agama. Salah seorang teman satu organisasi lembaga pers mahasiswa di UIN (Washilah) mengatakan kalau mereka wajib mempelajari tentang agama lain. Tak sedikit dari mereka yang pindah agama, entah apa alasannya. Di UIN lahir para profesor filsafat agama yang liberal, pluralis dan ada juga politis. Tapi di UIN perbedaan bukan masalah.

Di UIN ada lembaga intra yang sama dengan Universitas lain tapi keunggulannya kami selalu melibatkan Al-Qur'an dan Hadis. Tak pernah lupa keterlibatan Allah dalam setiap kajian yang kami bawakan. Mulai dari seminar, pameran, dialog, pagelaran seni, pementasan budaya, kajian ilmu sampai penelitian kami kaji dari segi agama Islam. kami para lulusan Saintis nantinya saat membuat skripsi wajib mengkaji judul skripsi terhadap pandangan Agama Islam yag tentunya harus ada landasan Al-Qur'an dan As-sunna (hadis).

Tak jarang Kampus kami juga mengalami konflik mahasiswa. Di UIN hanya ada agama Islam tapi ada banyak paham tentang agama Islam. Ada yang kiri dan ada yang kanan dan terkadang ada yang menjadi ateis atau hilang arah mencari Tuhan. Hal itu wajar terjadi, kita mahasiswa pintar-pintarnya kita mencari jati diri. Paham bisa berubah-ubah tapi aqidah harus tetap dijaga.

UIN adalah gerbang menuju ridho Allah mencari ilmu untuk dunia dan juga akhirat


6 komentar:

  1. saya cuma khawatir... dengan dibukanya jurusan sains, apalagi kelak kedokteran yang memang lebih 'menjaul', jurusan yg konsen ke agama akan lumpuh layu.., dan betapa mengerikannya orang-orang yang belakar ushuluddin (pokok2 agama) justru berpindah agama. i think there is something wrong.

    sya tetap mendambakan univ yang konsentrasi mengajarkan agama tanpa takut miskin, dan mahasiswa yang belajar agama tanpa takut tidak dapat kerja...

    maaf, bukannya hendak menggugat... just my opinion, skedar berbagi gelisah. hehe.... nice posting pokoke..

    BalasHapus
  2. Yahh..kembali lagi kita harap konsistensi dari pihak birokrat serta tergantung tiap individu. Dari jurusan agama juga harus saling menjaga silaturahmi antara mahasiswa non agama biar saling belajar satu sama lain.

    Soal jurusan Ushuluddin saya kira perlu permantap dulu akidah dan jangan terputus walau sedang belajar tentang agama lain tapi akidah harus tetap di bahas.

    Orang yang mengerti agama islang pasti tau kalau Allah melarang kita menjadi miskin, miskin dalam artian tidak bersyukur

    BalasHapus
  3. citra UIN terutama jurusan Ushuluddin akhir-akhir ini memang jelek sekali, wajahnya corang moreng apalagi di kalangan orang2 yang perhatian sama perkembangan pemikiran islam atau skedar penyimak kyk sya.. alih alih mengkader ulama Islam yg produktif n pikirannya bermanfaat untuk umat islam eh malah nyetak mahasiswa ato dosen liberal yg pikirannya nggk ada manfaatnya (setidaknya buat kita yg awam)
    mungkin ukht Mita udah tau ttg buku "Ada Pemurtadan di UIN" itu ditulis dulu bgt n ttg UIN lain, nggk nyangka di UIN Alauddin trnyata ada juga...

    dari yg sya amati, dari jurusan sains justru biasa lahir pejuang hebat... banyak aktivis dakwah yg justru kuluah di ITB, UGM, dst. mudah-mudahan klo ushuluddinnya g beres, yg sains lah yang bangkit.. smangat n slamat belajar di UIN lah untuk Mita :)

    BalasHapus
  4. Makasi kak Ayub atas perhatiannya...saya memang lebih suka belajar islam akhir-akhir ini lewat ilmu sains karena saya bisa melihat betapa luar biasanya ciptaan Allah ketimbang memperdebatkan masalah aturan ini dan itu..

    BalasHapus

Terima Kasih