Sabtu, 30 Juli 2011

Filum Protista dan Jenis-Jenisnya

Protista adalah mikroorganisme eukariota yang bukan hewan, tumbuhan, atau fungus. Mereka pernah dikelompokkan ke dalam satu kerajaan bernama Protista, namun sekarang tidak dipertahankan lagi.[1] Penggunaannya masih digunakan untuk kepentingan kajian ekologi dan morfologi bagi semua organisme eukariotik bersel tunggal yang hidup secara mandiri atau, jika membentuk koloni, bersama-sama namun tidak menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan yang berbeda-beda.[2]. Dari sudut pandang taksonomi, pengelompokan ini ditinggalkan karena bersifat parafiletik. Organisme dalam Protista tidak memiliki kesamaan, kecuali pengelompokan yang mudah[3]—baik yang bersel satu atau bersel banyak tanpa memiliki jaringan. Protista hidup di hampir semua lingkungan yang mengandung air. Banyak protista, seperti algae, adalah fotosintetik dan produsen primer vital dalam ekosistem, khususnya di laut sebagai bagian dari plankton. Protista lain, seperti Kinetoplastid dan Apicomplexa, adalah penyakit berbahaya bagi manusia, seperti malaria dan tripanosomiasis. Berikut beberapa jenis yang termasuk dalam filum ini dan diambil dari berbagai situs.



Paramecium


Euglena viridis



Chilomonas



Arcella sp



Actinosphaerium



Bodo sp\



Ceratiumn hirundinella



Coleps octospinus



Diffugia sp



Euplotes sp


 
Stentor sp
 


Stylonychia mytilus



Vorticella sp

Rabu, 27 Juli 2011

0,1 cm Menuju Impian



Tanpa kita sadari ia begitu dekat untuk bisa terwujud. Ia ada terus mendekati terwujud 0,1 cm bahkan lebih. Jika kita ingin buat perhitungan, maka itu terserah kita, sesuai usaha dan kegigihan yang kita miliki. 0,1 hanya sebagai diameter untuk aku pribadi, tak masuk akal memang namun inilah langkahku untuk merealisasikan mimpi itu sendiri. kata mimpi bagai sekedar imajinasi alam bawah sadar. Aku ingin Alam bawah sadar dan sadarku bisa merasakannya.

Selasa, 26 Juli 2011

Apresiasi Film Surat kecil Untuk Tuhan

Baru-baru nie salah seorang teman mengajak untuk nonton ke Bioskop. Nga jelas mau nonton apa, ternyata mau nonton Surat Kecil Untuk Tuhan. Film surat kecil untuk tuhan saat ini sedang menjadi bahan perbincangan di situs-situs microblogging seperti twitter dan Facebook.
 
Film Surat Kecil Untuk Tuhan ini diangkat dari kisah nyata dan novel dengan judul yang sama.  Film ini diperankan oleh Dinda Hauw sebagai Gita Sesa Wanda Cantika atau Keke, seorang gadis yang berusia 13 Tahun yang lahir dari keluarga yang sangat berada, dan banyak disayangi oleh orang-orang sekitarnya.  Kehidupannya tampak begitu sempurna, hingga suatu saat Keke mengidap penyakit Rhabdomyosarcoma (Kanker Jaringan Lunak) pertama di Indonesia, sangat naas menurut saya. Belum pernah saya mendengar penyakit seperti itu. Pada saat menonton film ini saya agak jijik tiap melihat wajah pemeran keke yang membengkak dan memerah akibat kanker tersebut, sampai-sampai diceritakan dalam film tersebut keke sulit menyeimbangkan kepalanya karena hanya sebelah wajahnya yang terkena kanker tersebut.   Gadis cantik dan cerita tersebut terpaksa mengikuti serangkaian kemoterapi dan pengobatan-pengobatan lainnya hingga rambut Keke sedikit demi sedikit mulai rontok, kulitnya mengering dan sering mual-mual.  Pada suatu ketika Keke dinyatakan sembuh oleh Dokter dan kembali melakukan kegiatan seperti sedia kala.  Tetapi setahun kemudian penyakit kanker itu kembali, lebih parah dan bahkan mematikan.  Walaupun sadar akan penyakitnya yang sangat berat, tidak membuat Keke menyerah.  Keke terus semangat dan tetap bertahan tanpa sedikitpun lemah, walaupun kemoterapi tidak bisa lagi dilakukannya.
 
Cerita ini merupakan cerita nyata yang dialami Gita Sessa Wanda Cantika, seorang gadis manis berusia 13 Tahun.  Keke berhasil bertahan dari penyakitnya hingga menghembuskan nafas terakhirnya 25 Desember 2006 setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri. Keke berharap tidak ada lagi seseorang yang akan mengalami nasib seperti dirinya, mengidap penyakit aneh tersebut. Kisah nyata ini selanjutnya ditulis oleh seorang blogger yang beralamatkan http://lieagneshendra.blogs.friendster.com. Ada kutipan yang sangat menyentuh kalbu di Film dan Novel ini yaitu :
TUHAN BOLEHKAH AKU MENULIS SURAT KECIL UNTUKMU
TUHAN BOLEHKAN AKU MEMOHON SATU HAL KECIL DARI MU
TUHAN BOLEHKAH AKU HIDUP UNTUK WAKTU YANG LAMA
TUHAN BOLEHKAN AKU ADA DI DUNIA INI UNTUK BAHAGIA.

Penilaian untuk Film ini :
6/10
Ide ceritanya bagus tapi alurnya terlalu lambat, penjiwaan pemeran lainnya tidak begitu bagus, latar dan tempat terlalu sempit dan sedikit. Banyak adegan yang tidak perlu menurut saya, pembagunan emosi kurang. Sebenarnya film nie bisa buat saya menagis menurut saya, tapi entah kenapa tak sedikitpun air mata yang keluar hanya miris melihat keadaan  yang di alami pemeran keke. Mungkin pengemasan film Melodrama ini belum begitu bagus.

Senin, 18 Juli 2011

Contoh Laporan Coelenterata

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa yunani (Greek): coilos=rongga, eteron=usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenterons.
Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya.
Melalui percobaan ini kita akan mengamati lebih lanjut hewan yang termasuk filum Coelenterata. Mengamati bagian-bagiannya, baik secara morfologi maupun anatomi.

B.    Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengamati struktur dan morfologi organisme yang tergolong Coelenterata dan klasifikasinya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa yunani (Greek): coilos=rongga, eteron=usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenterons.
Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya.
Semua anggota filum ini mempunyai sel jelatang khusus yang disebut knidoblas sesuai dengan nama yang diberikan pada filum ini. Setiap knioblas mengandung benang berduri berisi racun yang disebut nematosis. Bila picu knioblas disentuh, nematosis ditembakkan. Ini digunakan untuk menjerat dan melumpuhkan mangsa juga untuk mempertahankan diri terhadap musuh-musuhnya. 

Tubuh semua hewan filum ini terdiri dari dua lapis sel dengan mesoglea seperti jeli di antara kedua lapisan tersebut. Akan tetapi, mesoglea mempunyai sel-sel yang tersebar dan oleh beberapa ahli biologi mesoglea dianggap sebagai lapisan sel yang ketiga. Tubuh berbentuk seperti silindris berongga dengan satu lubang di satu ujung. Makanan masuk melalui lubang  ini (mulut) dank e rongga dalam yang disebut rongga gastrovaskuler. Rongga ini juga disebut selentron, dan selama bertahun-tahun nama filum ini adalah Coelenterata. Suatu kelompok lainnya (ubur-ubur sisir), kemudian tercangkup dalam filum ini karena mereka juga mempunyai selenteron. Akan tetapi mereka tidak mempunyai knioblas, dan tidak lagi dianggap berkerabat dekat dengan hewan-hewan yang sedang kita bahas ini. 
Semua bagian dari filum Cnidaria, seperti tentakel, tersusun dalam sebuah lingkaran yang mengelilingi tubuh yang berbentuk silinder. Pola susunan ini disebut simetris radial. Bila kita harus memotong seekor hydra dari kepala anterior ke pangkal (posterior) dengan setiap bidang yang melalui garis tengah, maka organisme tersebut akan dibagi menjadi dua belahan yang sama. bandingkan hal ini dengan simetri bilateral pada manusia.
Karang sering kali hanya merupakan bagian kerangka kapur atau bagian penguat yang keras, bagian lunaknya sudah hilang atau mati. Untuk pengamatan yang masih hidup, amati dimana letak bagian yang lunak tadi. Hydra merupakan polip yang hidup soliter dalam arti tidak berkoloni, hidup di air tawar misalnya di kolam, di empang, di danau, rawa-rawa dan lain-lain. Dapat berpindah tempat, tetapi biasanya terikat atau melekat pada suatu objek, misalnya batu-batuan, pokok kayu, tanaman air dan lain-lain.
Coelenterata terbagi atas tiga kelas, yaitu kelas hydrozoa; ukuran kecil tidak menyolok, dalam daur hidupnya ada yang berbentuk polip, medusa atau keduanya, kelas Scypozoa; biasa disebut ubur-ubur berenang bebas kecuali ordo Strauromedusa. Bentuk polip berbatas pada stadia larva yang kecil, medusa Scypozoa umumnya lebih besar dari pada hydrozoa , dan kelas kelas Anthozoa; merupakan polip soliter atau koloni stadium medusa tidak ada.
Kelas Scypozoa yang disebut juga scyphomedusa adalah ubur-ubur sejati, merupakan bentuk dominan dalam daur hidupnya, juga berukuran relative lebih besar dengan diameter antara 2-40 cm atau lebih, bahkan pada Cyanea capillata sampai 2 m. Adakalahnya berwarna menarik seperti jingga, kesumba atau kecoklatan, warna itu disebabkan oleh warna gonad dan bagian-bagian dalam lainnya. Terdapat disemua lautan dari lautan Arktik sampai laut tropis, beberapa laut dalam, tetapi kebanyakan diperairan pantai; kadang-kadang merupakan pengganggu bagi perenang, seperti jelatang laut atau Chrysaora quinquecirrba di pantai atlantik.

B. Pembahasan
1. Morfologi
Bentuk seperti payung dengan warna putih atau bening, ukuran relatif besar. Memiliki tentakel untuk menjerat makanan masuk ke mulut. Memiliki dinding luar tubuh, dinding tubuh dalam, perut, organ kelamin dan mulut. Diameter tubuh berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm tetapi ada juga yang mencapai 60 cm.
2.  Anatomi
Memiliki saluran gastrovaskuler pada scyphomedusa terdiri atas mulut, manubrium, perut pusat, yang bercabang membentuk empat katup perut, masing-masing dibatasi sekatan yang disebut septum. Pada ujung septa terdapat filamen yang berisi nematosit dan sel perekat, serta pada sisi septa terdapat gonad. Sistem gastrodermis pada ordo semaeostomeae, misalnya Aurelia lebih rumit karena banyak cabang-cabangnya.
Sistem saraf tersusun seperti jala dan sinapik. Pusat saraf terletak dalam rhopalium yang berbentuk seperti tonjolan kecil di antara lappe dan berisi dua lubang indera. Gastrovaskular  merupakan rongga masuknya sel telur dan sperma dan keluar melalui mulut.
3. Habitat
Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik tawar maupun di air laut. Sebagian besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk polip.
4. KlasifikasiUbur-ubur (Aurelia aurita)
Kingdom : animalia
Filum : coelenterate
Klas : schyphozoa
Ordo : decapoda
Familia : aureliaceae
Genus : Aurelia
Spasies : Aurelia aurita (Anonim,2011)










BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah, bentuk Aurelia uarita seperti payung dengan warna putih atau bening, ukuran relatif besar. Memiliki tentakel untuk menjerat makanan masuk ke mulut. Memiliki dinding luar tubuh, dinding tubuh dalam, perut, organ kelamin dan mulut. Memiliki saluran gastrovaskuler pada scyphomedusa terdiri atas mulut, manubrium, perut pusat, yang bercabang membentuk empat katup perut, masing-masing dibatasi sekatan yang disebut septum. Pada ujung septa terdapat filamen yang berisi nematosit dan sel perekat, serta pada sisi septa terdapat gonad. Sistem gastrodermis pada ordo semaeostomeae, misalnya Aurelia lebih rumit karena banyak cabang-cabangnya. Klasifikasi ubur-ubur (Aurelia aurita);  kingdom  animalia, filum  coelenterate, kelas  schyphozoa, ordo  decapoda, familia aureliaceae, genus  Aurelia, spasies Aurelia aurita.

B.    Saran
Adapun saran untuk peraktikum ini adalah sebaiknya pada pengamatan ubur-ubur di jelaskan menggunakan ubur-ubur aslinya secara langsung.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Aurelia aurita. http://wikipedia.com/01/2010/html. (Diakses pada tanggal 27 Juni 2011).
Anonim, Coelenterata. http://gurungeblog.com/01/2010.html. (Diakses pada tanggal 27 Juni 2011).
Hala, Yusminah, dkk. Biologi Umum 2. UIN ALAUDDIN Makassar : Makassar. 2007.

Kimball, Jonh W. Biologi jilid 3.  Erlangga : Jakarta. 2006.
Suwignyo, Sugiarti, dkk, Avertebrata Air . Penebar Swadaya : Yogyakarta. 2005.
Tim Dosen, Penutun Praktikum zoology Invertebrata. Universitas Islam Negeri Alauddin: Makassar, 2011.

Contoh Laporan Annelida

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Filum annelida mencangkup berbeagai jenis cacing yang mempunyai ruas-ruas sejati, seperti nereis cacing tanah  dan lintah. Annelida berasal dari bahas latin annelus berarti bercincin kecil-kecil dan oidos berarti bentuk, karena bentuk cacing seperti sejumlah cincin kecil yang diuntai.
Cacing dari filum ini bersegmen, artinya tubuhnya terdiri atas satuan yang berulang-ulang. Meskipun beberapa struktur, seperti saluran pencernaan, terdapat di sepanjang tubuh cacing tersebut, tetapi yang lain seperti organ ekskresi berulang pada segmen demi segmen. Dari luar segmentasi ini tampak seperti rangkaian cincin.
Melalui percobaan ini kita akan mengamati lebih jauh mengenai filum Annelida. Mengamati struktur morfologi dan anatomi hewan yang termasuk anggota annelida, serta mencari tahu habitat dan susunan klasifikasinya.


B.    Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengamati struktur morfologi dan anatomi hewan yang termasuk anggota annelida, serta mencari tahu habitat dan susunan klasifikasinya.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Filum annelida mencangkup berbeagai jenis cacing yang mempunyai ruas-ruas sejati, seperti nereis cacing tanah  dan lintah. Annelida berasal dari bahas latin annelus berarti bercincin kecil-kecil dan oidos berarti bentuk, karena bentuk cacing seperti sejumlah cincin kecil yang diuntai.
Cacing dari filum ini bersegmen, artinya tubuhnya terdiri atas satuan yang berulang-ulang. Meskipun beberapa struktur, seperti saluran pencernaan, terdapat di sepanjang tubuh cacing tersebut, tetapi yang lain seperti organ ekskresi berulang pada segmen demi segmen. Dari luar segmentasi ini tampak seperti rangkaian cincin.
Tubuh Annelida bersegmen bundar memanjang atau tertekan dorsoventral. Memiliki alat gerak yang berupa bulu-bulu kaku (setae) pada setiap segmen. Polychaeta dengan tentakel pada kepalanya dan setae pada bagian tubuhnya yang menonjol ke lateral, atau lobi lateral yang disebut parapodia. Tubuh tertutupi oleh kutikula yang licin yang terletak di atas ephitelium  yang bersifat glanduler, sudah mempunyai rongga tubuh dan umumnya terbagi atas septa, saluran percernaan yang


lengkap, tubuler, memanjang sesuai dengan sumbu tubuh. Simetris cardiovasculare adalah sistem tertutup, pembulu-pembulu darah membujur, dengan cabang-cabang kecil (kapiler) pada tiap segmen (metamer); plasma darah mengandung hemoglobin. Respirasi dengan kulit, atau dengan branchia. Organ ekskresi terdiri atas sepasang nephridia pada tiap segmen. Sistem nervosum terdiri atas sepasang ganglia cerebrales pada ujung dorsal otak, yang berhunbungan dengan berkas saraf medio-ventral yang memanjang sepanjang tubuh, dengan ganglia pada tiap segmen; terdapat juga sel-sel tangoreceptor dan photoreceptor. Kebanyakan bersifat hermaprodit dan berkembang secara langsung atau bersifat gonochorostik dan perkembangan melalui stadium larva. Reproduksi dengan membentuk tunas terjadi pada beberapa spesies. 
Filum annelida terdiri atas tiga kelas, yaitu; kelas Polycharta, kelas Olygochaeta, dan kelas Hirudianae. Kelas Plychaeta tubuhnya jelas bersegmen-segmen, baik bagian luar maupun bagian dalam contohnya; Neanthes, Chartopterus, Arenicola, Spirobris, Srepula, Nereis. Kelas olygochaeta adalah meliputi cacing tanah dan beberapa spesies yang hidup di air tawar. Kelas Hirudinae, tubuh hirudinae pada keadaan diam atau istirahat berbentuk langsing atau oval dan mempipih ke arad dorsal, pada permukaan tubuhnya terdapat banyak lekukan-lekukan atau annuli, tidak terdapat setae (kecuali pada Acantobdella) atau parapoda; pada ujung anterior dan ujung posterior beberapa segmen mengalami perubahanbentuk alat penghisap, yaitu satu ujung anterior, terletak di sekitar mulut dan satu lagi di ujung posterior. 
Pada cacing yang sudah dewasa akan terjadi penebalan epidermis yang disebut klitelum. Alat ini dapat digunakan untuk kopulasi dan akan menghasilkan kelenjar-kelenjar yang membentuk lapisan lendir sangat kuat untuk membentuk kokon, yaitu tempat/ wadah telur yang telah dibuahi. Meskipun Annelida ini bersifat hemaprodit, tetapi pada saat terjadinya pembuahan harus dilakukan pada dua individu dengan saling memberikan sperma yang disimpan dalam reseptakulum seminis. Setelah selesai terjadinya perkawinan, maka kokon akan lepas dan berisi butir-butir telur yang telah dibuahi.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah :
Hari/Tanggal        : Senin, 27 Juni 2011
Pukul            : 13.00-15.00 Wita
Tempat        : Laboratorium Biologi Dasar Lantai I
              Fakultas Sains dan Teknologi
              Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
              Samata-Gowa.     
B.    Alat dan bahan
1.    Alat
    Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah papan bedah dan alat bedah.
2.    Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sepasang cacing tanah

C.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah :
1.    Menyiapkan alat seperti papan bedah dan alat bedah.
2.    Menyiapkan bahan yaitu cacing tanah.
3.    Meletakkan cacing pada papan bedah.
4.    Mengamati struktur tubuh cacing dan menggambarnya.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Pengamatan





B.    Pembahasan
1.    Morfologi
Tubuh Annelida bersegmen bundar memanjang atau tertekan dorsoventral. Memiliki alat gerak yang berupa bulu-bulu kaku (setae) pada setiap segmen. Polychaeta dengan tentakel pada kepalanya dan setae pada bagian tubuhnya yang menonjol ke lateral, atau lobi lateral yang disebut parapodia. Tubuh tertutupi oleh kutikula yang licin yang terletak di atas ephitelium  yang bersifat glanduler, sudah mempunyai rongga tubuh dan umumnya terbagi atas septa, saluran percernaan yang lengkap, tubuler, memanjang sesuai dengan sumbu tubuh.
2.    Anatomi
Tubuh tertutupi oleh kutikula yang licin yang terletak di atas ephitelium  yang bersifat glanduler, sudah mempunyai rongga tubuh dan umumnya terbagi atas septa, saluran percernaan yang lengkap, tubuler, memanjang sesuai dengan sumbu tubuh. Simetris cardiovasculare adalah sistem tertutup, pembulu-pembulu darah membujur, dengan cabang-cabang kecil (kapiler) pada tiap segmen (metamer); plasma darah mengandung hemoglobin. Respirasi dengan kulit, atau dengan branchia. Organ ekskresi terdiri atas sepasang nephridia pada tiap segmen. Sistem nervosum terdiri atas sepasang ganglia cerebrales pada ujung dorsal otak, yang berhunbungan dengan berkas saraf medio-ventral yang memanjang sepanjang tubuh, dengan ganglia pada tiap segmen; terdapat juga sel-sel tangoreceptor dan photoreceptor. Kebanyakan bersifat hermaprodit dan berkembang secara langsung atau bersifat gonochorostik dan perkembangan melalui stadium larva. Reproduksi dengan membentuk tunas terjadi pada beberapa spesies.
3.    Habitat
Cacing tanah (Lumbricus terrestris) banyak hidup di tanah berlumpur, basah dan lembab serta membuat lubang di tanah.
4.    Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas :Clitellata
Ordo : Haplotaxidia
Famili : Lumbricidae
Genus : Lumbricus
Spesie : Lumbricus terrestris (Anonim,2010)

BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah, morfologi Cacing tanah (Lumbricus terrestris) tubuh bersegmen bundar memanjang atau tertekan dorsoventral. Memiliki alat gerak yang berupa bulu-bulu kaku (setae) pada setiap segmen.  Anatomi cacing tanah sudah mempunyai rongga tubuh dan umumnya terbagi atas septa, saluran percernaan yang lengkap, tubuler. pembulu-pembulu darah membujur. Organ ekskresi terdiri atas sepasang nephridia pada tiap segmen. Sistem nervosum terdiri atas sepasang ganglia cerebrales pada ujung dorsal otak. Kebanyakan bersifat hermaprodit dan berkembang secara langsung. Cacing tanah (Lumbricus terrestris) banyak hidup di tanah berlumpur, basah dan lembab serta membuat lubang di tanah.

B.    Saran
Adapun saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya disediakan pula kelas lain dari filum Annelida. Penjelasan mengenai anatominya pun mesti diperlengkap pada saat praktikum oleh Asisten. Waktu praktikum juga sebaiknya diperpanjang.








DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Echinodermata. http://wikipedia.com/01/2010/html. (Diakses pada tanggal 27 Juni 2011).
Anonim, Bintang laut. http://alungrosy.blogspot.com/2009/01/pembahasan.html. (Daiakses pada tanggal 30 Juni 2011).
Hala, Yusminah, dkk. Biologi Umum 2.Alauddin Press: Makassar. 2007.

Kimball, Jonh W. Biologi jilid 3.  Erlangga : Jakarta. 2006.
Suwignyo, Sugiarti, dkk, Avertebrata Air 2. Penebar Swadaya : Yogyakarta. 2005.
Tim Dosen, Penutun Praktikum zoology Invertebrata. Universitas Islam Negeri Alauddin: Makassar, 2011.




   

Minggu, 17 Juli 2011

Contoh Laporan Artropoda

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Athropoda berasal dari bahasa yunani yaitu anthos, sendi dan podos, kaki oleh karena itu ciri-ciri utama hewan yang termasuk dalam filum ini adalah kaki yang tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini adalah terbanyak dibanding dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000 spesies. Contoh anggota filum ini antara kepiting, undang, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan fosil.  
Sejak tahun 1990 banyak ahli zoologi yang membagi kelompok Atropoda menjadi filum Onychophora, filum Trilobita, Filum Chelicerata, filum Uniramila, filum Crustacean. Pemisahan ini terutama berdasarkan perbedaan dalam hal struktur dan susunan kaki serta apendik yang lain, sebagaimana perbedaan embriologi dan anatomi dalamnya. Bahkan berdasarkan evolusinya, Crustacea dan Uniramia berasal dari kelompok nenek moyang bentuk cacing yang berbeda.

Melalui percobaan ini kita akan mengamati lebih jauh mengenai filum Athropoda. Mulai dari jenis-jenisnya, kehidupannya dan struktur tubuh morfologi dan anatomi organisme yang termasuk filum Athropoda.

B.    Tujuan
Mengamati hewan-hewan yang tergolong Arthropoda serta mendeskripsikan dan menyusunnya dalam suatu klasifikasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Athropoda berasal dari bahasa yunani yaitu anthos, sendi dan podos, kaki oleh karena itu ciri-ciri utama hewan yang termasuk dalam filum ini adalah kaki yang tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini adalah terbanyak dibanding dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000 spesies. Contoh anggota filum ini antara kepiting, undang, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan fosil.  
Sejak tahun 1990 banyak ahli zoologi yang membagi kelompok Atropoda menjadi filum Onychophora, filum Trilobita, Filum Chelicerata, filum Uniramila, filum Crustacean. Pemisahan ini terutama berdasarkan perbedaan dalam hal struktur dan susunan kaki serta apendik yang lain, sebagaimana perbedaan embriologi dan anatomi dalamnya. Bahkan berdasarkan evolusinya, Crustacea dan Uniramia berasal dari kelompok nenek moyang bentuk cacing yang berbeda.
Semua anggota filum ini mempunyai tubuh bersegmen yang terbungkus dalam suatu eksoskeleton (rangka luar) bersegmen yang kuat terdiri atas kitin, suatu polimer dari N-asetiglukoamin. Simetrinya bilateral dan jelas ditandai dengan

pasangan anggota tubuh bersegemen terletak sebelah menyebelah sepanjang sumbuh tengah. Pada semua athropoda yang hidup, anggota tubuh berbagai spesies memperlihatkan struktur dan fungsi yang sangat beraneka ragam. Di samping untuk lokomosi, anggota tubuh itu membantu dalam mendapatkan makanan, dalam pengindraan, dan sebagai senjata menyerang dan mempertahankan diri.
Tidak seperti annelida, segmen arthopoda dari depan kebelakang menunjukkan variasi yang besar dalam struktur. Segmen-segmen itu biasanya dibagi dalam tiga daerah utama; kepala, toraks, dan abdomen. Arthopoda mempunyai system peredaran yang dianggap “terbuka” karena darah (tidak sebagaimana halnya annelida) tidak selamanya berada dalam pembuluh darah. Bagian utama sistem saraf arthopoda, seperti pada annelida, terdapat sepanjang sisi ventral organisme tersebut.
Cirri-ciri umum yang dimiliki anggota filum Arthopoda adalah :
1.    Tubuhnya simetris bilateral, terdiri atas segmen-segmen yang saling berhubungan di bagian luar dan memiliki tiga lapisan germinal sehingga merupakan hewan tripoblastik.
2.    Tubuh memiliki kerangka luar dan dan dibedakan atas kepala, dada serta perut yang terpisah atau bergabung menjadi satu.
3.    Setiap segmen tubuh memiliki sepasang alat gerak atau tidak ada.
4.    Respirasi dengan menggunakan paru-paru buku, trakea, atau dengan insang. Pada spesies terrestrial bernapas menggunakan trakea atau pada Arachinida menggunakan paru-paru buku atau menggunakan keduanya.
5.    Ekskrsi dengan menggunakan tubulus Malphigi atau kelenjar koksal.
6.    Saluran pencernaan sudah lengkap, terdiri atas mulut, usus dan anus.
7.    System peredaran darah berupa peredaran darah terbuka beredar melalui jantung, organ dan jaringan, hemoesoel (sinus), ke jantung lagi.
8.    Sarafnya merupakan system saraf tangga tali.
9.    Berkelamin terpisah, fertilisasi terjadi secara internal, dan bersifat ovipar. Perkembangan individu baru terjadi secara langsung tau melalui stadium larva.
Filum arthopoda dibagi menjadi empat subfilum yaitu Trilobita, Chelicerata, Onychophora, Mandibulata. Semua anggota Trilibita sudah punah tetapi kemungkinan masih ada yang dapat dijumpai arthopoda primitif.


BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
   Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini  adalah sebagai berikut:
    Hari/Tanggal         :  Senin, 27 Juni 2011
Waktu         :  13.00 – 15.00 WITA
Tempat           : Laboratorium Biologi Dasar Lantai I
 Fakultas Sains dan Teknologi
 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
 Samata-Gowa.                                                                             
B.    Alat dan Bahan
1.    Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah papan seksi  dan alat bedah
2.    Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Udang (Panaeus monodon).



C.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah :
1.    Menyiapkan alat seperti papan seksi dan alat bedah.
2.    Menyiapkan bahan yaitu Udang (Panaeus monodon).
3.    Meletakkan udang pada papan bedah.
4.    Mengamati struktur tubuh udang, baik anatomi maupun morfologi dan menggambarnya.


Morfologi Udang

Anatomi Udang






B. Pembahasan
1.      Morfologi
Tubuh udang sebelah luar terdapat kutikula di mana kutikula di susun oleh pectin dan garam-garam mineral. Maka bila udang direbus warna berubah karena sifat dari basa menjadi asam. Struktur buku terdiri atas plat (lembaran) dorsal yang kompleks disebut tergum. Plat ventral transversal disebut sternum plat yang menggantung sebelah-menyebelah yang disebut pleura, plat antara pleura dan kaki di sebut epineura. Cephalothorax terdiri atas 13 ruas yang menjadi satu. Bagian ini disebut Carapace. Disebelah dorsal dari carapace terdapat satu lekukan yang melintang. Dibawahnya terdapat sepasang mata majemuk yang bertangkai, sedangkan mulut terletak disebelah ventral anpir dekat akhir posterior dari bagian kepala. Pada abdomen umumnya terdiri atas 6 buku yang diakhiri dengan bagian terminal yang disebut telson. Segmen pertama (buku ke 14) lebih kecil dari pada segmen yang lain (buku 15-19) yang merupakan buku yang sama.
2.        Anatomi
Dalam tubuh udang tedapat sistem alat yang khas yang terdapat pada hewan tingkat tinggi, rongga coelom sebagian besar terdiri oleh alat-alat reproduksi. Alat pencernaan makanan terdiri atas mulut, oesophagus, lambung yang terdiri dari cardiac dan pylorus, usus dan anus. Didalam lambung terdapat alat chitine yang berguna untuk mengilas makanan. Adapun makanan udang adalah udang-udang kecil gastropoda atau larva insect atau bahan-bahan lainnya bahan lainnya yang rapuh. Darah mempunyai cairan yang tidak berwarna dan mengandung sel amuboid dan corpuscular. Fungsi utama adalah sebagai alat pengangutan. Darah yang lepas dari arteri akan masuk ke rongga jaringan yang di sebut sinus-sinus. Alat ekskresi terdiri atas sepasang badan yang disebut kelenjar hijau yang terletak pada bagian ventral dari cephalothorax di muka oesophagus. Sistem saraf seperti cacing, sentralsnya terdiri atas gas ganglion yang disebut otak, dua circum penghubung oesophagus. Alat indera, amta udang adalah mata majemuk yang bertangkai terletak pada bagian rostrum. Secara normal udang adalah diocious, hanya dalam keadaan luar biasa mereka adalah hermaprodit. Alat reproduksi jantan berupa testis sedangkan alat reproduksi betina berupa ovarium.
3.        Habitat
Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai, laut, atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan.






4.        Klasifikasi
Adapun klasifikasi udang (Paneus .sp) yaitu :
Kingdom                    : Animalia
Filum                         : Arthropoda
Class                          : Crustacea
Ordo                        : Decapoda
Famili                      : Penaeidae
Genus                      : Penaeus
Species                    : Paneus .sp (Anonim, 2010).

BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
           Adapun kesimpulan pada praktikum ini yaitu salah satu hewan yang tergolong arthropoda adalah udang (Paneus .sp), tubuh udang sebelah luar terdapat kutikula di mana kutikula di susun oleh pectin dan garam-garam mineral. Maka bila udang direbus warna berubah karena sifat dari basa menjadi asam. Anatomi udang dalam tubuh udang tedapat sistem alat yang khas yang terdapat pada hewan tingkat tinggi, rongga coelom sebagian besar terdiri oleh alat-alat reproduksi. Alat pencernaan makanan terdiri atas mulut, oesophagus, lambung yang terdiri dari cardiac dan pylorus, usus dan anus. Alat ekskresi terdiri atas sepasang badan yang. Sistem saraf seperti cacing, Alat indera adalah mata majemuk. Alat reproduksi jantan berupa testis sedangkan alat reproduksi betina berupa ovarium.

B.       Saran
Adapun saran pada praktikum ini yaitu sebaiknya sebelum memasuki laboratorium praktikan telah menyiapkan semua bahan yang akan digunakan sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar.

Contoh laporan Molusca

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata.
Dengan kira-kira 100.000 spesies yang masih hidup, pada waktu ini filum molluska termasuk filum hewan yang sangat penting. Terdiri atas hewan bertubuh lunak, tidak bersegmen (kecuali  satu), banyak di antaranya dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (kalsium karbonat).
Melalui percobaan ini kita akan mengamati lebih jauh mengenai filum Molusca. Mengamati lebih dalam tentang jenis-jenisnya. Bentuk luar maupun dalam akan kita amati melalui percobaan ini. Morfologi dan anatominya yang berbeda-beda tiap kelas yang termasuk filum moluscajuga akan dibahas.



B.    Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati morfologi dan anatomi dari spesies-spesies yang mewakili Molusca serta mendeskripsikan dan menyusun klasifikasinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mollusca berasal dari bahasa Romawi molis yang berarti lunak. Jenis molusca yang umum dikenal ialah siput, kerang dan cumi-cumi. Molusca hidup sejak periode Cambrian, terdapat lebih dari 100.000 spesies hidup dan 35.000 spesies fosil. Kebanyakan dijumpai di laut dangkal, beberapa pada kedalaman 7.000 m, beberapa di air payau, air tawar dan darat.
Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi.Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur.Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi raksasa.
Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama. Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak.Massa viseral merupakan kumpulansebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang


berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang. Sistem saraf mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang melebar. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Ada pula yang memiliki rahang dan lidah pada mollusca tertentu.Lidah bergigi yang melengkung kebelakang disebut radula. Radula berfungsi untuk melumat makanan. Mollusca yang hidup di air bernapas dengan insang. Sedangkan yang hidup di darat tidak memiliki insang. Pertukaran udara mollusca dilakukan di rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi sebagai paru-paru. Organ ekskresinya berupa seoasang nefridia yang berperan sebagai ginjal.
Sebagian besar moluska hidup di air laut tetapi banyak yang ditemukan di air tawar dan beberapa di darat. Filum ini dibagi atas tiga kelas besar dan beberapa kelas keci. Kelas dari filum moluska yaitu Bivalvia, Gastropoda, Cephalopoda, Scaphoda, Polyplacophora, Monoplacophora.
Kelas Bivalvia contohnya kijing, kerang, kepah, remis, dan sebagainya, umunya disebut bivalvia karena tubuh dilindungi oleh dua cangkang. Hewan bivalvia mempunyai bentuk simetris bilateral, tetapi dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan lokomosi yang cepat. Hewan ini kalaupun bergerak ialah dengan cara menjulurkan satu kaki tebal yang berotot di antara kedua kutub. Kelas Gastropoda, kelas besar moluska yang kedua meliputi semua keong dan kerabatnya yang tidak bercangkang yaitu siput telanjang. Kelas Cephalopoda berbagai jenis spesies gurita dan cumi-cumi dan juga nautilus beruang termasuk dalam kelas Cephalopoda. Kelas Scaphoda merupakan kelas kecil moluska laut yang menghabiskan kehidupan dewasanya terbenam di dalam pasir. Kelas polyplacophora, kinton adalah organism lamban yang hidup secara tidak menyolok di pantai laut. Kelas Monoplacophora kelas ini disangka telah punah selama berjuta-juta tahun dan barulah didirikan lagi sejak Neopilina ditemukan pada tahun 1952.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
   Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini  adalah sebagai berikut:
   Hari/Tanggal       :   Kamis, 23 Juni 2011
   Waktu            :   13.00 – 15.00 WITA
  Tempat            :  Laboratorium Biologi Dasar Lantai I
                             Fakultas Sains dan Teknologi
                             Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                             Samata-Gowa.  
B.    Alat dan Bahan  
1.    Alat
Adapun alat yang digunakan dalam  praktikum ini adalah papan bedah dan alat bedah.
2.    Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cumi-cumi (Loligo sp).


C.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja praktikum ini adalah :
1.    Menyiapkan alat bedah dan papan bedah
2.    Meletakkan alat ke meja praktikum
3.    Menyiapkan bahan praktikum Haliclona oculata dan meletakkannya pada papan bedah.
4.    Mengamati struktur morfologi dan anatominya
5.    Menggambar hasil pengamatan




Morfologi cumi-cumi (Loligo sp)
Anatomi cumi-cumi (Loligo sp)



B.    Pembahasan
Adapun pembahasa tentang hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :  
1.    Morfologi
Tubuh cumi relatif panjang, langsing dan bagian belakang meruncing (rhomboidal). Tubuh cumi-cumi dibedakan atas kepala, leher dan badan. Kepala terletak di bagaian ventral serta memiliki dua mata yang besar dan tidak berkelopak, berfungsi sebagai alat untuk melihat. Leher pendek dan badan berbentuk tabung dengan sirip lateral berbentuk segitiga di setiap sisinya. Pada kepala terdapat mulut yang dikelilingi oleh empat pasang tangan dan sepasang tentakel (8 tangan dan 2 tentakel panjang). Pada permukaan dalam tangan dan tentakel terdapat batil isap yang berbentuk mangkok terletak pada ujung tentakel. Gigi khitin atau kait terletak pada tepi batil isap untuk memperkuat melekatnya mangsa yang diperolehnya. Di posterior kepala terdapat sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ia ingin bergerak ke belakang, sifon akan menyemburkan air ke arah depan, sehingga tubuhnya bertolak ke belakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya. Di bagian perut, tepatnya sebelah sifon akan ditemukan cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen melanin. Fungsinya untuk melindungi diri. Jika dalam keadaan bahaya cumi-cumi menyemprotkan tinta hitam ke luar sehingga air menjadi keruh. Pada saat itu cumi-cumi dapat meloloskan diri dari lawan. Sedangkan pada anterior badan terdapat endoskeleton.
Sistem skeletal terdiri atas endoskeleton yang berbentuk pen atau bulu dan beberapa tulang rawan. Beberapa tulang rawan tersebut membentuk artikulasi untuk sifon dan mantel, yang lain melindungi ganglia dan menyokong mata. Endoskeleton yang berbentuk pen tersebut homolog dengan cangkang pada Mollusca lain. Pada Loligo endoskeleton tersebut (cangkang) terletak di dalam rongga mantel berwarna putih transparan, tipis dan terbuat dari bahan kitin. Mantel berwarna putih dengan bintik-bintik merah ungu sampai kehitaman dan diselubungi selaput tipis berlendir.
2.    Anatomi
secara anatomi, organ respirasi cumi terdiri atas sepasang insang berbentuk bulu yang terdapat di rongga mantel. Prosesnya, air keluar masuk melalui tepi lingkaran ujung badan. Kontraksi dan relaksasi mantel menyebabkan sirkulasi air dalam rongga mantel sehingga terjadi pertukaran gas. Filamen insang disuplai oleh kapiler-kapiler darah. Darah mengandung pigmen repirasi yaitu hemocyanin. Sistem pembuluh darah berkembang baik dan sistem peredaran darahnya terdiri dari jantung sistematik, aorta, dan arteri bersifat ganda dan tertutup, jadi darah seluruhnya mengalir di dalam pembuluh darah.
Alat ekskresinya berupa dua ginjal atau nefridia berbentuk segitiga berwarna putih yang berfungsi menapis cairan dari ruang perikardium dan membuangnya ke dalam rongga mantel melalui lubang yang terletak di sisi usus.
Organ pencernaan terdiri atas mulut yang mengandung radula dan dua rahang yang terbuat dari kitin dan berbentuk seperti paruh burung betet. Gerak kedua rahang tersebut dikarenakan kontraksi otot. Selanjutnya makanan di bawa ke esofagus, lambung, usus, rektum dan anus yang bermuara dalam rongga mantel. Pencernaan dilengkapi dengan dua kelenjar ludah (di masa bukal) dan di dekat ujung anterior hati, digunakan untuk mensekresikan racun di daerah rahang. Selain itu juga memiliki kelenjar pencernaan yaitu kelenjar hati pada anterior dan pankreas di posterior. Makanan cumi-cumi berupa ikan, udang dan Mollusca lainnya.
Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion dan saraf. Ganglion serebral, pedal, viseral, suprabukal, infrabukal dan optik terletak di kepala. Indera sensoris juga sangat berkembang dan dilengkapi dengan mata, dua statosis pada masing-masing lateral kepala sebagai organ keseimbangan dan organ pembau.
Sistem reproduksi cumi-cumi dilakukan secara kawin. Hewan ini umumnya memijah satu kali dan biasanya mati setelah melakukan reproduksi. Alat kelaminnya terpisah (diosius), masing-masing alat kelamin terdapat di dekat ujung rongga mantel dengan saluran yang terbuka ke arah corong sifon. Pada saat kopulasi spermatofor jantan dimasukkan ke dalam rongga mantel betina dengan pertolongan hektokotikulus (modifikasi ujung tangan kiri ke-5 jantan) yang berbentuk seperti sisir. Cumi-cumi betina menghasilkan telur yang akan dibuahi di dalam rongga mentel. Kemudian, telur yang sudah dibuahi dibungkus dengan kapsul dari bahan gelatin,
panjang dan berlubang pada ujung-ujungnya. Telur yang menetas menghasilkan cumi-cumi muda berukuran kecil. Hewan ini tidak memiliki stadium larva, embrio setelah lepas menjadi cumi kecil yang dapat berenang bebas
3.     Habitat
Habitat cumi-cumi banyak ditemukan di air laut. Variasi temperature dan tinggi di air laut, penetrasi cahaya matahari tinggi, Ekosistem tidak terpegaruh iklim dan cuaca alam sekitar.
4.     Klasifikasi
Kingdom    :    Animalia
Phylum    :    Mollusca
Kelas    :    Chepalopoda
Ordo        :    Decapoda
Family    :    Loliginidae
Genus    :    Loligo
Spesies     :     Loligo indica (Satrio,2011)



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah,struktur morfologi spesies yang mewakili kelas Molusca yaitu Cumi-cumi (Laligo indica) tubuh  relatif panjang, langsing dan bagian belakang meruncing. Secara anatomi, organ respirasi cumi terdiri atas sepasang insang berbentuk bulu yang terdapat di rongga mantel. Prosesnya, air keluar masuk melalui tepi lingkaran ujung badan. Kontraksi dan relaksasi mantel menyebabkan sirkulasi air dalam rongga mantel sehingga terjadi pertukaran gas. Filamen insang disuplai oleh kapiler-kapiler darah. Darah mengandung pigmen repirasi yaitu hemocyanin. Sistem pembuluh darah berkembang baik dan sistem peredaran darahnya terdiri dari jantung sistematik, aorta, dan arteri bersifat ganda dan tertutup, jadi darah seluruhnya mengalir di dalam pembuluh darah. Cumi-cumi temasuk kelas Chepalopoda, Ordo Decapoda, Family Loliginidae,  Genus Loligo, Spesies  Loligo indica.

B.    Saran
Adapun saran untuk percobaan kali ini adalah sebaiknya bahan diperlengkap. Semua perwakilan dari kelas filum sebaiknya disediakan bahan.

Sabtu, 16 Juli 2011

Pantai BontoBahari

Kegiatan Praktikum lapangan Mahasiswa Biologi semester II. Bertempat di pantai Kabupaten Bulukumba Kecamatan Bontobahari Kelurahan Tanah lemo





Foto ini diambil pada pukul 17.00 tepatnya di bibir pantai. Terlihat air sudah surut.
Pasang laut adalah naik atau turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari. Ada tiga sumber gaya yang saling berinteraksi: laut, matahari, dan bulan. Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang, sehingga perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi pantai. Wilayah pantai yang terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang surut, disebut mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas.


Periode pasang laut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Panjang periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit. Rumput laut terlihat di mana-mana, hewan laut banyak terjebak. Kepiting banyak bersembunyi dalam lubang yang mereka buat pada pasir putih.



Pada praktikum lapangan, selain meneliti zoologi dari hewan yang termasuk invertebrata, peserta praktikum juga mengukur kadar garam air laut pantai bontobahari dengan menggunakan alat ukur yang disebut Salinitas. Bentuknya seperti termometer, memiliki skala dari 0-100. Cara menggunakannya sederhana, cukup mencemplungkannya ke air laut dan benda itu akan mengapung. Lihat angka yang ditunjukkan pada permukaan air laut.





Suasana Praktikum, kami mencari spesies laut yang banyak di pantai. Terlihat peserta praktikum sibuk dengan mencari spesies laut yang termasuk hewan Invertebrata.





Ini adalah gambar ikan hiu yang terdampar.





Pasir putih yang lembut kering tak tersapuh air laut. Penghuni laut seperti bintang laut, bulu babi, kepiting, serang, terlihat jelas.






Panorama pantai pada saat matahari mulai tenggelam. Para nelayan tidak bisa berangkat sebelum air laut mulai kembali naik karena banyak kapal terjebak pada pasir pantai yang surut.













Panorama Tanjung Bira



Bira, Tanjung Bira. Beberapa hari yang lalu saya membaca status di Fb salah satu teman yang mengekspresikan kekagumannya pada tempat wisata itu. Dari statusnya sie luar biasa sekali, ia bagai penyair yang baru melihat keindahan surgawi ckckck, statusnya itu bak puisi heheh Lebay'. Saya jadi penasaran setelah membaca statusnya, belum perna saya berkunjung ke sana. Beberapa dari cerita yang pernah saya dengar pantai tanjung bira memang pantas jadi salah satu tempat wisata favorit, banyak orang yang ingin ke sana melihat pantai yang satu ini, bahkan yang sudah ke sana masih tertarik untuk berkunjung kembali.


Terletak di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari,  Kabupaten Bulukumba. Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari  Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar  ke Kota Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa mobil Kijang, Panther atau Innova dengan tarif sebesar Rp. 35.000,-. Selanjutnya,  dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil  pete-pete (mikrolet) dengan tarif berkisar antara Rp. 8.000,- sampai – Rp.  10.000,-. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 –  3,5 jam.



Pemandangan di dekat bibir pantai sangat asik...tebing-tebing besarnya buat pantai ini tambah indah. Banyak pengunjung berteduh di bawah tebing untuk menikmati keindahan pemandangan Tanjung Bira. Di Tanjung Bira yang suhunya panas dan mataharinya yang terik cocok banget buat bule berjemur, tapi buat pribumi seperti saya nga perlu berjemur lagi heheh. Tanjung bira terkenal dengan pantai pasir putihnya yang cantik dan menyenangkan. Airnya jernih, baik untuk tempat berenang dan berjemur. Disini kita dapat menikmati matahari terbit dan terbenam dengan cahayanya yang berkilau nenbersit pada hamparan pasir putih sepanjang puluhan kilometer.



Warga disekitar lokasi Tanjung Bira sangat menjaga ekosistem yang ada di pantai. Kebersihannya sangat dijaga, namun menurut saya lokasi Tanjung Bira masih perlu dikembangkan karena masih banyak titik-titik lokasi yang belum terawat dan diperbaiki. Rumah adat masih kental terasa di tanjung bira. Arsitektur rumah panggung khas Sulawesi Selatan masih dijaga betul oleh pemilik restoran dan penginapannya. tanjung Bira sudah lama jadi lokasi wisata, namun masih tertinggal jauh dari lokasi-lokasi wisata yang ada di Indonesia, padahal Tanjung Bira tidak kalah bagusnya dengan pantai lain.



Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih  yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Pantai ini termasuk pantai yang  bersih, tertata rapi, dan air lautnya jernih. Keindahan dan kenyamanan pantai ini terkenal hingga ke mancanegara. Turis-turis asing dari berbagai negara banyak yang berkunjung ke tempat ini untuk berlibur. banyak Turis yang bermalam hingga seminggu di sana. Seorang Turis dari Jerman sempat bercengkrama dengan teman saya mengaku sudah sebulan ada di pulau selayar dekat Tanjung Bira. Ia mengaku sangat senang berada di sana.



Biaya tiket masuk ke lokasi Pantai Tanjung  Bira sebesar Rp. 5.000,-. Ada harga spesial buat yang datang dengan rombongan.

Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel dengan tarif mulai dari Rp. 100.000,- hingga Rp. 600.000,-  per hari. Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkling dengan tarif Rp. 30.000,-. Bagi pengunjung yang selesai berenang di pantai,  disediakan kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut  yang masih lengket di badan. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor dengan tarif Rp. 65.000,-. Di kawasan pantai  juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin berwisata selam ke Pulau Selayar.



Pantai Tanjung Bira sangat indah dan  memukau dengan pasir putihnya yang lembut seperti tepung terigu. Di lokasi,  para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving dan snorkling. Para pengunjung juga dapat menyaksikan  matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati  keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau  Kambing. Ini pengalaman yang sangat menarik bagi saya bersama rombongan Praktikum Lapangan Zoologi Invertebrata Biologi UIN Alauddin Makassar. berharap suatu hari bisa kesana lagi dan bisa berkunjung ke Pulau Selayar.



Sabtu, 09 Juli 2011

Isap Asap Sentral

Kemarin, saya dan adik  pergi untuk membeli perlengkapan persiapan masuk sekolahnya. Kami yang biasanya membeli perlengkapan di Pasar Sentral, sekarang beralih ke tempat lain. Setelah tragedi kebakaran sentral yang terjadi pada tanggal 28 juni yang menghanguskan sejumlah kios  dalam gedung. Kini mereka harus merasakan pedih, setelah harapan bulan ramadhan yang  ramai pembeli. Walau kami telah merencanakan  pindah ke tempat lain untuk membeli kebutuhan sekolah, saya tetap ingin melihat keadaan Pasar Sentral pasca tragedi kebakaran dan alhasil, setelah melihatnya hati saya merasa meringis melihat keadaannya. Terlihat wajah pedagang setelah mengalami musibah, mereka tetap tegar dan mencoba memulainya kembali dengan kios-kios dadakan. Tidak plong rasanya bila saya tidak menanyakan sesuatu pada salah satu korban. Saya berisiatif  membeli jilbab, ternyata penjualnya lebih dahulu curhat sebelum ku tanyai. "sebentar lagi gedung sbelah ini akan ikut terbakar, hingga semuanya rata terbakar" curhat pedagang jilbab dengan tersenyum meringis. Isu itu sudah menakuti semua pemilik kios. Sontak dalam hati saya begitu kecewa pada penguasa negeri ini. Mereka lebih mementingkan kepentingannya dengan saling merangkul bersama pengusaha. Setelah melihat keadaan sentral, saya harap mereka tegar dan ini puisi untuk semua orang
untuk sentral...

Isap Asap Sentral

Kelam sedih
Hanya warna mendung terlihat
Asap debu sisa puingnya bakar hati penghuninya
Terpintas kebahagiaan
Menyambut bulan mulia
Namun...
Asap terlebih dahulu datang dbanding cahayanya
Mereka mengais puing-puing benih ramadhan
Semua terelakkan..
Dengan kolusi, korupsi bagai polusi
Sesakkan nafas mereka
Kini sentral kembali kenang masa lalu
Melapak dan setapak menguatkan niat
Harapan menghawatirkan
Harapan yang tak lama
Tersanding dengan harapan para pengusaha dan penguasa
Dengan harapan megahnya...

Terima Kasih