Rabu, 05 November 2014

Ramma valley

Rekamam perjalanan memang tidak lengkap bila tak tersirat lewat tulisan. Beberapa perjalanan yang telah tertulis ternyata banyak menginspirasi para pembaca blog ini. Sebelumnya saya berterima kasih yang masih setia menanyakan kapan postingan perjalanan baru saya.

Lama tidak menulis postigan perjalanan bukan tanpa alasan. Rutinitas baru yang mewajibkan saya hanya ada di Makassar dan setiap saat ada di Kantor adalah tanggung jawab kerja. Namun terkadang ada di Makassar saja takkan membantu inspirasi atau inovasi baru datang.

Dua minggu sebelumnya saat saya masih ada perjalanan Bina Akrab dengan siswa di Pantai Bira sms masuk dari Sahabat saya mengajak untuk mendaki bersama teman-teman SMA. Tanpa pikir panjang lansung ku iyakan. Rindu sekali dengan suasana asri pegunungan. Sebelumnya pernah saya posting perjalanan pendakian gunung Bawakaraeng sekarang perjalanan mendaki menuju lembah Ramma takkalah menarik bagi saya.

Seminggu mempersiapkan diri mendaki tak banyak yang bisa saya persiapkan hanya tekad saja dan izin dari orang tua tentunya. Sudah dua kali melakukan pendakian izin lancar-lancar saja. hehehe

Kami sepakat berkumpul di rumah Budi Sahabat saya, ternyata semua sudah siap-siap dengan keril besarnya. Sebelum berangkat tak lupa kami berdoa. Sampai di Lembana daerah yang masih banyak pemukiman warga kami tepat berada di kaki gunung suhunya sudah dingin walau pakai jaket tebal. Perjalanan mulai menyusuri daerah perkebunan sayur. Pemberhentian pertama di Pos 1 kami kembali berdoa semoga dilancarkan perjalanan  kami.



Perjalanan kami mulai sekitar pukul 15.00. Jalanan yang kering di musim kemarau. Awal perjalanan masih terbilang mudah, kami berjalan konsisten saja kata teman "untuk sampai di tujuan kita tak perlu langkah yang cepat yang penting konsisten "


Menanjak dan menurun bonusnya adalah jalanan rata. Tak jarang saya merangkak atau duduk berjalan dengan bantuan kedua tangan. Kami bersyukur tak mendaki saat musim hujan namun pasir takkala berbahayanya membuat kami terjatuh. Persedian air dari Makassar tak cukup untuk kami semua. Alternatif kami minum air dari sungai yang  dilewati. Ada dua sungai kecil yang kami singgahi untuk istirahat dan mengambil air.

Sesampainya kami di talung rasanya lelah kami terbayar melihat keindahan alam. Ukiran Bumi
yang sangat indah. Matahari yang sebentar lagi meninggalkan kami perlahan menyisahkan sinarnya hingga hilang beralih gelap. Sebelum betul-betul gelap kami kembali menuruni talung menuju lembah Ramma.

Talung saat senja


Pemandangan dari atas talung (Photografer by Uyha)

Menuruni talung menurut saya adalah saat-saat paling menegangkan. Jalanan yang ekstrim kemiringan hampir 90 derajat. Bila tak berhati-hati bisa kena batu dari atas dan siraman pasir.


Jalanan berbatu dan berpasir

Sampai di Ramma Matahari sudah di balik gunung beganti gelap. Ternyata sudah banyak yang berkemah. Mencari tempat yang cocok berkemah dan mendirikan tenda agenda pertama kami sesampainya di Ramma. Kami bagi tugas, segera membuat api unggun, membuka bekal makanan, memasak, mengambil air.

Malam yang sangat dingin, kata teman yang sudah sering ke Ramma pada musim kemarau angin sangat dingin. Berkumpul duduk di depan api unggun membuat dingin tak menghalangi kami menikmati bintang dan suasana malam. kehangatan bukan dari api unggun saja tapi dari kebersamaan setelah lelah mendaki.

Pagi hari setelah solat shubuh paling tepat berfoto mengabadikan matahari bersampingan dengan gunung.


Photografer by Ari

Menunggu saatnya sarapan pagi, masak bersama, bercengkrama, bercanda menikmati alam yang tak  semua orang bisa rasakan.


Masak bersama

Minggu, sekitar pukul 10.00 kami meninggalkan lembah Ramma untuk pulang ke peraduan masing-masing. Rasanya sulit untuk mengakhirinya.

 Foto sebelum pulang


Lembana 

Terima Kasih