Jumat, 02 Mei 2014

Inspirasi Hari Pendidikan 2 Mei 2014 Dari Siswa SD Desa Belapunranga

Bahas soal pendidikan di Indonesia yang terpikirkan olehku adalah pendidikan tak merata di tiap daerah, fasilitas yang kurang mendukung, biaya mahal, pengajar yang tak diperhatikan kondisinya, dan masih banyak lagi yang membuat kita miris bila ditelaah baik-baik. Indonesia cuma disibukkan persoalan keegoisan individual semata.

Setelah dua bulan yang lalu menjalani Kuliah Kerja Nyata di Desa Belapunranga saya ingin sedikit menceritakan kisah anak-anak Sekolah Dasar yang menempuh 4 km menuju ke sekolah dengan berjalan kaki. Memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sekolah. Besama teman-teman kami mencoba merasakan perjalanan mereka menuju rumah sehabis bersekolah. Perjalan kami dimulai dari rumah Bapak Sekertaris Desa yang berlokasi di Dusun Kasimburang.

Sebelumnya sedikit info Belapunranga adalah salah satu desa di Kecamatan Parangloe. Kecamatan Parangloe terletak di dataran tinggi dengan batas wilayah sebelah Utara Kabupaten Maros, sebelah Selatan Kecamatan Manuju, sebelah Barat Kabupaten Takalar  dan Kecamatan Bontomarannu,  sebelah Timur  berbatasan dengan Kecamatan Tinggimoncong.  Dengan ketinggian rata-rata 500 meter dari permukaan laut. Di desa Belapunranga ada empat dusun, dusun Sunggumanai, dusun Kasimburang, dusun Pa'pareang dan terakhir dusun Allukeke. Dusun Allukeke adalah dusun yang paling pedalaman. akses jalanan tak mulus seperti tiga dusun lainnya. Jaringan nyaris tak ada. Warung sangat sedikit. dusun Allukeke paling jauh dari akses desa khususnya Sekolah.

Kebanyakan anak dari dusun Allukeke bersekolah di SD Inpres Kasimburang. Dari dusun Kasimburang ke Allukeke ada jalan alternatif paling sering dilalui para siswa dengan berjalan kaki. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam. Kami mencoba mengikuti adik-adik yang berencana kembali dari bersekolah ke dusun Allukeke. Perjalanan selama 1 jam ternyata membuat batin kami miris melihat betapa mereka semangat untuk menuntut ilmu sampai harus berjalan jauh dan berbahaya pula.

Jalan yang tak mulus membuat telapak kaki menjadi sakit setelah 1 km berjalan hingga pematang sawah. Menegangkan pada saat menyebrangi jembatan bambu yang kecil, hanya ada 4 buah bambu kurus dengan kawat karatan yang kami pegang agar bisa seimbang hingga ujung jembatan. Panas berjalan jauh melewati kebun jagung. jalanan tak rata sehingga kami harus terus melihat kebawah agar tak tersandung atau jatuh ke lobang.

Dari cerita-cerita kesulitan tadi kami menemukan banyak pelajaran bahwa betapa bersyukurnya kami menjalani pendidikan dengan mudah. Selain pelajaran hidup yang tak kalah berharganya adalah pemandangan yang kami temui selama perjalanan. Ada pematang sawah, sungai, kebun jagung, gunung dan oksigen yang tanpa polusi.

Melihat senyum mereka rasanya keluh kami selama perjalanan sangatlah memalukan. Mereka tanpa keluh melewati jalanan tersebut sehari-hari. Mereka tanpa keluh belajar sehari-hari dengan semangat. Mereka tanpa keluh mengejar impian mereka walau keadaan begitu tak mendukung impian itu tercapai dengan mudah.

semoga kisah yang saya tulis ini menginspirasi semua pembaca
selamat hari pendidikan
semoga kita semua sadar dimanapun kita berada kita selalu terdidik dan mendidik
berikanlah yang terbaik untuk diri dan orang sekitar kita



Terima Kasih