Kamis, 09 Januari 2014

Wajah Pemilma UIN Alauddin 2014

Wajah, Siluet, Bayangan Hitam, Tanda Tanya, PertanyaanHari ini saya melihat tren media awal tahun 2014 banyak merujuk ke Pemilihan Presiden. Baru satu minggu media tak ada hentinya menyiarkan kabar soal pemilu. Melihat setahun kemarin kita sudah banyak disuguhkan isu-isu calon presiden selanjutnya setelah dua periode kepemimpinan Bapak SBY tahun ini penentunya. Ada hal menarik yang saya ingin kaitkan soal pemilihan presiden dengan pemilma presiden BEM-U UIN tahun ini. Menarik sekali bila kita ingin membahas pemilu kita bahas objeknya yaitu sang calon yang akan dipilih nantinya. Kita lihat di indonesia calon presiden tiap tahun meningkat jumlahnya, nyatanya semakin banyak calon masyarakat makin bingung. Indonesia ini kita ketahui masih punya banyak hal yang perluh dibenahi, memiliki banyak masalah mulai dari korupsi, pelanggaran HAM, masalah SARA, masalah pendidikan, pertahanan nasional dan moral bangsa semakin menurun. Mengapa mereka sangat menggebuh-gebuh mencalonkan diri menjadi presiden?.

Tulisan ini saya tulis bukan untuk menjatuhkan martabat bangsa tapi perlu kita analisis sebagai seorang calon pemilih apakah motif sesungguhnya para calon nantinya. Umumnya motif yang nampak adalah untuk membuat indonesia makin baik, melepaskan indonesia dari belenggu masalah dan mengembalikan martabat indonesia yang dulunya dijuluki macan Asia Tenggara. Kini tak perlu tanya kita jauh dari negara lain yang ada di Asia Tenggara contohnya Malaisya, Singapur,Thailand bahkan timor lestei sekarang mencoba untuk menyamai kita. Tak menutup kemungkinan Timor Lestei nantinya akan melampaui kita.

Sekarang mengenai kampus peradaban UIN Alauddin. Pemilma dulu dan kini saya prediksikan nanti akan sama warnanya. Tak jauh beda dengan 2 tahun yag lalu. Soal politik licik masih tetap abadi, banyak praktek sogok, memberi jasa gratis, iming-iming jabatan maupun segala kemudahan. Tak jauh bedakah kita dengan masyarakat yang pengetahuannya kurang tau soal politik. 

Saya kira mahasiswa semuanya ngga ada yang ngga kenal dengan politik. Harusnya kita tau sebelum diracuni ideologi kita ketika memilih pemimpin. Kini mahasiswa banyak masa bodoh dengan nasib universitas, yang penting nilai aman yang lain ngga ada urusannya. Aman nyaman sebenarnya bukan Cuma dari rektorat, fakultas atau jurusan bahka nilai sekalipun. Rasa aman dan nyaman itu dari pemimpin kalangan kita yang mampu menyampaikan aspirasi kita serta mewujudkan kreativitas dan inovasi kita. BEM universitas, fakultas dan Himpunan merupakan perwakilan kita. Mereka tau nasib kita dan merekalah yang menjadi penyambung lidah kita pada pemimpin birokrasi kampus. 

Kini apakah wajah-wajah ini natinya akan dapat mewujudkan cita-cita kita selama dikampus UIN?? Ini tergantung pilihan kita. Memilih apatis adalah hak kita tapi kewajiban kita lebih besar dari pada hak untuk memutuskan kita peduli atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih